# Artikel Terkait BIS

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "BIS", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin tidak hanya terletak pada kemungkinan "depegging" (kehilangan patokan nilai), tetapi pada tantangan untuk memasukkannya ke dalam sistem keuangan yang dapat diidentifikasi, dipantau, dipertanggungjawabkan, dan diregulasi. Laporan berjudul "Anchoring Trust in Money" menekankan bahwa uang bukan sekadar produk teknologi. Kepercayaan datang dari kerangka hukum, likuiditas, unit akun bersama, dan integritas keuangan. Dalam sistem tradisional, bank bertanggung jawab atas KYC, pemantauan transaksi, dan pelaporan. Sebaliknya, stablecoin yang beredar di blockchain tanpa izin menghadapi risiko kombinasi: anonimitas semu, dompet non-kustodial, jembatan lintas rantai, dan kurangnya kejelasan subjek hukum. Transparansi pada rantai (on-chain) tidak sama dengan transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak berarti identitas terungkap. Risiko stablecoin dapat merembes kembali ke keuangan tradisional melalui pintu masuk/keluar dana (on/off-ramp), platform perdagangan, dan akun pelanggan. Masa depan regulasi bukan melarang inovasi, tetapi "menanamkan aturan" ke dalam infrastruktur. Sistem keuangan token masa depan harus menyematkan identifikasi pelanggan, penyaringan risiko pra-transaksi, jejak data yang dapat diaudit, dan mekanisme kolaborasi lintas yurisdiksi sejak awal. Kepatuhan bukanlah penghalang, melainkan infrastruktur dasar yang memungkinkan inovasi keuangan berkelanjutan dan aman.

marsbit8j yang lalu

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

marsbit8j yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin bukan hanya ketidakstabilan nilai (de-pegging), tetapi kemampuan untuk diintegrasikan ke dalam sistem keuangan yang teridentifikasi, termonitor, dapat dipertanggungjawabkan, dan teregulasi. Dari perspektif kepatuhan, uang memerlukan kerangka institusional yang menjamin unit akun, pembayaran pasti, likuiditas, regulasi, dan integritas keuangan. Stablecoin, yang banyak beredar di blockchain tanpa izin, menghadapi tantangan dalam KYC, AML/CFT, dan kejelasan tanggung jawab karena pseudo-anonimitas, dompet non-tahanan, dan bridging antar-rantai. Transparansi data rantai-blok (on-chain) tidak secara otomatis berarti transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak sama dengan identitas yang diketahui. Risiko dari ekosistem stablecoin dapat berpindah kembali ke keuangan tradisional melalui titik on-ramp/off-ramp (pintu masuk/keluar dana). Oleh karena itu, arah masa depan yang diusulkan BIS adalah mengintegrasikan teknologi tokenisasi ke dalam sistem moneter berbasis bank sentral dan lembaga teratur, dengan menanamkan aturan sejak awal ("embedded rules"). Ini termasuk identifikasi klien, pra-skrining transaksi, penilaian risiko, jejak data yang dapat diaudit, serta mekanisme kolaborasi lintas lembaga dan yurisdiksi. Intinya, bagi profesional kepatuhan, setiap inovasi keuangan baru harus menjawab pertanyaan mendasar: Siapa yang mengidentifikasi klien, memantau transaksi, menangani anomali, dan bertanggung jawab? Kepatuhan bukanlah penghalang inovasi, melainkan infrastruktur dasar agar inovasi keuangan dapat berkelanjutan dan aman.

链捕手8j yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

链捕手8j yang lalu

Delapan Bank Sentral Terbesar Dunia Masuk Arena, Ingin Berbagi Kue Stablecoin?

