Monero Attack: Kraken Suspends XMR Deposits Until It Is ‘Safe’

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-08-18Terakhir diperbarui pada 2025-08-18

Abstrak

Crypto exchange Kraken has announced a temporary stoppage of Monero (XMR) token deposits on its platform. This move comes in...

Trusted Editorial content, reviewed by leading industry experts and seasoned editors. Ad Disclosure

Crypto exchange Kraken has announced a temporary stoppage of Monero (XMR) token deposits on its platform. This move comes in response to the ongoing 51% attack against the Monero blockchain, an open-source protocol and privacy-focused network.

For context, a 51% attack refers to a situation where a group of miners gains more than 50% of a blockchain’s mining hash rate. On Tuesday, August 12, Qubic, a project led by IOTA co-founder Sergey Ivancheglo, claimed that it has seized control of the majority of the Monero blockchain’s hash rate. 

According to the Qubic mining pool, the 51% attack was executed using a useful proof-of-work (uPoW or UPoW) mechanism. As reported on Bitcoinist, the Qubic team is taking half the mining profits in XMR, converting them into USDT to buy QUBIC tokens, and then sending them to a burn address.

Why Did Kraken Suspend Monero Deposits On Its Platform?

In an August 15 update on its website, Kraken announced that it is temporarily stopping the deposit of Monero tokens on its trading platform after detecting that a single mining pool has taken control of more than half of the blockchain’s total hashing power.

The cryptocurrency exchange said:

This concentration of mining power poses a potential risk to network integrity. We are actively monitoring the situation and will resume deposits once we determine it is safe to do so. Trading and withdrawals for XMR remain fully operational.

Following the release of Qubic’s claim, emerging reports on social media platform X revealed that there indeed was a six-block reorganization on the Monero blockchain, suggesting that the team does control a large enough portion of the hash rate.

As Kraken mentioned, it is worth noting that Qubic’s seizure and control of the majority of Monero’s total hashing power could be significantly detrimental to the decentralized ethos of blockchain technology. As it stands—with Qubic controlling 51% of the hash rate, the network is at risk of transaction censoring, double spends, and blocks reorganization, undermining the blockchain’s integrity.

XMR Price Overview

The reaction of the XMR price to these claims of a 51% attack on the Monero blockchain has been fairly measured. While the altcoin did lose more than 10% of its value immediately the news broke out and a further 5% in the subsequent days, the Monero token seems to be recovering well.

As of this writing, the Monero token is valued at around $265, reflecting a nearly 12% jump in the past 24 hours. Meanwhile, CoinGecko data shows that the altcoin is down by only 4% on the weekly timeframe.

Monero

The price of XMR on the daily timeframe | Source: XMRUSDT chart on TradingView
Featured image from iStock, chart from TradingView
Editorial Process for bitcoinist is centered on delivering thoroughly researched, accurate, and unbiased content. We uphold strict sourcing standards, and each page undergoes diligent review by our team of top technology experts and seasoned editors. This process ensures the integrity, relevance, and value of our content for our readers.

Opeyemi Sule is a passionate crypto enthusiast, a proficient content writer, and a journalist at Bitcoinist. Opeyemi creates unique pieces unraveling the complexities of blockchain technology and sharing insights on the latest trends in the world of cryptocurrencies. Opeyemi enjoys reading poetry, chatting about politics, and listening to music, in addition to his strong interest in cryptocurrency.

Bacaan Terkait

Claude dan Codex yang Kamu Pakai Setiap Hari, Di Dalam Meta Dilarang Dipakai Sembarangan

Meta, perusahaan induk Facebook, telah memberlakukan pembatasan internal ketat terhadap penggunaan alat bantu pemrograman AI dari pihak ketiga, Claude Code (Anthropic) dan Codex (OpenAI), sejak Mei 2024. Meski merupakan salah satu klien terbesar dan sangat bergantung pada alat-alat ini, Meta khawatir output yang dihasilkan dapat menyusup ke dalam data pelatihan untuk pengembangan asisten pemrograman AI internal mereka sendiri, MetaCode (awalnya DevMate). Proses ini, yang dikenal sebagai "distilasi," dapat menyebabkan model internal mereka secara tidak sengaja mempelajari kemampuan dan standar penilaian dari model pesaing, sehingga mengaburkan asal-usul kemampuan mereka yang sebenarnya. Pembatasan internal Meta berfokus pada mencegah AI eksternal terlibat dalam penulisan kode inti, pembuatan soal uji, atau penilaian untuk proyek MetaCode. AI masih diizinkan untuk tugas-tugas pendukung seperti menyusun alur kerja atau mengatur kode, tetapi semua outputnya harus ditinjau oleh manusia. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga kemurnian data pelatihan dan menghindari potensi pelanggaran terhadap ketentuan layanan penyedia model, yang sering melarang penggunaan output mereka untuk membangun produk pesaing. Tindakan Meta menyoroti dilema yang dihadapi seluruh industri AI: bagaimana menyeimbangkan manfaat menggunakan model AI yang kuat dengan risiko ketergantungan dan distilasi yang tidak jelas. Ini juga mencerminkan tekanan finansial, karena Meta berupaya mengurangi tagihan AI internal yang mencapai miliaran dolar dengan beralih ke solusi internal. Pada akhirnya, kebijakan ini bagaikan "peta berjalan di atas tali" yang menunjukkan tantangan dalam membangun AI yang benar-benar orisinal di era di mana AI semakin sering digunakan untuk menciptakan AI lainnya.

marsbit1j yang lalu

Claude dan Codex yang Kamu Pakai Setiap Hari, Di Dalam Meta Dilarang Dipakai Sembarangan

marsbit1j yang lalu

Mengapa Hari Ini Kita Membutuhkan Pandangan Konten AI?

