SEC May Appeal Ripple Case, Says Journalist—Senate Candidate Joins The Debate

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2024-09-28Terakhir diperbarui pada 2024-09-28

Abstrak

The ongoing legal saga between Ripple Labs and the US Securities and Exchange Commission is heating up again as speculation...

The ongoing legal saga between Ripple Labs and the US Securities and Exchange Commission is heating up again as speculation mounts about a potential appeal from the SEC.

This comes after Judge Analisa Torres rendered a landmark decision in July 2023, finding that Ripple’s programmatic sales of XRP to ordinary investors did not breach securities laws.

The SEC, however, is apparently not happy with this ruling, especially in light of how it would affect any future regulatory proceedings.

The Potential Appeal Of The SEC

Journalist Eleanor Terrett of FOX Business recently shared observations from a former SEC attorney who thinks the agency will probably file an appeal of the decision.

Many others within the SEC, according to this attorney, believe the ruling has basic flaws and ought to be overturned. There is additional urgency because October 7 is the deadline for filing such an appeal.

The SEC would probably be more interested in reversing the portion of the order that deals with XRP programmatic sales than in challenging Ripple’s $125 million fine.

Marc Fagel, a former attorney for the SEC, has also spoken, stating that in the event of an appeal, it will primarily focus on how these programmatic sales were determined to be in compliance with securities laws.

This strategic emphasis may have a significant impact on future cryptocurrency regulations. It is highly likely that there will be more court battles in the future, with experts like lawyer Fred Rispoli estimating a 75% possibility that the SEC will move forward with an appeal.

XRP market cap currently at $33.2 billion. Chart: TradingView

Ripple’s Response And Market Reactions

Regardless of these changes, Ripple’s leadership maintains their confidence. Indicating their conviction that the matter has come to a close, CEO Brad Garlinghouse and Chief Legal Officer Stuart Alderoty have publicly said that they do not plan to appeal the court’s decision.

They contend that more legal wrangling could jeopardize capital formation and investor trust, two important facets of the SEC’s mandate.

This uncertainty has pushed the price of XRP in the markets to a highly volatile movement. Though the movements remain still miniscule, XRP’s price remains stuck at about $0.59, far away from a significant deviation from the highs lately.

Awaiting an end to this uncertainty in form of a clarification, trading volumes have dropped due to the prospects that it may head to an appeal.

US Senate Candidate: Appeal Will Fail

Meanwhile, Atty. John Deaton, a candidate for Massachusetts Senate, has offered opinions on the Ripple issue, expressing belief that an appeal of the ruling would not be successful. Deaton, who was instrumental in Ripple’s legal victory about programmatic sales, thinks the Second Circuit Court is not likely to reverse the decision.

His point of view stems from the Howey Test application, in which he notes the judge concentrated on just the third prong—that of the “expectation of rewards based on the efforts of others.”

Deaton said, referencing the affidavits of 3,800 XRP holders, Judge Torres appropriately used the third element in her ruling.

These testimonials undermined the assertion that Ripple’s programmatic sales constituted an investment contract by supporting Ripple’s position—that XRP investors did not expect gains based on the company’s efforts. Deaton therefore feels sure the Second Circuit would not overturn the decision.

Featured image from WIRED, chart from TradingView

Christian Encila

Christian Encila

Christian, a journalist and editor with leadership roles in Philippine and Canadian media, is fueled by his love for writing and cryptocurrency. Off-screen, he's a cook and cinephile who's constantly intrigued by the size of the universe.

