文章摘要
Tether, perusahaan di balik stablecoin USDT senilai 1700 miliar dolar AS, meluncurkan USAT pada September 2025 sebagai upaya memperoleh legitimasi regulasi di Amerika Serikat. USAT dirancang khusus untuk pasar AS dengan tiga strategi kunci: penunjukan Bo Hines (mantan penasihat Gedung Putih) sebagai CEO, penggunaan Cantor Fitzgerald sebagai penjamin cadangan aset berbasis surat berharga AS, dan penerapan framework kepatuhan melalui Anchorage Digital Bank.
Langkah ini merupakan respons terhadap tekanan regulasi dan persaingan dengan pemain seperti USDC milik Circle, yang telah lama mendominasi pasar stablecoin patuh regulasi di AS. Meski USDT tetap menjadi "dolar bayangan" global yang dominan di negara berkembang, USAT berupaya membangun narasi kepatuhan guna memperluas pengaruh ke lembaga keuangan AS.
Transformasi ini berisiko mengingat sejarah Tether yang kerap dipertanyakan terkait transparansi dan struktur offshore-nya. Namun, dengan dukungan politis dan kelembagaan, Tether berpotensi mengubah paradigma dan bersaing langsung dalam lanskap stablecoin yang semakin kompetitif.
Penulis: Peggy, Lin Wanwan, BlockBeats
Aset paling stabil di pasar crypto, ternyata adalah dolar tanpa identitas.
Sepuluh tahun terakhir, USDT dengan aset $170 miliar dan likuiditas yang ada di mana-mana, telah menjadikan dirinya sebagai "dolar faktual" di dunia crypto. Tapi semakin sukses, semakin tajam kecemasan identitasnya: dolar tanpa dukungan AS, tetaplah sebuah celah.
Beberapa tahun ini, Circle mengajukan izin bank trust, Paxos membangun jaringan kliring global, Visa dan Mastercard juga memperkuat penyelesaian dengan stablecoin. Sebaliknya, Tether tetap terperangkap dalam narasi "kerajaan bayangan lepas pantai".
<p style="text-align: justify; font-size: 16px; font-weight: inherit; word-break: break-all; line-height: 极速翻译中,请稍等。剩余内容将尽快提供。