Undang-Undang CLARITY Terhenti: Tipuan "Penegakan Kosong" Klausul Etika
**Ringkasan Artikel: CLARITY Bill Mandek, Isu Klausa Etika dan "Penegakan Hukum Kosong"**
CLARITY Bill, undang-undang kripto yang didorong oleh Donald Trump, menemui jalan buntu di Senat AS. Penyebab utamanya adalah perselisihan antara Partai Demokrat dan Republik mengenai **otoritas penegakan klausa etika** baru dalam rancangan tersebut.
Klausa etika melarang pejabat federal tinggi, termasuk presiden dan wakil presiden, untuk memegang kepentingan pribadi dalam aset kripto selama masa jabatan. Namun, kedua pihak berselisih tentang siapa yang harus menegakkannya:
* **Partai Republik** menginginkan Departemen Kehakiman (DoJ) federal.
* **Partai Demokrat** menuntut penegakan oleh Jaksa Agung negara bagian, menganggap opsi DoJ tidak serius karena calon Jaksa Agung yang diajukan Trump adalah mantan pengacara pribadinya yang menghasilkan miliaran dari kripto.
Kebuntuan ini mendinginkan sentimen pasar yang sempat memanas, menyebabkan saham terkait kripto seperti COIN terkoreksi setelah sebelumnya melonjak. Namun, **aliran masuk dana ke ETF Bitcoin tetap kuat**, mencatat rekor terbaik sejak Mei.
Perubahan lain dalam rancangan bill mencakup perlindungan untuk pengembang non-kustodian, hak self-custody, aturan untuk stablecoin, dan ketentuan kebangkrutan yang melindungi aset nasabah (respons terhadap kasus FTX). Waktu sangat mendesak, dengan pemungutan suara di Senat ditargetkan sebelum masa reses awal Agustus.
Artikel juga membahas topik terkait lainnya:
* **Laporan Helium Q2:** Jaringan mengalami "reset harga" dengan perubahan model insentif, beralih dari deflasi ke net emission.
* **Ramp & Stablecoin:** Platform pembayaran Ramp menambahkan jalur pembayaran stablecoin, memanfaatkan penyelesaian 24/7 untuk bisnis.
* **Perdebatan Stablecoin:** Dibedakan antara stablecoin untuk pembayaran ("uang yang mengalir") dan untuk tabungan ("uang yang menghasilkan"), dengan Sky memposisikan produknya di kategori后者.
marsbit07/24 07:44