Bacaan Terkait

Wall Street's 'Perburuan Kepatuhan': Migrasi Besar-besaran Cadangan Stablecoin

Dalam sepekan terakhir, beberapa lembaga Wall Street secara bersamaan mempercepat langkah mereka dalam pengembangan dana pasar uang ter-tokenisasi. Pada 12 Mei, JPMorgan Chase mengumumkan peluncuran dana pasar uang ter-tokenisasi kedua mereka, JLTXX, di Ethereum. Di hari yang sama, Payward (induk perusahaan Kraken) menjalin kerja sama strategis dengan Franklin Templeton untuk mengintegrasikan dana ter-tokenisasi seri BENJI ke platform Kraken sebagai alat kolateral dan manajemen kas bagi institusi. Tidak lama sebelumnya, BlackRock kembali mengajukan permohonan kepada SEC untuk dua dana ter-tokenisasi baru, memperdalam kerja samanya dengan Securitize. Serangkaian tindakan ini mencerminkan bahwa antisipasi regulasi mendorong persiapan sisi penawaran dari para institusi besar. Aksi para raksasa keuangan ini menargetkan likuiditas crypto dari berbagai sisi. BlackRock, melalui kemitraan dengan Securitize, berupaya mentransformasi bisnis penyimpanan cadangan stablecoin tradisionalnya secara menyeluruh menjadi aset ter-tokenisasi. JPMorgan, dengan produk JLTXX-nya, mempersiapkan infrastruktur penyelesaian dan cadangan backend untuk bank-bank besar di masa depan jika mereka menerbitkan stablecoin. Sementara itu, kolaborasi Franklin Templeton dan Kraken dengan BENJI bertujuan menyediakan alat manajemen kas berbasis blockchain yang menghasilkan yield dan dapat digunakan sebagai kolateral, mengakali potensi larangan pembayaran bunga pada stablecoin. Langkah-langkah ini sebagian besar dipicu oleh kerangka regulasi yang sedang dibentuk, terutama GENIUS Act yang menetapkan daftar ketat aset cadangan yang memenuhi syarat untuk stablecoin dan melarang pembayaran bunga kepada pemegangnya. Peraturan pelaksanaannya ditargetkan selesai pada 2026. Di sisi lain, CLARITY Act yang sedang dibahas akan mengatur struktur pasar aset digital. Celah antara kedua undang-undang ini—di mana stablecoin dilarang memberi bunga tetapi aset ter-tokenisasi lainnya (seperti dana pasar uang) mungkin tidak—menciptakan peluang bagi produk seperti BENJI. Para pelaku pasar memperkirakan pasar stablecoin dan dana ter-tokenisasi dapat mencapai triliunan dolar dalam beberapa tahun ke depan, mendorong persaingan sengit di antara institusi keuangan tradisional untuk menguasai aliran likuiditas baru ini.

marsbit2j yang lalu

Wall Street's 'Perburuan Kepatuhan': Migrasi Besar-besaran Cadangan Stablecoin

marsbit2j yang lalu

SK Hynix Menjadi "Pengkhianat Kapitalis", Karyawan Samsung Mogok Kerja Besar-besaran

Pembicaraan antara Samsung Electronics dan serikat pekerjanya mencapai titik kritis, dengan serikat pekerja mengancam akan melakukan pemogokan selama 18 hari mulai 21 Mei karena perundingan gagal. Pemogokan yang melibatkan puluhan ribu pekerja di divisi semikonduktor ini berpotensi mengganggu produksi memori global. Inti perselisihan terletak pada struktur bonus. Serikat pekerja menuntut formula pembagian keuntungan tahunan yang tetap sebesar 13% dari laba operasional divisi semikonduktor, mencontoh kesepakatan yang telah diterapkan oleh pesaing SK Hynix. SK Hynix tahun lalu menyetujui pembagian 10% laba operasional kepada karyawan untuk sepuluh tahun ke depan, yang telah menghasilkan bonus signifikan berkat keuntungan besar dari penjualan HBM untuk chip AI Nvidia. Manajemen Samsung menawarkan bonus satu kali berdasarkan kinerja saat ini, tetapi menolak mengikatnya dalam formula tahunan yang permanen. Kekhawatiran mereka adalah menetapkan preseden yang dapat mengacaukan struktur kompensasi di seluruh grup bisnis yang beragam dan memicu tuntutan serupa dari divisi lain. Konflik ini menyoroti pertanyaan yang lebih luas dalam industri AI: bagaimana keuntungan besar yang dihasilkan oleh teknologi ini didistribusikan di dalam perusahaan? Model bagi hasil berbasis tunai ala SK Hynix menawarkan alternatif terhadap skema kepemilikan saham tradisional Silicon Valley. Hasil negosiasi di Samsung, apa pun bentuknya, dapat menjadi tren penting bagi pekerja di seluruh rantai pasokan teknologi tinggi untuk memperjuangkan bagian yang lebih adil dari "kue AI".

marsbit2j yang lalu

SK Hynix Menjadi "Pengkhianat Kapitalis", Karyawan Samsung Mogok Kerja Besar-besaran

marsbit2j yang lalu

Altman Ungkap Bom Waktu Saat Musk Sedang Bepergian: Dia Pernah Ingin Anak-anaknya Mewarisi OpenAI

