South Korea Tells Asset Managers to Curb Crypto Exposure in ETFs

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-07-23Terakhir diperbarui pada 2025-07-23

The Financial Supervisory Service (FSS) in South Korea released verbal guidelines directing domestic asset management companies to limit their exchange-traded fund (ETF) exposure to cryptocurrency-related businesses. 

According to The Korea Herald, the directive was issued as the nation negotiates a changing regulatory environment of digital assets. The FSS is in charge of managing the daily activities of South Korean financial institutions and acts as the executive branch of the Financial Services Commission (FSC). It communicated the verbal instructions earlier this month. 

The agency referenced the FSC 2017 administrative guidelines. These prohibit regulated financial institutions from acquiring or holding virtual assets or investing in companies tied directly to the crypto sector, such as Coinbase and MicroStrategy.

Domestic financial firms have reacted negatively to the decision, claiming that the limits lead to an imbalance in regulation. Retail investors can still access U.S.-listed ETFs with comparable crypto exposure, but institutional investors are subject to restrictions.

An unnamed FSS official told The Korea Herald that the 2017 guidelines remain in effect until new regulatory frameworks are fully established, despite ongoing changes in both South Korean and U.S. regulatory environments.

Under newly elected President Lee Jae Myung, who has publicly backed crypto innovation, the change accelerated. Promoting regional stablecoins based on the Korean won and introducing spot crypto ETFs domestically have been top priorities for his government. 

This shift in policy expands on more extensive adjustments made following the U.S.’s more pro-crypto stance under President Donald Trump. Earlier in 2025, South Korea began unwinding its informal ban on institutional crypto trading.

With over 18 million active crypto investors by the end of 2024, South Korea remains one of the world’s most vibrant digital asset markets. And it is particularly known for its strong retail appetite for altcoins.

Also read: South Korean Bitmax Adds $5.2M Bitcoin to Treasury



Bacaan Terkait

Artikel Terbaru Li Feifei: Saat Video Generation, Robot, dan NVIDIA Mengaku Sebagai Model Dunia, Kita Membutuhkan Taksonomi

Artikel ini membahas konsep "world model" (model dunia) dalam kecerdasan buatan (AI) yang saat ini banyak digunakan dengan makna berbeda-beda. Fei-Fei Li mengusulkan taksonomi fungsional untuk mengklarifikasi kekacauan ini. Berdasarkan siklus interaksi agen-dunia dalam POMDP (Partially Observable Markov Decision Process), ia mengategorikan model dunia menjadi tiga jenis berdasarkan outputnya: 1. **Renderer (Perender):** Menghasilkan **observasi**, khususnya piksel yang ditujukan untuk mata manusia. Contohnya adalah model video seperti Sora atau sistem interaktif seperti Genie yang menghasilkan gambar berdasarkan input. Fokus utamanya adalah kesetiaan visual, bukan akurasi fisik. 2. **Simulator (Simulator):** Menghasilkan **state (keadaan)**, yaitu representasi dunia yang akurat secara geometri, fisika, dan dinamika. Simulator berfungsi sebagai landasan struktural untuk perhitungan, digunakan oleh profesional (arsitek, desainer) dan program komputer (robot, kendaraan otonom) untuk pelatihan dan pengujian. Contohnya adalah platform seperti NVIDIA Omniverse. 3. **Planner (Perencana):** Menghasilkan **tindakan**. Model ini menentukan langkah selanjutnya yang harus diambil sebuah agen berdasarkan observasi dan tujuan. Ini menutup lingkaran persepsi-aksi. Contohnya adalah model visi-bahasa-aksi (VLA) dan model aksi dunia (World Action Models). Artikel menyoroti bahwa **simulator adalah kunci penghubung** yang paling penting namun kurang mendapat perhatian publik. Simulator bekerja pada tingkat geometri dan fisika yang mendasarinya, sehingga pemahamannya dapat diproyeksikan ke dalam piksel (untuk renderer) atau prediksi konsekuensi tindakan (untuk planner). Tren terpenting saat ini adalah peleburan batas antara ketiga kategori ini, didorong oleh kesadaran bahwa pengetahuan dasar tentang dunia yang dibutuhkan adalah sama. Tujuan akhirnya adalah model dunia terpadu yang dapat beralih di antara rendering, simulasi, dan perencanaan sesuai kebutuhan. Perkembangan ini mendorong kemajuan menuju kecerdasan spasial, di mana mesin tidak hanya memahami bahasa tentang dunia, tetapi juga dapat memahami, membayangkan, bernalar, dan berinteraksi dengan dunia fisik itu sendiri.

marsbit2j yang lalu

Artikel Terbaru Li Feifei: Saat Video Generation, Robot, dan NVIDIA Mengaku Sebagai Model Dunia, Kita Membutuhkan Taksonomi

marsbit2j yang lalu

Esai Khusus Forbes: Pembayaran Lintas Batas dengan Stablecoin Lebih Cepat, Tapi Belum Lebih Murah

Pembayaran lintas batas menggunakan stablecoin berkembang pesat, dengan teknologi yang matang, lingkungan regulasi yang membaik, dan volume transaksi yang meningkat. Meskipun lebih cepat, dapat diakses, dan andal, janji untuk biaya yang lebih murah belum sepenuhnya terwujud. Saat ini, pedagang valas sering mengenakan biaya 60-70 basis poin untuk pembayaran pemasok lintas batas, sementara stablecoin berpotensi menurunkannya menjadi 2-5 basis poin. Namun, kolam likuiditas yang dalam untuk mewujudkan penghematan ini belum terbangun secara masif. Menurut Imran Ahmad dari Bitso Business, keunggulan biaya masih teoritis hingga likuiditas institusional besar-besaran mengalir ke saluran ini. Hambatan adopsi utama adalah kepercayaan. Banyak bisnis memiliki hubungan lama dan tepercaya dengan pedagang valas tradisional, yang dianggap lebih dapat diandalkan meski lebih mahal. Peralihan akan terjadi secara bertahap seiring perbedaan harga yang semakin jelas dan generasi baru yang lebih terbuka. Perusahaan sukses seperti Caliza tidak berusaha menggantikan infrastruktur lama seperti SWIFT, melainkan melengkapinya. Mereka menggunakan stablecoin untuk kecepatan, tetapi tetap memanfaatkan sistem tradisional untuk memastikan keakuratan detail pembayaran yang kritis. Pertumbuhan Caliza yang konsisten (lebih dari 40% bulan-ke-bulan) menunjukkan kekuatan pendekatan hybrid ini. Masa depan industri ini akan ditentukan oleh tiga faktor kunci: lisensi, akses on/off-ramp mata uang fiat, dan likuiditas. Konsolidasi diperkirakan akan terjadi, di mana hanya perusahaan dengan fondasi kuat di ketiga area ini yang akan bertahan sebagai bisnis yang berkelanjutan, bukan sekadar perantara.

链捕手2j yang lalu

Esai Khusus Forbes: Pembayaran Lintas Batas dengan Stablecoin Lebih Cepat, Tapi Belum Lebih Murah

链捕手2j yang lalu

Trading

Spot
活动图片