Berdasarkan data yang ada, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh siap mendukung kenaikan suku bunga dalam pertemuan September jika data inflasi yang akan dirilis dalam beberapa minggu mendatang tetap tinggi.
Menurut laporan Financial Times yang mengutip sumber-sumber dekat dengan Warsh, ketua Fed itu siap untuk memperketat kebijakan moneter jika inflasi ternyata lebih tinggi dari perkiraan, serta jika ekspektasi kenaikan lebih lanjut biaya pinjaman di pasar meningkat.
Setelah berita ini, ekspektasi kenaikan suku bunga di pasar menguat. Di pasar berjangka, probabilitas kenaikan suku bunga acuan Fed sebesar 25 basis poin pada September diperkirakan sekitar 55 persen. Setelah publikasi artikel di Financial Times, probabilitas ini meningkat menjadi 56,7 persen, dan imbal hasil obligasi Treasury AS dua tahun meningkat 4 basis poin menjadi 4,22 persen.
Gaya komunikasi Ketua Fed Warsh mengguncang pasar obligasi.
Terlepas dari reaksi pasar terhadap volume informasi terbatas yang diberikan Fed mengenai strategi suku bunganya, Warsh tampaknya bertekad mempertahankan gaya komunikasinya yang sederhana dan ringkas.
Investor berpendapat bahwa Warsh tidak memberikan panduan yang cukup tentang cara menahan gelombang baru inflasi yang dipicu oleh perang dengan Iran dan kenaikan harga energi selama pemerintahan Donald Trump.
Setelah pertemuan Fed pekan lalu, terjadi penurunan tajam harga obligasi Treasury AS, yang menyebabkan peningkatan signifikan dalam biaya pinjaman jangka panjang negara tersebut. Imbal hasil obligasi Treasury AS 30 tahun melampaui 5,2 persen, mencapai level tertinggi sejak 2007.
Beberapa investor berpendapat bahwa kenaikan imbal hasil obligasi tidak hanya disebabkan oleh harga energi dan risiko inflasi, tetapi juga oleh komunikasi Warsh yang terbatas, yang merusak kepercayaan terhadap Fed dalam mengendalikan kenaikan harga.
Menurut sumber-sumber dekat dengan Warsh, ketua Fed tersebut mengakui bahwa dia telah membuat sejumlah kesalahan komunikasi selama 10 minggu pertama masa jabatannya sebagai kepala bank sentral terbesar di dunia.
Di antara kesalahan-kesalahan ini adalah kegagalan Fed untuk cukup menekankan komitmennya terhadap stabilitas harga dan menciptakan ketidakpastian mengenai apakah rencana jangka panjangnya untuk merestrukturisasi bank sentral akan mempengaruhi keputusan suku bunga jangka pendek.
Namun, dinyatakan bahwa Warsh dan timnya tidak berniat menghentikan proses restrukturisasi yang dimulai karena kegagalan Fed mencapai target inflasi 2% selama lebih dari lima tahun.
Pendekatan Warsh berbeda dari kebijakan komunikasi ketua Fed sebelumnya, yang menawarkan panduan komprehensif kepada pasar. Ketua Fed yang baru ingin investor fokus pada data ekonomi, bukan pada pernyataan bank sentral, dan ingin lebih sedikit berbicara tentang jalur suku bunga di masa depan.
Namun, Presiden AS Donald Trump ingin Fed menurunkan suku bunga, bukan menaikkannya, dan menurut laporan terbaru, dia sering menelepon ketua Fed mengenai masalah ini sejak Warsh menjabat.
*Ini bukan rekomendasi investasi.
end-content





