South Korea Targets 40 Unregistered Crypto Operators in Regulatory Crackdown

TheNewsCryptoDipublikasikan tanggal 2026-06-24Terakhir diperbarui pada 2026-06-24

Abstrak

South Korea's Financial Intelligence Unit has referred around 40 unregistered virtual asset service providers to the police as part of a regulatory crackdown. Under local law, all crypto exchanges must obtain ISMS certification and FIU registration before operating, yet only 28 entities are currently registered. The FIU identified methods used by offshore platforms to attract Korean users, including advertising on local messaging apps and using private money changers to convert stablecoins. Officials stressed that unregistered platforms are not protected by Korean law. This action aligns with South Korea's push for stricter global crypto compliance through FATF measures. FIU Director Lee Hyung-joo recently urged FATF members to remove transaction thresholds for the "Travel Rule," as South Korea plans to mandate identity checks for all crypto transactions starting in August, expanding from the current 1 million won (≈$730) minimum. Regulatory enforcement has intensified in 2026, with authorities pursuing criminal cases against market manipulation schemes and enhancing cooperation with financial institutions to curb cross-border illegal transactions.

The Financial Intelligence Unit of South Korea recently referred approximately 40 unregistered virtual asset service providers to the police authority. It reflects Seoul’s increasing attempts to regulate the cryptocurrency firms that operate in South Korea. According to South Korean law, all crypto exchanges are mandated to get the ISMS Certification and FIU registration prior to operating.

As per The Chosun Daily, only 28 entities are currently registered in accordance with the established rules and norms. A platform offering its services to local clients without proper certification acts illegally in terms of the country’s legislation. In the course of its research, the FIU revealed that there were several ways employed by offshore exchanges to lure local clients. For example, some exchanges advertised their services in Korea via Telegram and KakaoTalk while continuing to function abroad.

Additionally, there were private money changers who exchanged stablecoins into Korean currency for tourists, students, and foreigners working in Korea. Moreover, content creators got paid to promote cryptocurrency exchanges from abroad in Korea. The FIU stressed that any non-registered platforms do not fall under the protection provided by the country’s laws.

Tough Global Crypto Compliance Standards from South Korea

This move is part of South Korea’s wider campaign to increase global compliance standards for cryptocurrencies through FATF measures. Lee Hyung-joo, the FIU Director, recently attended the thirty-fourth plenary of the FATF in Paris. At the conference, Lee called on the FATF member states to abolish the transaction thresholds used under the crypto Travel Rule. South Korea intends to implement identity checks for all crypto transactions from August.

Identity checks are currently mandatory for transactions amounting to more than one million won, which translates to about $730. This means that all the transactions that will be carried out by participating exchanges would have to meet these compliance standards. Lee contends that inconsistent licensing standards lead to regulatory arbitrage, thus weakening the implementation of anti-money laundering regulations.

Regulatory Enforcement is Growing Further

In South Korea, cryptocurrency regulatory actions have been expanding during 2026 in various regulatory areas. In previous cases, the authorities initiated criminal proceedings regarding an individual who was engaged in running cryptocurrency pump and dump operations. Moreover, government entities also enhanced their collaboration with financial organizations and credit card organizations to prevent any illegal transactions between countries.

Highlighted Crypto News:

Legacy Polygon Royalties Contract Exploit Drains $261K Through Reward Logic Flaw

TagsBlockchainCryptoCryptocurrencyKoreaSouth Korea

Kripto yang Sedang Tren

Pertanyaan Terkait

QHow many unregistered virtual asset service providers did South Korea's FIU recently refer to the police?

AApproximately 40.

QWhat are the two key requirements for crypto exchanges to legally operate in South Korea?

ACrypto exchanges must obtain the ISMS Certification and complete FIU registration.

QAccording to the article, what is South Korea's intention regarding crypto transaction identity checks starting from August?

ASouth Korea intends to implement identity checks for all crypto transactions, removing the current one million won (about $730) threshold.

QName one method mentioned that offshore exchanges used to attract local clients in South Korea.

ASome offshore exchanges advertised their services in Korea through platforms like Telegram and KakaoTalk.

QWhat was the main argument made by FIU Director Lee Hyung-joo at the FATF plenary regarding crypto regulation?

