DBS Bank запускает пилотный проект казначейских токенов на основе блокчейна

cryptonews.ruDipublikasikan tanggal 2023-11-13Terakhir diperbarui pada 2024-08-13

Многонациональная банковская и финансовая компания DBS Bank совместно работала с поставщиком цифровых платежей Ant International над новым решением по управлению казначейством и ликвидностью на основе блокчейна. 13 августа DBS Bank объявил о пилотном запуске токенов DBS Treasury, которые Ant International будет использовать для мгновенного и мультивалютного управления казначейством и ликвидностью.

Новые токены DBS Treasury, которые будут использоваться Ant International, существуют на разрешенном блокчейне DBS для ее субъектов на нескольких рынках. Разрешенные блокчейны, также называемые «частными блокчейнами», представляют собой сети со слоем контроля доступа. Это добавляет механизм безопасности, который позволяет участникам блокчейна иметь только определенные уровни предварительно одобренных полномочий. Пользователям необходимо разрешение от владельца сети, чтобы присоединиться к сети. Хотя разрешенные блокчейны используют технологию распределенного реестра (DLT), они лишь частично децентрализованы.

По данным DBS, его разрешенный блокчейн совместим с виртуальной машиной Ethereum (EVM) и интегрирован с основным платежным механизмом банка. Эта разработка повышает расширяемость и совместимость системы с различными отраслевыми платежными инфраструктурами, подключенными к DBS. Сингапурский банк также отметил, что блокчейн был интегрирован с платформой управления казначейством Ant International, Whale. Это позволяет компании управлять своей внутригрупповой ликвидностью без перебоев, что, по мнению DBS, оптимизирует рабочий процесс и прозрачность.

Изображение: Bitcoinist

Bacaan Terkait

Valuasi Terbalik Terjadi, Perusahaan Perbendaharaan Bitcoin Alami Krisis Kepercayaan

**Inti Artikel: Perusahaan Perbendaharaan Bitcoin Alami Krisis Kepercayaan, Valuasi Terbalik Muncul** Selama dua tahun terakhir, saham perusahaan yang menambah holding Bitcoin di treasuri mereka langsung naik. Namun, logika pasar kini berubah total. Investor tidak lagi hanya melihat berita pembelian besar, tetapi dengan cermat memeriksa setiap transaksi pendanaan, menghitung pengenceran ekuitas, dividen saham preferen, bunga utang, dan cadangan kas untuk menilai apakah pendanaan benar-benar meningkatkan bagian Bitcoin per saham bagi pemegang saham lama. Indikator kunci pergeseran ini adalah kontraksi **"modified Net Asset Value" (mNAV)** — rasio valuasi pasar perusahaan terhadap nilai total Bitcoin yang dipegang. **Metaplanet**, entitas holding Bitcoin perusahaan terbesar di Asia, kini memiliki mNAV hanya 0.9x, artinya valuasi pasarnya lebih rendah dari nilai Bitcoin di neracanya. Sahamnya turun ~47% YTD. CEO Simon Gerovich menyatakan bahwa jika mNAV jatuh di bawah 1.0x, perusahaan akan fokus pada buyback saham dan berhenti menerbitkan saham biasa baru. Pelopor strategi treasuri Bitcoin, **MicroStrategy**, masih mempertahankan premium valuasi bahkan setelah memperhitungkan saham preferen dan utangnya. Namun, bagian Bitcoin per saham bagi pemegang saham biasa terus terdilusi. Pendanaan terbarunya melalui penjualan saham biasa sebagian besar digunakan untuk menambah cadangan dividen saham preferen, bukan membeli Bitcoin dalam jumlah besar. Di Eropa, perusahaan seperti **Capital B** (Prancis) dan **BTC AB** (Swedia) mengadopsi model serupa, mencari pendanaan besar dengan struktur modal kompleks (saham preferen dengan dividen tetap) sementara aset dasar Bitcoin mereka relatif kecil. Mereka berharap nilai Bitcoin yang dibeli nanti dapat menutupi semua biaya dari pengenceran dan dividen. Perubahan logika pasar didorong oleh meluasnya **Bitcoin ETF spot**, yang menawarkan eksposur Bitcoin yang bersih dan berbiaya rendah, menghilangkan kelangkaan saham treasuri Bitcoin sebagai cara tidak langsung untuk memegang aset kripto tersebut. Perusahaan treasuri kini harus membuktikan nilai tambah mereka melalui keuntungan leverage, dividen stabil, atau operasi pasar modal yang efisien. Risiko utama bagi sektor ini adalah terputusnya siklus pendanaan. Jika perusahaan tidak dapat menerbitkan saham di atas nilai aset bersihnya, mereka kehilangan cara untuk terus membeli Bitcoin, sementara masih harus membayar dividen dan bunga. Pilihan yang tersisa — pengenceran lebih lanjut, meminjamkan Bitcoin, atau menjual aset — semuanya berisiko. Pemenang di fase berikutnya adalah perusahaan yang dapat membuktikan bahwa setiap putaran pendanaan meningkatkan kepemilikan Bitcoin *per saham* bagi pemegang saham biasa. Pasar kini mulai menghitung dengan tepat.

Foresight News8m yang lalu

Valuasi Terbalik Terjadi, Perusahaan Perbendaharaan Bitcoin Alami Krisis Kepercayaan

Foresight News8m yang lalu

Trading

Spot
活动图片