Tether Says It’s Planning a Comeback to the U.S. Market

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-07-23Terakhir diperbarui pada 2025-07-23

Tether, the world’s biggest stablecoin company, is planning to start doing business in the United States again. According to the CEO, Paolo Ardoino, they are developing a domestic strategy aimed at U.S. institutional markets. 

This comes shortly after President Donald Trump signed the GENIUS Act bill into law on July 18 at the White House. 

In an interview with Bloomberg, Ardoino said, “We are well in progress of establishing our US domestic strategy.” He explained that the plan will focus on offering a fast and reliable stablecoin for payments, interbank settlements, and trading.

Stablecoins are digital tokens tied to traditional money like the U.S. dollar. Tether’s USDT is the most traded stablecoin by volume globally, even more than Bitcoin. But the company hasn’t operated in the U.S. in recent years because of legal troubles. 

The GENIUS Act could change that by opening the door for more companies, including banks and tech firms, to issue their own stablecoins. 

Ardoino attended the bill signing at the White House, along with top names in the crypto world, including Coinbase CEO Brian Armstrong and Gemini co-founders Tyler and Cameron Winklevoss. 

Tether was previously fined nearly $60 million by U.S. authorities in 2021 and was banned from operating in New York. The fine came after claims that the company gave misleading information about its reserves. Ardoino said they’ve recently spoken to auditors about finally doing an official audit.

Right now, Circle is leading the U.S. stablecoin market with its coin, USDC, which has around $64 billion in circulation. Tether’s USDT, however, is much bigger globally, with about $162 billion in circulation. That number has grown by 18% since the beginning of the year. 

Circle went public in June this year, and its stock price has gone up by more than 500%. But Ardoino said Tether has no plans to become a public company. “In general we are not interested in becoming a public company,” he said.

Tether is currently based in El Salvador and continues to grow in emerging markets. Ardoino believes Tether has an edge in those regions. “We have a better technology, we have a much better understanding of this market than anyone else,” he said.

Also Read: VERT Launches $130M Tokenized Credit Platform on XRPL



Bacaan Terkait

Artikel Terbaru Li Feifei: Saat Video Generation, Robot, dan NVIDIA Mengaku Sebagai Model Dunia, Kita Membutuhkan Taksonomi

Artikel ini membahas konsep "world model" (model dunia) dalam kecerdasan buatan (AI) yang saat ini banyak digunakan dengan makna berbeda-beda. Fei-Fei Li mengusulkan taksonomi fungsional untuk mengklarifikasi kekacauan ini. Berdasarkan siklus interaksi agen-dunia dalam POMDP (Partially Observable Markov Decision Process), ia mengategorikan model dunia menjadi tiga jenis berdasarkan outputnya: 1. **Renderer (Perender):** Menghasilkan **observasi**, khususnya piksel yang ditujukan untuk mata manusia. Contohnya adalah model video seperti Sora atau sistem interaktif seperti Genie yang menghasilkan gambar berdasarkan input. Fokus utamanya adalah kesetiaan visual, bukan akurasi fisik. 2. **Simulator (Simulator):** Menghasilkan **state (keadaan)**, yaitu representasi dunia yang akurat secara geometri, fisika, dan dinamika. Simulator berfungsi sebagai landasan struktural untuk perhitungan, digunakan oleh profesional (arsitek, desainer) dan program komputer (robot, kendaraan otonom) untuk pelatihan dan pengujian. Contohnya adalah platform seperti NVIDIA Omniverse. 3. **Planner (Perencana):** Menghasilkan **tindakan**. Model ini menentukan langkah selanjutnya yang harus diambil sebuah agen berdasarkan observasi dan tujuan. Ini menutup lingkaran persepsi-aksi. Contohnya adalah model visi-bahasa-aksi (VLA) dan model aksi dunia (World Action Models). Artikel menyoroti bahwa **simulator adalah kunci penghubung** yang paling penting namun kurang mendapat perhatian publik. Simulator bekerja pada tingkat geometri dan fisika yang mendasarinya, sehingga pemahamannya dapat diproyeksikan ke dalam piksel (untuk renderer) atau prediksi konsekuensi tindakan (untuk planner). Tren terpenting saat ini adalah peleburan batas antara ketiga kategori ini, didorong oleh kesadaran bahwa pengetahuan dasar tentang dunia yang dibutuhkan adalah sama. Tujuan akhirnya adalah model dunia terpadu yang dapat beralih di antara rendering, simulasi, dan perencanaan sesuai kebutuhan. Perkembangan ini mendorong kemajuan menuju kecerdasan spasial, di mana mesin tidak hanya memahami bahasa tentang dunia, tetapi juga dapat memahami, membayangkan, bernalar, dan berinteraksi dengan dunia fisik itu sendiri.

marsbit43m yang lalu

Artikel Terbaru Li Feifei: Saat Video Generation, Robot, dan NVIDIA Mengaku Sebagai Model Dunia, Kita Membutuhkan Taksonomi

marsbit43m yang lalu

Esai Khusus Forbes: Pembayaran Lintas Batas dengan Stablecoin Lebih Cepat, Tapi Belum Lebih Murah

Pembayaran lintas batas menggunakan stablecoin berkembang pesat, dengan teknologi yang matang, lingkungan regulasi yang membaik, dan volume transaksi yang meningkat. Meskipun lebih cepat, dapat diakses, dan andal, janji untuk biaya yang lebih murah belum sepenuhnya terwujud. Saat ini, pedagang valas sering mengenakan biaya 60-70 basis poin untuk pembayaran pemasok lintas batas, sementara stablecoin berpotensi menurunkannya menjadi 2-5 basis poin. Namun, kolam likuiditas yang dalam untuk mewujudkan penghematan ini belum terbangun secara masif. Menurut Imran Ahmad dari Bitso Business, keunggulan biaya masih teoritis hingga likuiditas institusional besar-besaran mengalir ke saluran ini. Hambatan adopsi utama adalah kepercayaan. Banyak bisnis memiliki hubungan lama dan tepercaya dengan pedagang valas tradisional, yang dianggap lebih dapat diandalkan meski lebih mahal. Peralihan akan terjadi secara bertahap seiring perbedaan harga yang semakin jelas dan generasi baru yang lebih terbuka. Perusahaan sukses seperti Caliza tidak berusaha menggantikan infrastruktur lama seperti SWIFT, melainkan melengkapinya. Mereka menggunakan stablecoin untuk kecepatan, tetapi tetap memanfaatkan sistem tradisional untuk memastikan keakuratan detail pembayaran yang kritis. Pertumbuhan Caliza yang konsisten (lebih dari 40% bulan-ke-bulan) menunjukkan kekuatan pendekatan hybrid ini. Masa depan industri ini akan ditentukan oleh tiga faktor kunci: lisensi, akses on/off-ramp mata uang fiat, dan likuiditas. Konsolidasi diperkirakan akan terjadi, di mana hanya perusahaan dengan fondasi kuat di ketiga area ini yang akan bertahan sebagai bisnis yang berkelanjutan, bukan sekadar perantara.

链捕手51m yang lalu

Esai Khusus Forbes: Pembayaran Lintas Batas dengan Stablecoin Lebih Cepat, Tapi Belum Lebih Murah

链捕手51m yang lalu

Trading

Spot
活动图片