# Artikel Terkait Wall Street

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "Wall Street", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

Anak Muda Kelahiran 2000an yang Paling Booming di Wall Street

“Hanya karena aku lebih awal, bukan berarti aku salah.” Kalimat ini dari film “The Big Short” menggambarkan dengan tepat Leopold Aschenbrenner, seorang manajer dana lindung nilai termuda di Wall Street. Pada 2024, di usianya yang baru 23 tahun, Leopold dipecat oleh OpenAI karena tuduhan kebocoran informasi. Alih-alih patah semangat, ia justru mendirikan dana lindung nilai bernama Situational Awareness LP. Berbeda dengan tren pasar yang berfokus pada chip AI, ia justru memilih untuk berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur pendukung AI yang ‘membosankan’ seperti pasokan listrik, pusat data, dan jaringan energi. Hasilnya spektakuler. Hingga kuartal pertama 2026, nilai portofolio dananya telah melonjak menjadi $13,7 miliar dari hanya $255 juta di akhir 2024. Ia berhasil karena melihat masa depan AI dibatasi oleh hambatan fisik, sehingga ia memilih untuk berinvestasi pada hambatan itu sendiri. Portofolionya unik: ia menggunakan opsi jual (put option) senilai miliaran dolar untuk meng-hedge saham-saham teknologi dan semikonduktor panas seperti NVIDIA dan AMD. Sementara itu, fokus investasi utamanya adalah pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang bahan bakar bersih seperti Bloom Energy, serta perusahaan pusat data dan penambangan kripto yang memiliki akses ke lahan dan listrik berlimpah. Satu pengecualian adalah saham SanDisk, yang justru dibeli dan diberi opsi beli (call option). Saham SanDisk kemudian meroket sekitar 160% pada kuartal kedua 2026. Kejelian Leopold terbukti benar. Era AI kini memicu ‘demam’ infrastruktur besar-besaran. Raksasa teknologi seperti Amazon, Alphabet, dan Meta meningkatkan belanja modal mereka secara drastis untuk membangun pusat data baru. Kebutuhan global akan listrik untuk pusat data AI diprediksi akan melampaui konsumsi listrik seluruh Jepang pada 2030. Demikian pula dengan permintaan akan komponen pendukung seperti modul optik dan serat optik yang melonjak. Kisah Leopold mengajarkan bahwa di balik masa depan AI yang canggih dan ‘ringan’, terdapat pondasi yang ‘berat’ dan ‘bisu’: listrik, tanah, chip, jaringan, dan sistem pendingin. Masa depan yang hebat selalu tumbuh dari aset-aset yang tampak diam ini.

marsbit05/31 07:56

Anak Muda Kelahiran 2000an yang Paling Booming di Wall Street

marsbit05/31 07:56

Wall Street Mengambil Alih Bitcoin dan Stablecoin, Tapi Peluang Nyata Untung bagi Investor Ritel Ada di Mana?

Analisis menyoroti dominasi Wall Street atas Bitcoin dan stablecoin, dengan ETF Bitcoin menarik miliaran dolar. Era mendapatkan keuntungan 100x dari altcoin acak telah berakhir secara struktural. Sementara itu, sektor seperti GameFi, NFT, dan meme coin mengalami penurunan karena masalah desain fundamental atau kehabisan pengguna baru. Peluang nyata bagi investor ritel saat ini justru terletak di tiga area: 1. **Prediksi Pasar:** Platform seperti Polymarket mengalami pertumbuhan eksplosif (21x dalam setahun) dengan basis pengguna ritel asli yang aktif, menawarkan utilitas di luar sekadar perdagangan. 2. **Hasil DeFi yang Stabil:** Imbal hasil seperti staking cair (4-8% APY) dan yield stablecoin teregulasi (5-8%) menawarkan pendapatan yang lebih dapat diandalkan dan berkelanjutan dibandingkan "farm" berisiko tinggi di masa lalu. 3. **Altcoin Pilihan:** Jika Bitcoin menembus rekor baru, aset dengan pengguna nyata di ekosistem seperti Ethereum, Base, dan Solana, serta proyek AI & DePIN yang solid, memiliki potensi. Penting untuk memilih secara selektif. Skenario paling mungkin untuk 6-12 bulan ke depan adalah pasar sideways, di mana pemilihan aset menjadi lebih kritis daripada tren pasar luas. Kesimpulan utamanya adalah pasar telah matang: peluang besar masih ada, tetapi memerlukan pemahaman mendalam dan fokus pada sektor dengan pertumbuhan riil dan utilitas nyata, bukan spekulasi buta.