ALee Hyung-joo argued that inconsistent licensing standards lead to regulatory arbitrage, weakening anti-money laundering efforts, and called for the abolition of transaction thresholds under the crypto Travel Rule.

Bacaan Terkait

Di Era AI, Apa Lagi yang Tersisa dari Bitcoin?

**Era AI: Apa yang Tersisa dari Bitcoin?** Penulis merenungkan hubungan antara AI dan Bitcoin. AI telah membuat produksi konten—seperti teks, gambar, dan video—semakin murah dan mudah didapat. Namun, hal ini menyebabkan banjir informasi, di mana yang asli dan palsu semakin sulit dibedakan. Nilai "keterverifikasian" menjadi sangat berharga. Di sinilah peran Bitcoin dilihat kembali. Kritik bahwa Bitcoin "membuang-buang listrik" dipertimbangkan ulang. Jika AI menghabiskan energi untuk "kemampuan" (menghasilkan konten), Bitcoin menghabiskannya untuk "keterverifikasian." Jaringan Bitcoin, yang diamankan oleh bukti kerja (proof-of-work), membuat biaya untuk memanipulasi catatan transaksi menjadi sangat tinggi. Ini menciptakan sistem buku besar yang tidak bergantung pada kepercayaan terhadap pihak manapun, melainkan pada verifikasi kriptografis yang independen. Penulis menarik analogi dengan sejarah: mesin cetak Gutenberg (seperti AI) mengurangi biaya reproduksi pengetahuan, sementara pembukuan double-entry (seperti blockchain) mengurangi biaya kepercayaan dalam bisnis. Saat ini, AI mendorong biaya produksi konten mendekati nol, sementara blockchain berupaya mengurangi biaya verifikasi dalam dunia digital. Kesimpulannya, AI dan blockchain bukanlah pesaing. AI berfokus pada **penciptaan** (mengurangi biaya produksi), sementara blockchain seperti Bitcoin berfokus pada **pembuktian** (mengurangi biaya verifikasi). Di era di mana AI dapat menghasilkan segalanya, yang menjadi langka bukanlah lebih banyak konten, melainkan lebih banyak fakta yang dapat diverifikasi secara independen. Bitcoin, dalam pandangan ini, adalah "mesin penghasil keterverifikasian."

marsbit38m yang lalu

Di Era AI, Apa Lagi yang Tersisa dari Bitcoin?

marsbit38m yang lalu

Era AI, Apa yang Tersisa dari Bitcoin?

Dalam era AI, kemampuan untuk menghasilkan konten palsu menjadi semakin mudah dan murah, sehingga meragukan keaslian informasi. Hal ini menggeser nilai dari kelimpahan informasi menjadi kemampuan untuk memverifikasi keasliannya. Bitcoin, yang sering dikritik karena konsumsi energinya yang besar, sekarang dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda: energi itu digunakan untuk menciptakan "keterverifikasian," bukan sekadar mempertahankan buku besar. Bitcoin tidak memerlukan kepercayaan pada pihak ketiga; ia mengandalkan matematika, kriptografi, dan jaringan node global untuk memverifikasi setiap transaksi. Dalam dunia di mana AI dapat memalsukan konten dengan mudah, kemampuan Bitcoin untuk menyediakan catatan yang tidak dapat dimanipulasi menjadi sangat berharga. Konsumsi energinya secara efektif meningkatkan biaya untuk memanipulasi sejarah transaksi, sehingga menjamin integritasnya. AI dan Bitcoin bukanlah pesaing; mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. AI menurunkan biaya produksi konten, sementara blockchain (dengan Bitcoin sebagai contoh utama) menurunkan biaya verifikasi dan membangun kepercayaan dalam dunia digital. Seperti mesin cetak dan pembukuan double-entry pada masa Renaissance, keduanya memainkan peran pelengkap: satu menciptakan, yang lain membuktikan. Dalam era kelebihan informasi ini, apa yang menjadi langka dan berharga adalah fakta yang dapat diverifikasi secara independen.

链捕手46m yang lalu

Era AI, Apa yang Tersisa dari Bitcoin?

