Banks Join Forces to Launch G7-Backed Digital Stablecoins

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-10-10Terakhir diperbarui pada 2025-10-10

A consortium of global banks is testing blockchain-based stablecoins pegged to G7 currencies, signaling a coordinated move toward digital money under institutional control. The group includes Bank of America, Citi, Deutsche Bank, Goldman Sachs, UBS, Santander, and BNP Paribas.

Announced on Friday, the coalition plans to explore the issuance of digital assets pegged to G7 currencies. The project aims to test how public blockchains can host fully compliant, institutionally backed stablecoins.

The initiative, still in its early stages, will evaluate whether such “digital money” could enhance cross-border settlements, liquidity management, and competition in global markets. It comes as rising crypto prices and renewed political support for blockchain, including from U.S. President Donald Trump, have reignited traditional finance’s interest in on-chain infrastructure.

“The goal is to assess whether an industry-wide framework can bring the efficiency of digital assets while meeting full regulatory and risk management standards,” the group said in a joint statement. 

Global banks’ foray into stablecoin landscape

Currently, the stablecoin market remains dominated by Tether (USDT), which controls roughly $179 billion of the $310 billion in circulation, as per DeFiLlama data. Traditional banks have so far struggled to compete, with only Societe Generale’s dollar-backed stablecoin reaching the market and circulating a modest $30.6 million to date.

The new banking initiative underscores a broader convergence between traditional financial institutions and blockchain-based systems. As banks experiment with regulated stablecoins, central banks are simultaneously exploring the inclusion of digital assets within their reserve portfolios, a shift recently highlighted by Deutsche Bank’s “Gold’s Reign, Bitcoin’s Rise” report.

According to the research, global central banks could diversify into Bitcoin and gold by 2030, reducing dependence on the U.S. dollar as a reserve currency. The study argues that Bitcoin’s falling volatility and growing institutional demand make it a modern equivalent of gold in a digital economy.

Deutsche Bank’s dual role, developing G7-backed stablecoins while advocating Bitcoin as a reserve asset, shows how institutions are hedging both sides of digital finance. With such moves, banks are currently blending liquidity management with value preservation, as the line between traditional reserves and crypto rapidly disappears.

Also Read: Bank of France Urges Direct EU Oversight of Crypto Firms


Mobile Only Image

Bacaan Terkait

Pemerintah AS untuk Pertama Kali Melonggarkan Larangan Kontrak Berjangka Kripto (Perpetual), Apa Artinya bagi Pasar?

**Ringkasan: AS Buka Pasar untuk Kontrak Berjangka Kripto Tanpa Jatuh Tempo (Perpetual Futures)** Pada 29 Mei, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) mengeluarkan pedoman yang secara efektif membuka pasar untuk kontrak berjangka kripto tanpa jatuh tempo (perpetual futures) yang dapat diperdagangkan 24/7 untuk warga dan platform terdaftar di AS. Kebijakan ini menandai perubahan signifikan, karena sebelumnya produk derivatif kripto ini hampir tidak dapat diakses di bawah regulasi AS. Pedoman CFTC menekankan bahwa aset kripto, karena infrastruktur digital dan perdagangan globalnya yang terus-menerus, sangat cocok untuk perdagangan dan penyelesaian 24 jam. Langkah ini dipuji oleh banyak pelaku industri sebagai langkah maju untuk menjadikan AS sebagai pusat kripto, dengan potensi menarik likuiditas kembali ke pasar domestik. **Penerima Manfaat Langsung:** * **Kalshi:** Mendapat persetujuan untuk meluncurkan kontrak perpetual pertamanya (BTCPERP). * **Coinbase:** Menjadi Futures Commission Merchant (FCM) pertama yang diatur CFTC, memungkinkan klien AS mengakses pasar derivatif global. * **CME:** Platform Globex-nya kini menawarkan perdagangan 24/7 untuk futures dan opsi Bitcoin, menutup "celah CME" di akhir pekan. CFTC menyatakan pendekatan ini khusus untuk kripto, mencatat bahwa komoditas tradisional seperti produk pertanian mungkin tidak cocok untuk model 24/7. Semua platform yang ingin menawarkan perdagangan 24/7 harus berkoordinasi dengan CFTC. **Tanggapan Industri:** Pimpinan perusahaan seperti Michael Saylor (MicroStrategy), Brian Armstrong (Coinbase), dan Tarek Mansour (Kalshi) menyambut baik keputusan ini sebagai pengembangan positif untuk pasar modal Bitcoin dan akses bagi investor AS. **Kritik:** Organisasi konsumen Better Markets mengkritik keputusan CFTC, menyatakan bahwa regulator mengabaikan perlindungan investor dengan tidak meminta pengungkapan risiko yang lebih jelas untuk produk kompleks ini, dan menuduh adanya hubungan yang terlalu dekat dengan industri. **Dampak ke Depan:** Pasar derivatif kripto bernilai puluhan triliun dolar kini terbuka untuk pengguna AS. Pertukaran seperti Kraken juga telah mengumumkan rencana untuk meluncurkan produk perpetual futures yang diatur di AS dalam waktu dekat, menandakan potensi periode pertumbuhan yang signifikan untuk perdagangan derivatif kripto di Amerika Serikat.

Odaily星球日报1j yang lalu

Pemerintah AS untuk Pertama Kali Melonggarkan Larangan Kontrak Berjangka Kripto (Perpetual), Apa Artinya bagi Pasar?

Odaily星球日报1j yang lalu

Bagaimana Undang-Undang CLARITY Mengubah Ekonomi Pendapatan Stablecoin

Artikel ini membahas dampak UU CLARITY (2026) terhadap ekonomi pendapatan stablecoin. Dibandingkan UU GENIUS (2025) yang hanya melarang penerbit membayar bunga, Pasal 404 UU CLARITY memperluas larangan ke semua penyedia layanan aset digital dan memperkenalkan pemisahan hukum antara "imbalan pasif" (dilarang) dan "imbalan berbasis aktivitas" (diizinkan). Perubahan ini menggeser paradigma dari "hold-to-earn" menjadi "use-to-earn". Sebagai antisipasi, raksasa manajemen aset seperti Morgan Stanley, BlackRock, dan JPMorgan meluncurkan reksa dana pasar uang ter-tokenisasi (MSNXX, BSTBL/BRSRV, JLTXX) antara 16 April - 12 Mei 2026. Produk ini dirancang sebagai infrastruktur pendapatan yang patut bagi cadangan stablecoin dalam paradigma baru. Artikel menganalisis tiga jalur potensial untuk meneruskan pendapatan kepada pengguna: 1) Imbalan berbasis aktivitas di bursa, 2) Pendapatan melalui protokol DeFi non-kustodial, dan 3) Melalui lapisan aset cadangan (reksa dana ter-tokenisasi). Jalur ketiga dianggap paling stabil secara kepatuhan. Artikel juga menyoroti risiko konsentrasi tinggi (90% cadangan USDtb di BUIDL) dan perdebatan tentang batas OCC 20% untuk aset cadangan ter-tokenisasi. Kemenangan jalur aset cadangan bisa memunculkan risiko sistematis baru. Kesimpulannya, UU CLARITY mendorong pergantian infrastruktur keuangan, di mana penyedia aset cadangan ter-tokenisasi diposisikan sebagai "Visa/Mastercard baru" di ekonomi dolar kripto.

marsbit3j yang lalu

Bagaimana Undang-Undang CLARITY Mengubah Ekonomi Pendapatan Stablecoin

marsbit3j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片