marsbit05/27 13:01

Wall Street Mengambil Alih Bitcoin dan Stablecoin, Tapi Peluang Nyata Untung bagi Investor Ritel Ada di Mana?

marsbit05/27 13:01

Raksasa Wall Street Berebut GPU Futures, Pasar Kripto Sudah Mulai Lebih Dulu

Wall Street raksasa seperti CME Group dan ICE bersaing ketat meluncurkan kontrak berjangka (futures) untuk GPU, menandai dimulainya era finansialisasi aset komputasi AI. Mereka berupaya menjadikan daya komputasi sebagai komoditas makro yang dapat diperdagangkan, dilindung nilai, dan dijadikan spekulasi. ICE bekerja sama dengan Ornn meluncurkan futures berbasis indeks OCPI yang mencakup GPU kelas enterprise (seperti H100) hingga konsumen high-end (seperti RTX 5090), menargetkan harga untuk seluruh spektrum komputasi. Sementara itu, CME, bekerja sama dengan Silicon Data, fokus pada kontrak futures untuk indeks sewa H100 dengan penyelesaian tunai, memberikan alat lindung nilai bagi penyedia layanan cloud. Latar belakang persaingan ini adalah pasar komputasi yang tidak stabil, mahal, dan dikuasai oleh raksasa cloud. Futures diharapkan dapat membantu menstabilkan harga dan mengelola risiko. Namun, tantangan seperti siklus hidup perangkat keras yang pendek, konsentrasi pasokan, dan potensi manipulasi harga tetap ada. Sementara Wall Street menunggu persetujuan regulator, pasar kripto telah bergerak lebih cepat. Platform seperti Architect Financial dan kemungkinan pertukaran terdesentralisasi (DeFi) telah menawarkan produk seperti kontrak perpetual yang terkait dengan indeks komputasi, memanfaatkan kelincahan dan inovasi tanpa izin. Meski berisiko tinggi karena volatilitas dan sumber data yang mungkin rentan, langkah-langkah ini menunjukkan konvergensi yang semakin dalam antara infrastruktur AI dan sistem keuangan global.

marsbit05/22 07:45

Raksasa Wall Street Berebut GPU Futures, Pasar Kripto Sudah Mulai Lebih Dulu

marsbit05/22 07:45

Jane Street Digugat: Diduga Manfaatkan Informasi Internal Telegram, Lolos dari Puncak Sebelum Runtuhnya Terra dan Raup Untung $134 Juta dari Short Selling