**Ringkasan:** Bank for International Settlements (BIS) memimpin proyek Agorá, yang melibatkan delapan bank sentral utama (termasuk Federal Reserve New York, Bank of England, dan Bank of Canada yang baru bergabung) serta puluhan lembaga keuangan swasta seperti JPMorgan dan HSBC. Tujuannya adalah membangun sistem pembayaran lintas batas yang dapat diprogram, menggunakan token mata uang digital bank sentral (CBDC wholesale) untuk penyelesaian real-time. Sistem ini dirancang dengan arsitektur dua lapis: lapisan cadangan bank sentral yang dikontrol penuh oleh masing-masing negara, dan lapisan operasional untuk bank komersial. Agorá menekankan kepatuhan penuh, dengan pemeriksaan anti-pencucian uang (AML) dan sanksi yang tertanam dalam token itu sendiri. Proyek ini bertujuan menyederhanakan dan mempercepat pembayaran lintas batas yang saat ini lambat, bersaing dengan solusi berbasis stablecoin seperti Tether (USDT) atau USDC. Namun, Agorá adalah sistem tertutup yang terbatas untuk institusi besar yang diizinkan, bukan untuk publik. Analisis menunjukkan kemungkinan pembagian pasar di masa depan: Agorá mungkin mendominasi penyelesaian lintas batas wholesale untuk institusi besar, sementara stablecoin di blockchain publik (seperti di Ripple atau Solana) tetap dominan untuk penggunaan ritel, pengiriman uang, dan perlindungan nilai di negara dengan inflasi tinggi. Tantangan terbesar Agorá bukanlah teknis, tetapi koordinasi regulasi antar banyak negara. Pengembangan paralel oleh SWIFT (dengan ledger berbasis blockchain untuk bank komersial) dan adopsi teknologi ledger terdistribusi (DLT) oleh bank-bank besar menunjukkan transisi bertahap sistem keuangan global menuju infrastruktur digital yang lebih terprogram.

marsbit06/02 09:11

Delapan Bank Sentral Terbesar Dunia Masuk Arena, Ingin Berbagi Kue Stablecoin?

marsbit06/02 09:11

Studi Terbaru BIS: Stablecoin dan Masa Depan Lanskap Moneter Global

Studi BIS Terbaru: Masa Depan Stablecoin dan Lanskap Moneter Global Stablecoin telah berevolusi dari alat khusus di ekosistem kripto menjadi aset digital baru dengan fungsi pembayaran lintas batas dan penyimpan nilai, secara mendalam memengaruhi lanskap moneter internasional. Laporan BIS menganalisis karakteristik, mekanisme, dan dampak stablecoin terhadap sistem moneter internasional, serta mengusulkan tiga skenario masa depan dan arah regulasi. Pasar stablecoin didominasi oleh stablecoin berdenominasi dolar AS (mencapai 98% dari total kapitalisasi pasar), dengan USDT dan USDC memegang kendali. Aplikasi utamanya masih dalam ekosistem kripto (trading dan DeFi). Mekanisme operasinya mengikuti pola "sirkulasi on-chain + cadangan off-chain", yang pada dasarnya merupakan klaim swasta terhadap dolar AS lepas pantai dalam bentuk digital. Ini berbeda dari pasar Eurodolar tradisional karena tidak memiliki dukungan likuiditas bank sentral, sehingga stabilitasnya bergantung sepenuhnya pada kualitas aset cadangan. Dampak globalnya signifikan, terutama bagi negara ekonomi berkembang dan berkembang (EMDE). Stablecoin dolar AS menjadi saluran utama "digital dollarization", memfasilitasi pelarian modal dan melemahkan kedaulatan moneter serta efektivitas kebijakan di negara-negara dengan inflasi tinggi. Fungsi utamanya terlihat pada penyimpan nilai dan media transaksi sektor swasta, sementara fungsinya sebagai unit hitung dan penggunaan di sektor resmi masih terbatas. Laporan ini menguraikan tiga skenario masa depan: 1. **Skenario 1: Adopsi Terbatas** (Skenario dasar): Stablecoin tetap terbatas pada ekosistem kripto dengan sedikit penetrasi ekonomi riil. 2. **Skenario 2: Digital Dollarization** (Skenario berisiko tinggi): Stablecoin dolar AS menjadi standar de facto untuk pembayaran ritel lintas batas di EMDE, mengikis kedaulatan moneter secara signifikan. 3. **Skenario 3: Integrasi Stablecoin Mata Uang Lokal** (Skenario ideal): Negara-negara mengembangkan stablecoin mata uang lokal yang diatur dan terhubung dengan sistem pembayaran domestik dan CBDC untuk meningkatkan efisiensi tanpa risiko substitusi mata uang asing. Tantangan regulasi memerlukan kolaborasi global. Rekomendasi kebijakan inti mencakup: standar regulasi global yang seragam, penguatan kerja sama lintas batas, peningkatan pertahanan domestik (termasuk pengembangan CBDC) di EMDE, dan pencegahan aktivitas ilegal. Kesimpulannya, stablecoin adalah kekuatan struktural yang dapat memperkuat hegemoni dolar AS dalam jangka pendek namun masa depannya bergantung pada respons regulasi, inovasi instrumen digital lokal, dan jalur adopsi pasar.

链捕手06/01 03:01

Studi Terbaru BIS: Stablecoin dan Masa Depan Lanskap Moneter Global

链捕手06/01 03:01

活动图片