# Artikel Terkait Media

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "Media", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

Menentukan Harga bagi Interaksi Sosial: Mengapa Itu Pasti Gagal?

Penulis Anderl, melalui analisis teori media "panas" dan "dingin" Marshall McLuhan, menjelaskan mengapa upaya memberi harga pada interaksi sosial (SocialFi) pada akhirnya gagal. Media sosial pada dasarnya adalah media "dingin"—nilainya tercipta dari partisipasi aktif pengguna untuk melengkapi makna konten yang fragmentaris, seperti balasan dan diskusi. SocialFi (misalnya, Friend.tech) berusaha menambahkan lapisan keuangan dengan memberi harga real-time pada tindakan sosial (seperti mengikuti akun). Namun, ini justru mengubah media "dingin" menjadi media "panas"—sinyal menjadi tetap (harga), menghilangkan ruang untuk interpretasi dan partisipasi. Pengguna beralih dari partisipan menjadi spekulan. Ketika insentif finansial hilang, ekosistem sosial yang sebenarnya tidak pernah terbentuk, menyebabkan keruntuhan. Kegagalan serupa terlihat pada NFT. Awalnya, NFT adalah media "dingin" berbasis komunitas dan cerita. Namun, platform seperti OpenSea dengan harga real-time, peringkat kelangkaan, dan grafik pasar mengubahnya menjadi media "panas" murni spekulatif. Saat harga jatuh, nilai budaya dan komunitas lenyap. Jalan keluar yang berhasil, seperti Substack, Patreon, atau Bandcamp, adalah mempertahankan sifat media "dingin" secara keseluruhan, sementara mengizinkan modal mengendap hanya pada titik-titik tertentu yang terbatas (misalnya, langganan berbayar). Modal masuk tanpa "memanaskan" dan merusak seluruh ekosistem partisipatif. Kesimpulan utamanya: Memberikan likuiditas dan harga real-time pada setiap interaksi dalam media "dingin" akan mengubah sifat dasarnya dan menghancurkan nilai partisipasi yang menjadi intinya. Kunci keberhasilan adalah menemukan titik kondensasi modal yang tepat tanpa merusak sifat "dingin" media tersebut.

marsbit05/11 13:31

Menentukan Harga bagi Interaksi Sosial: Mengapa Itu Pasti Gagal?

marsbit05/11 13:31

Dalam Semalam, Para Bos Kripto Dikerjain Habis-habisan oleh Vanity Fair

Dalam artikel berjudul "Semalam, Para Bos Kripto Dipermalukan oleh Vanity Fair" karya Gu Yu dari ChainCatcher, majalah ternama Vanity Fair memuat foto sejumlah tokoh terkemuka industri kripto seperti Cathie Wood (ARK Invest), Olaf Carlson-Wee (Polychain), dan Michael Novogratz (Galaxy Digital) yang memicu gelombang kritik dan ejekan. Melalui artikel bertajuk "The Crypto True Believers Who Are Still Standing", Vanity Fair menyoroti upaya industri kripto—setelah melalui badai regulasi dan pasar—untuk mendefinisikan ulang peta kekuatan global pada 2026 melalui pendanaan politik dan narasi "penyelamat". Namun, alih-alih fokus pada tren industri, majalah tersebut justru menonjolkan detail kehidupan pribadi yang dianggap aneh dan kontradiktif, seperti obsesi mencari kehidupan alien, latihan survivalisme ekstrem, atau kebiasaan berjalan tanpa alas kaki di tempat umum. Para ahli seperti Noelle Acheson dan Dennison Bertram mengkritik sudut pandang merendahkan dan sinis dari Vanity Fair. Foto-foto sengaja dikomposisikan untuk membuat subjek terlihat kaku, tidak bersahabat, atau bahkan menyeramkan—seperti penggunaan sudut kamera yang merendahkan Cathie Wood atau pencahayaan yang menggelapkan wajah Novogratz. Jinelle D'Lima dari Nozomi menegaskan bahwa esensi kripto bukanlah tentang mencari pengakuan mainstream, melainkan tentang memberdayakan sistem yang tidak bergantung pada pihak berwenang. Artikel ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati industri kripto terletak pada kode yang tetap berjalan, bukan pada pengakuan media arus utama.

marsbit03/18 11:30

Dalam Semalam, Para Bos Kripto Dikerjain Habis-habisan oleh Vanity Fair

marsbit03/18 11:30

活动图片