Perusahaan perdagangan terkemuka Wall Street, Jane Street Group, dituduh memperoleh informasi orang dalam melalui kanal Telegram rahasia dengan mantan pegawai Terraform Labs, memungkinkan mereka menjual 192 juta dolar AS dalam stablecoin TerraUSD (UST) tepat sebelum keruntuhan Terra pada Mei 2022. Gugatan yang diajukan oleh pengelola aset kebangkrutan Terraform mengklaim bahwa akses ke informasi non-publik ini membantu Jane Street menjual posisi UST mereka mendekati nilai par, kemudian mengambil posisi short dan menghasilkan keuntungan sekitar 134 juta dolar AS selama kehancuran ekosistem Terra. Komunikasi internal yang dikutip dalam gugatan menunjukkan mantan magang Terraform yang bekerja di Jane Street, Bryce Pratt, menyebut keuntungan "informasi" ini. Jane Street diduga melakukan penjualan besar 85 juta dolar AS UST di decentralized exchange Curve Finance hanya sembilan menit setelah Terraform Labs diam-diam menarik likuiditas senilai 150 juta dolar AS dari pool yang sama. Transaksi ini diyakini sebagai salah satu pemicu ketidakseimbangan yang mendorong UST terlepas dari patokan 1 dolar AS. Jane Street telah membantah tuduhan tersebut sebagai "putus asa" dan "tidak berdasar," serta meminta pengadilan untuk membatalkan kasus ini. Gugatan ini juga menuduh pelanggaran hukum sekuritas federal dan Commodity Exchange Act. Keputusan pengadilan tahun 2023 yang mengklasifikasikan UST dan Luna sebagai sekuritas di kasus lain turut memperkuat dasar hukum gugatan terbaru ini.

marsbit05/22 04:54

Jane Street Digugat: Diduga Manfaatkan Informasi Internal Telegram, Lolos dari Puncak Sebelum Runtuhnya Terra dan Raup Untung $134 Juta dari Short Selling

marsbit05/22 04:54

SpaceX dan OpenAI Berebut IPO, Sudah Siapkah Wall Street?

Tepat pada hari yang sama, 21 Mei (Waktu Barat AS), SpaceX secara resmi mengajukan prospektus penawaran umum perdana (IPO) ke SEC dengan target valuasi fantastis $1,75-2 triliun. OpenAI juga dilaporkan tengah mempersiapkan dokumen IPO secara rahasia dengan target melantai di bursa paling cepat September mendatang. Persaingan sengit dua mantan mitra ini kini berpindah ke Wall Street. Meski cerita yang mereka jual berbeda—SpaceX menjual narasi "AI Luar Angkasa" sementara OpenAI berkisah tentang transformasi dari lembaga nirlaba—keduanya menghadapi tantangan finansial serupa. Laporan keuangan SpaceX memperlihatkan kontradiksi. Meski divisi satelit Starlink mencetak laba, dua divisi lainnya—penerbangan antariksa dan AI—menghabiskan semua keuntungan tersebut dan justru mencatatkan kerugian miliaran dolar. Valuasi tinggi SpaceX sangat bergantung pada janji masa depan seperti pusat data AI di orbit dan kolonisasi Mars, yang masih penuh ketidakpastian teknis. Di sisi lain, IPO OpenAI lebih seperti upaya "transfusi darah" yang mendesak. Perusahaan dengan 9,6 miliar pengguna bulanan ini dilaporkan membakar uang jauh lebih cepat daripada kemampuannya menghasilkan pendapatan, dengan kerugian bersih yang sangat besar. Tekanan kompetitif dari rival seperti Anthropic, yang dikabarkan akan segera mencetak laba, juga memacu OpenAI untuk segera melantai guna mengamankan dana dan mempertahankan posisinya. Kedua IPO raksasa ini pada dasarnya meminta investor membayar mahal untuk sebuah janji dan visi jangka panjang yang belum terbukti. SpaceX dan OpenAI perlu membuktikan apakah mereka benar-benar menciptakan nilai atau sekadar menjual cerita indah. Investor dihadapkan pada pertanyaan krusial: bersediakah mereka membayar premium tinggi untuk mimpi kolonisasi Mars dan AGI (Kecerdasan Buatan Umum), dengan segala risiko dan ketidakpastian yang menyertainya? Wall Street pun harus bersiap menyambut dua penawaran yang bisa menjadi ujian terbesar bagi pasar modal tahun ini.

marsbit05/22 01:43

SpaceX dan OpenAI Berebut IPO, Sudah Siapkah Wall Street?

marsbit05/22 01:43

Jual Obligasi AS, Beli Obligasi Jepang, Wall Street Bersiap Hadapi "Arus Balik Modal Jepang"