链捕手46m yang lalu

Label 'ghain hantu' Cardano terbantahkan? Mengapa 34 dApp ADA tidak menggambarkan keseluruhan cerita

Judul artikel membantah label "rantai hantu" yang dilekatkan pada Cardano, dengan menjelaskan mengapa hanya memiliki 34 dApps tidak menggambarkan situasi sebenarnya. Artikel ini mendefinisikan "rantai hantu" sebagai blockchain yang berjalan secara teknis namun memiliki aktivitas on-chain dan pengembangan yang sangat minimal. Sementara Cardano menunjukkan aktivitas pengembangan yang kuat (tertinggi kedua di antara Layer-1 utama), metrik seperti jumlah dApps, transaksi, dan pengguna aktifnya jauh di bawah pesaing seperti Ethereum, Solana, atau TRON. Penulis mengakui faktor-faktor yang dikritik, seperti penutupan explorer TapTools dan peringatan pendiri Charles Hoskinson mengenai tantangan proyek dApp. Namun, penjelasan utama untuk kesenjangan aktivitas ini terletak pada model Extended Unspent Transaction Output (EUTXO) Cardano. Model ini memungkinkan protokol "batcher" menggabungkan banyak pesanan menjadi satu transaksi teroptimasi sebelum dicatat di ledger, yang mengakibatkan perkiraan aktivitas on-chain yang lebih rendah secara statistik. Kesimpulannya, meskipun aktivitas jaringan Cardano lebih rendah, hal itu tidak serta-merta membuatnya menjadi "rantai hantu". Perbedaan arsitektur (EUTXO) dan fokusnya pada keamanan, keberlanjutan, serta metodologi pengembangan yang ketat menempatkannya dalam ceruk yang unik untuk kepatuhan institusional dan kebutuhan perusahaan, dibandingkan dengan blockchain lain yang mengutamakan throughput tinggi atau volume DeFi.

ambcrypto1j yang lalu

Label 'ghain hantu' Cardano terbantahkan? Mengapa 34 dApp ADA tidak menggambarkan keseluruhan cerita

ambcrypto1j yang lalu

Trading

Spot

Artikel Populer

Cara Membeli 4

Selamat datang di HTX.com! Kami telah membuat pembelian 4 (4) menjadi mudah dan nyaman. Ikuti panduan langkah demi langkah kami untuk memulai perjalanan kripto Anda.Langkah 1: Buat Akun HTX AndaGunakan alamat email atau nomor ponsel Anda untuk mendaftar akun gratis di HTX. Rasakan perjalanan pendaftaran yang mudah dan buka semua fitur.Dapatkan Akun SayaLangkah 2: Buka Beli Kripto, lalu Pilih Metode Pembayaran AndaKartu Kredit/Debit: Gunakan Visa atau Mastercard Anda untuk membeli 4 (4) secara instan.Saldo: Gunakan dana dari saldo akun HTX Anda untuk melakukan trading dengan lancar.Pihak Ketiga: Kami telah menambahkan metode pembayaran populer seperti Google Pay dan Apple Pay untuk meningkatkan kenyamanan.P2P: Lakukan trading langsung dengan pengguna lain di HTX.Over-the-Counter (OTC): Kami menawarkan layanan yang dibuat khusus dan kurs yang kompetitif bagi para trader.Langkah 3: Simpan 4 (4) AndaSetelah melakukan pembelian, simpan 4 (4) di akun HTX Anda. Selain itu, Anda dapat mengirimkannya ke tempat lain melalui transfer blockchain atau menggunakannya untuk memperdagangkan mata uang kripto lainnya.Langkah 4: Lakukan trading 4 (4)Lakukan trading 4 (4) dengan mudah di pasar spot HTX. Cukup akses akun Anda, pilih pasangan perdagangan, jalankan trading, lalu pantau secara real-time. Kami menawarkan pengalaman yang ramah pengguna baik untuk pemula maupun trader berpengalaman.

772 Total TayanganDipublikasikan pada 2025.10.20Diperbarui pada 2026.06.02

Cara Membeli 4

Diskusi

Selamat datang di Komunitas HTX. Di sini, Anda bisa terus mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan platform terkini dan mendapatkan akses ke wawasan pasar profesional. Pendapat pengguna mengenai harga 4 (4) disajikan di bawah ini.

活动图片