Terkait kontroversi etis di industri hiburan global terkait konten AI, seperti proyek animasi AI Amazon yang dibatalkan, dan kemunculan film panjang AI pertama yang lolos sensor di Tiongkok, AI telah mencapai tonggak sejarah baru dalam produksi konten. Namun, kemajuan ini juga memicu perdebatan sengit, terutama mengenai penggantian aktor manusia dan kualitas artistik. Industri menghadapi dilema "pertarungan internal": di satu sisi, AI tak terhindarkan dalam produksi film, menawarkan efisiensi biaya dan kemungkinan kreatif baru. Di sisi lain, kekhawatiran mendalam muncul karena AI mulai memasuki ranah "makanan budaya utama" seperti film dan drama panjang, yang secara tradisional membutuhkan kedalaman emosional dan partisipasi manusia. Artikel ini membedakan antara "makanan budaya cepat saji" (seperti video pendek dan drama mikro) yang cocok dengan logika produksi AI—narasifragmen, kebutuhan emosi dangkal, dan model bisnis gratis—dan "makanan budaya utama" (seperti film dan serial TV) yang membutuhkan keterlibatan manusia yang lebih dalam. AI saat ini lebih mampu dalam yang pertama, tetapi masuknya AI ke dalam yang terakhir menantang keunikan manusia dalam hal kreativitas, pengalaman hidup, dan pertukaran emosi. Nilai manusia dalam penciptaan konten dianggap tak tergantikan dalam tiga aspek: kapasitas inovasi (AI cenderung menghasilkan konten homogen, bukan terobosan), hasil kerja keras (proses pembuatan yang panjang menambah nilai persepsi), dan pengalaman hidup serta ekspresi pribadi. Namun, perkembangan konten AI menghadapi risiko "melampaui batas": keunggulan biaya dapat mempersempit ruang kreasi manusia dan menimbulkan masalah plagiarisme; ledakan produksi dapat menyebabkan banjir konten berkualitas rendah yang mendorong keluar karya bagus; dan peningkatan efisiensi memindahkan risiko ke depan dalam proses produksi, menyulitkan moderasi. Oleh karena itu, diperlukan "perspektif konten AI" baru yang menetapkan batasan jelas. Prinsip intinya adalah: memastikan ruang kreasi manusia diperluas, bukan dipersempit; hasil kreasi manusia dihormati, bukan dirampas; manusia mempertahankan peran kepemimpinan dan tanggung jawab dalam penciptaan; serta memastikan transparansi dan dapat dikenalnya konten AI. Kesimpulannya, manusia harus menjadi "juru mudi" teknologi. Masa depan konten AI harus menjadi perjalanan yang dikendalikan oleh manusia, di mana penilaian, filter, dan apresiasi estetika manusia di setiap tahap—produksi, distribusi, konsumsi—menjadi lebih penting dari sebelumnya untuk melindungi nilai inti budaya sebagai wahana pertukaran spiritual manusia.

marsbit2j yang lalu

Mengapa Hari Ini Kita Membutuhkan Pandangan Konten AI?

marsbit2j yang lalu

Makalah Planck Ditarik? Bapak Pendiri Kuantum Tersandung Algoritma

Artikel baru-baru ini mengungkap bahwa dua tulisan Max Planck, perintis teori kuantum dan pemenang Nobel Fisika 1918, yang diterbitkan pada 1940 dan 1942, secara keliru ditandai sebagai "retracted" (ditarik kembali) dalam platform digital Springer. Menurut investigasi, penarikan ini bukan disebabkan oleh penipuan atau kesalahan ilmiah, melainkan oleh "kerusakan algoritma." Kedua artikel tersebut, yang membahas refleksi filosofis tentang ilmu pengetahuan, diterbitkan di jurnal Jerman *Die Naturwissenschaften*. Pada masa itu, praktik seperti menerbitkan kembali pidato di beberapa saluran (jurnal, pamflet, kumpulan esai) adalah bagian normal dari penyebaran gagasan ilmiah. Namun, sistem digital modern mengidentifikasi praktik historis ini sebagai "penerbitan ulang" atau "pelanggaran hak cipta," yang dianggap melanggar norma penerbitan saat ini. Lebih memprihatinkan, platform Springer tidak hanya memberi label "retracted," tetapi juga mengganti teks asli artikel dengan halaman kosong, menghilangkan akses ke konten aslinya. Hal ini menunjukkan masalah yang lebih dalam: infrastruktur penerbitan akademik digital dapat secara keliru menerapkan standar kontemporer pada karya historis, sehingga mengaburkan dan bahkan menghapus warisan ilmiah masa lalu. Kasus ini menjadi peringatan penting di era AI. Basis data digital, yang sering dianggap sebagai cermin netral dari pengetahuan, sebenarnya dibentuk oleh logika platform, asumsi hukum, dan aturan komersial. Kesalahan metadata seperti ini dapat diperkuat oleh model AI, mesin pencari, dan alat akademik di masa depan, yang pada akhirnya mengancam keakuratan dan aksesibilitas memori ilmiah.

marsbit2j yang lalu

Makalah Planck Ditarik? Bapak Pendiri Kuantum Tersandung Algoritma

marsbit2j yang lalu

Trading

Spot
活动图片