Pasar obligasi Jepang mengalami perubahan drastis yang belum terlihat selama beberapa dekade, dengan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) meroket ke level tertinggi dalam puluhan tahun. Imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang mencapai 2,73%, level tertinggi sejak 1997, sementara imbal hasil 30 tahun pertama kalinya menembus 4%. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan manajer aset global mengenai kemungkinan repatriasi modal besar-besaran oleh investor Jepang, yang selama ini memegang sekitar US$1 triliun obligasi AS untuk mencari imbal hasil yang lebih baik. Dengan naiknya imbal hasil obligasi domestik, logika untuk berinvestasi di luar negeri mulai berbalik. Laporan menunjukkan tanda-tanda awal aliran masuk dana ke reksa dana obligasi pemerintah Jepang, meski dalam skala terbatas. Sejumlah lembaga keuangan, seperti BlueBay dan Ruffer, telah mulai mempersiapkan strategi untuk menyikapi potensi arus balik modal ini, termasuk dengan memegang aset dalam yen sebagai lindung nilai. Namun, repatriasi skala besar belum terjadi. Data menunjukkan investor Jepang masih membeli obligasi asing dalam 12 bulan terakhir. Ketidakpastian di pasar obligasi Jepang sendiri, termasuk kekhawatiran atas peningkatan pengeluaran pemerintah yang dapat mendorong imbal hasil lebih tinggi lagi, membuat investor menunda pembelian. Potensi pelepasan obligasi AS secara sistematis oleh investor Jepang, jika terjadi, dapat memberikan dampak signifikan pada pasar obligasi AS karena mereka merupakan pemegang terbesar di luar negeri. Meski saat ini lebih merupakan persiapan antisipatif, logika strategi ini akan semakin kuat seiring dengan terus naiknya imbal hasil obligasi Jepang.

marsbit05/18 03:29

Jual Obligasi AS, Beli Obligasi Jepang, Wall Street Bersiap Hadapi "Arus Balik Modal Jepang"

marsbit05/18 03:29

Pilihan Editor Mingguan Weekly Editor's Picks (0509-0515)

**Pilihan Editor Mingguan (9-15 Mei)** Dalam aliran informasi yang begitu cepat, analisis mendalam sering tenggelam. "Pilihan Editor Mingguan" menyaring kebisingan untuk menyajikan wawasan berharga. **Makro:** Wall Street kini mempopulerkan perdagangan "NACHO" (Not A Chance Hormuz Opens), bertaruh bahwa Selat Hormuz tidak akan terbuka, berbeda dengan "TACO" (Trump Always Chickens Out) sebelumnya. Ini tercermin dalam pasar asuransi, minyak, dan suku bunga. **Investasi & Startup:** * **Strategi Penyimpanan:** Diskusi tentang pentingnya penyimpanan jangka panjang dan prediksi sektor seperti AI berwujud dan eksplorasi ruang angkasa. * **Pasar Saham Kripto Pra-IPO:** Anthropic dan OpenAI menolak transfer saham tidak resmi, menyebabkan penurunan token saham pra-penawaran dan mendorong "de-bubbling" pasar. * **Blockchain Baru:** Modal besar mengalir ke blockchain baru seperti Arc, Canton, dan Tempo, yang dirancang untuk stablecoin dan tokenisasi aset, didorong oleh regulasi dan fokus pada privasi. * **Analisis HYPE:** Token HYPE menghadapi tekanan jual dari token yang belum dilepas, valuasi tinggi, dan ketidakpastian pembeli baru, menimbulkan pertanyaan tentang kenaikan harga lebih lanjut. **AI:** Industri semikonduktor, kini sebagai aset strategis, didorong oleh chip AI bernilai tinggi. Artikel memetakan rantai pasokan (desain, fabrikasi, peralatan, memori) dan perusahaan kunci seperti Nvidia, TSMC, dan ASML, serta katalis potensial. **Kebijakan & Stablecoin:** RUU CLARITY diperkirakan akan membuka pintu bagi modal institusional besar ke DeFi dan mengalihkan dana dari stablecoin yang menghasilkan bunga ke produk pendapatan terstruktur yang sesuai. Protokol seperti Pendle, Morpho, dan Centrifuge diidentifikasi sebagai penerima manfaat. **CeFi & DeFi:** * Token berbasis "Hook" seperti sato dan FLOOD menghidupkan ekosistem Uniswap v4. * Serangan pada Kelp DAO menyebabkan migrasi likuiditas dari LayerZero ke solusi cross-chain alternatif seperti Chainlink CCIP. **Peluang Airdrop & Interaksi:** Panduan untuk interaksi tes awal dengan proyek seperti The Beacon, GenLayer, dan Arc. **Meme & Ethereum:** * Kisah spekulan meme dari kesuksesan menjadi kerugian. * Grayscale membahas masalah dalam model staking ETH saat ini, seperti penurunan pembakaran token karena L2, dan mengusulkan batas imbalan untuk mengontrol inflasi dan memperkuat narasi penyimpanan nilai ETH. **Kilasan Berita Minggu Ini:** Kunjungan kenegaraan Trump ke China, CLARITY Act, komentar dari Arthur Hayes dan CZ, IPO Cerebras, kemitraan Solana-Google, kinerja keuangan Circle dan Gemini, serta data tentang akumulasi Bitcoin oleh pemegang jangka panjang.

