Delapan Bank Sentral Terbesar Dunia Masuk Arena, Ingin Berbagi Kue Stablecoin?
**Ringkasan:**
Bank for International Settlements (BIS) memimpin proyek Agorá, yang melibatkan delapan bank sentral utama (termasuk Federal Reserve New York, Bank of England, dan Bank of Canada yang baru bergabung) serta puluhan lembaga keuangan swasta seperti JPMorgan dan HSBC. Tujuannya adalah membangun sistem pembayaran lintas batas yang dapat diprogram, menggunakan token mata uang digital bank sentral (CBDC wholesale) untuk penyelesaian real-time.
Sistem ini dirancang dengan arsitektur dua lapis: lapisan cadangan bank sentral yang dikontrol penuh oleh masing-masing negara, dan lapisan operasional untuk bank komersial. Agorá menekankan kepatuhan penuh, dengan pemeriksaan anti-pencucian uang (AML) dan sanksi yang tertanam dalam token itu sendiri.
Proyek ini bertujuan menyederhanakan dan mempercepat pembayaran lintas batas yang saat ini lambat, bersaing dengan solusi berbasis stablecoin seperti Tether (USDT) atau USDC. Namun, Agorá adalah sistem tertutup yang terbatas untuk institusi besar yang diizinkan, bukan untuk publik.
Analisis menunjukkan kemungkinan pembagian pasar di masa depan: Agorá mungkin mendominasi penyelesaian lintas batas wholesale untuk institusi besar, sementara stablecoin di blockchain publik (seperti di Ripple atau Solana) tetap dominan untuk penggunaan ritel, pengiriman uang, dan perlindungan nilai di negara dengan inflasi tinggi. Tantangan terbesar Agorá bukanlah teknis, tetapi koordinasi regulasi antar banyak negara.
Pengembangan paralel oleh SWIFT (dengan ledger berbasis blockchain untuk bank komersial) dan adopsi teknologi ledger terdistribusi (DLT) oleh bank-bank besar menunjukkan transisi bertahap sistem keuangan global menuju infrastruktur digital yang lebih terprogram.
marsbit06/02 09:11