Saat sidang kasus hukum antara Elon Musk dan OpenAI, Sam Altman bersaksi untuk pertama kalinya. Dalam kesaksiannya, Altman mengungkapkan konflik internal mendalam di awal pendirian OpenAI dengan Musk. Altman menyatakan bahwa Musk ingin memiliki kendali yang lebih besar atas OpenAI, termasuk kepemilikan saham mayoritas dan hak penentu akhir atas arah organisasi. Klaim paling mengejutkan adalah bahwa Musk pernah membayangkan untuk mewariskan kendali atas OpenAI kepada anak-anaknya di masa depan—sebuah gagasan yang ditolak keras oleh Altman dengan alasan bertentangan dengan prinsip dasar bahwa AGI seharusnya tidak dikendalikan oleh individu atau entitas tunggal. Altman juga membantah narasi utama Musk bahwa OpenAI telah "mengkhianati misi awalnya" dengan beralih ke struktur for-profit. Dia bersaksi bahwa Musk sejak awal mengetahui dan bahkan mendukung eksplorasi model profit, karena menyadari kebutuhan dana besar untuk pengembangan AI. Perselisihan lain muncul ketika Musk mengusulkan agar OpenAI bergabung dengan Tesla, usul yang ditolak Altman karena khawatir misi penelitian OpenAI akan tersandung oleh tujuan komersial perusahaan mobil. Altman menggambarkan gaya manajemen Musk yang terstruktur dan berorientasi pada hasil sebagai tidak cocok dengan budaya penelitian OpenAI, bahkan merusak moral tim inti. Dia juga mengungkapkan kekhawatiran tim akan tindakan balasan Musk setelah hengkang dari dewan. Dalam kesaksiannya, Altman tampak lebih banyak berbicara sebagai CEO yang menangani tata kelola organisasi dan tantangan sumber daya, dibandingkan sebagai idealis teknologi. Dia mengaku sempat mempertimbangkan pindah ke Microsoft saat sempat dipecat pada 2023, tetapi memilih kembali karena dedikasinya yang besar pada OpenAI.

marsbit3j yang lalu

Altman Ungkap Bom Waktu Saat Musk Sedang Bepergian: Dia Pernah Ingin Anak-anaknya Mewarisi OpenAI

marsbit3j yang lalu

Trading

Spot
Futures

Artikel Populer

Cara Membeli SAGA

Selamat datang di HTX.com! Kami telah membuat pembelian Saga (SAGA) menjadi mudah dan nyaman. Ikuti panduan langkah demi langkah kami untuk memulai perjalanan kripto Anda.Langkah 1: Buat Akun HTX AndaGunakan alamat email atau nomor ponsel Anda untuk mendaftar akun gratis di HTX. Rasakan perjalanan pendaftaran yang mudah dan buka semua fitur.Dapatkan Akun SayaLangkah 2: Buka Beli Kripto, lalu Pilih Metode Pembayaran AndaKartu Kredit/Debit: Gunakan Visa atau Mastercard Anda untuk membeli Saga (SAGA) secara instan.Saldo: Gunakan dana dari saldo akun HTX Anda untuk melakukan trading dengan lancar.Pihak Ketiga: Kami telah menambahkan metode pembayaran populer seperti Google Pay dan Apple Pay untuk meningkatkan kenyamanan.P2P: Lakukan trading langsung dengan pengguna lain di HTX.Over-the-Counter (OTC): Kami menawarkan layanan yang dibuat khusus dan kurs yang kompetitif bagi para trader.Langkah 3: Simpan Saga (SAGA) AndaSetelah melakukan pembelian, simpan Saga (SAGA) di akun HTX Anda. Selain itu, Anda dapat mengirimkannya ke tempat lain melalui transfer blockchain atau menggunakannya untuk memperdagangkan mata uang kripto lainnya.Langkah 4: Lakukan trading Saga (SAGA)Lakukan trading Saga (SAGA) dengan mudah di pasar spot HTX. Cukup akses akun Anda, pilih pasangan perdagangan, jalankan trading, lalu pantau secara real-time. Kami menawarkan pengalaman yang ramah pengguna baik untuk pemula maupun trader berpengalaman.

149 Total TayanganDipublikasikan pada 2024.12.13Diperbarui pada 2025.03.21

Cara Membeli SAGA

Diskusi

Selamat datang di Komunitas HTX. Di sini, Anda bisa terus mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan platform terkini dan mendapatkan akses ke wawasan pasar profesional. Pendapat pengguna mengenai harga SAGA (SAGA) disajikan di bawah ini.

活动图片