marsbit05/16 02:43

Pilihan Editor Mingguan Weekly Editor's Picks (0509-0515)

marsbit05/16 02:43

Q1 Eksposur Posisi Institusi Wall Street: Posisi ETF Bitcoin Jane Street Anjlok 71%, JP Morgan Tambah hingga 174%

Eksposur institusi Wall Street terhadap aset kripto terungkap melalui laporan 13F Q1 2026 yang diumumkan pada 15 Mei. Di tengah pasar kripto yang terkoreksi—dengan Bitcoin turun ~23.8%—strategi institusi menunjukkan perbedaan mencolok. Jane Street secara drastis memotong eksposur Bitcoin ETF, mengurangi posisi IBIT sebesar 71% dan FBTC sebesar 60%, sambil meningkatkan alokasi ke Ethereum ETF seperti ETHA dan FETH. Sebaliknya, JPMorgan Chase meningkatkan posisi Bitcoin ETF secara signifikan, dengan IBIT naik 174%, BITB naik 900%, dan BITO melonjak 3000+%. Mereka juga membuka posisi di ETF Solana (BSOL) namun menutup sepenuhnya posisi XRP ETF. Wells Fargo meningkatkan eksposur Ethereum ETF (ETHA naik 63.5%, ETHW naik 37%) meski pasar lesu, sambil mempertahankan Bitcoin ETF sebagai bagian terbesar portofolio kriptonya. BlackRock, meski portofolio on-chain-nya menyusut ~$204 miliar akibat harga, tetap menambah kepemilikan Bitcoin dan meningkatkan kepemilikan saham terkait kripto seperti MSTR dan BMNR. ARK Invest fokus pada sektor stablecoin dengan menambah besar kepemilikan saham Circle (CRCL). Sementara itu, terdapat perbedaan pandangan tajam mengenai Galaxy Digital; Wells Fargo hampir menghapus posisinya (-97%), sedangkan Jane Street justru membangun posisi besar dari hampir nol. Tiga sinyal utama teridentifikasi: 1) Minat institusi pada Ethereum meningkat sebagai investasi infrastruktur jangka panjang. 2) Perbedaan sikap terhadap Bitcoin lebih mencerminkan perbedaan strategi (trading vs. alokasi jangka panjang) daripada pandangan fundamental. 3) Saham terkait kripto seperti COIN, MSTR, dan CRCL semakin menjadi pilihan alokasi utama bagi institusi.

marsbit05/15 11:14

Q1 Eksposur Posisi Institusi Wall Street: Posisi ETF Bitcoin Jane Street Anjlok 71%, JP Morgan Tambah hingga 174%

marsbit05/15 11:14

活动图片