Falcon Finance Hits $50M in TVL as Demand for Synthetic Dollars Dials Up

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-03-05Terakhir diperbarui pada 2025-03-05

Abstrak

Falcon Finance, the protocol for synthetic dollars, has hit a major milestone after reaching $50M in total value locked (TVL)....

Falcon Finance, the protocol for synthetic dollars, has hit a major milestone after reaching $50M in total value locked (TVL). The benchmark is particularly impressive given that Falcon is still in closed beta. In little more than a fortnight, Falcon’s TVL has doubled from its previous $25M threshold. The people, it appears, want tokenized dollars for the yield-bearing properties they provide.

Yield Chasers Zero In on Falcon

Finding sustainable yield in DeFi has become something of a treasure hunt that everyone from retail users to AI agents and institutions are embarked on. And in USDf, they seem to have found it and are loading up with size. While some aspects of Falcon’s protocol mirror those of other dollar-minting projects – starting with staking crypto assets to create an overcollateralized position – others are markedly different.

Specifically, USDf can be staked to create sUSDf, a yield-bearing synthetic dollar that provides an attractive APY that currently exceeds 22%. It’s an enticing proposition for DeFi users seeking a haven from market volatility and the opportunity to grow their portfolio. While retail users account for a good portion of the $50M in TVL it’s accrued, USDf is also attracting attention from institutions seeking yield that keeps flowing in whatever the broader market outlook.

The Dollar That Does It All

As Falcon’s whitepaper explains, the yield attainable on USDf comes from “basis spread, funding rate arbitrage, and advanced risk-adjusted yield generation strategies.” By incorporating a diverse range of institutional yield generation strategies, Falcon’s system aims to preserve the value of user deposits while keeping yields at an attractive level.

So far, it’s an approach that’s been paying dividends, with DeFi players entering the fray and putting their capital to work. Falcon has been aided in its efforts to build out its protocol by a $10M allocation from DeXe Protocol which got the ball rolling. DeXe is best known for its decentralized governance model, which allows token holders to select strategies that align with their interests and in USDf they’ve found a good fit.

Crypto Collateral Kickstarts the Process

From a user perspective, the wide range of collateral assets that Falcon accepts allow for flexibility, with USDC, USDT, FDUSD, BTC, and ETH all available to deposit as well as stablecoins. Individuals who are bullish on the crypto market, for example, may choose to deposit BTC or ETH, while those who are bearish or neutral can choose a non-volatile stablecoin option.

Once a deposit is completed, Falcon issues USDF to the user’s wallet and then they can start putting their synthetic dollars to work. Falcon is a KYC’d protocol, it should be noted, which is required in order to mint and redeem USDf. This requirement doesn’t appear to have diminished demand for its high-yield solution however. Falcon Finance is currently open to whitelisted users while its closed beta is completed. From there, it will open its doors to the full spectrum of onchain users, whereupon TVL is expected to soar.

 

Bitcoinist

Bitcoinist

Bitcoinist is the ultimate news and review site for the crypto currency community!

Bacaan Terkait

Artikel Terbaru Li Feifei: Saat Video Generation, Robot, dan NVIDIA Mengaku Sebagai Model Dunia, Kita Membutuhkan Taksonomi

Artikel ini membahas konsep "world model" (model dunia) dalam kecerdasan buatan (AI) yang saat ini banyak digunakan dengan makna berbeda-beda. Fei-Fei Li mengusulkan taksonomi fungsional untuk mengklarifikasi kekacauan ini. Berdasarkan siklus interaksi agen-dunia dalam POMDP (Partially Observable Markov Decision Process), ia mengategorikan model dunia menjadi tiga jenis berdasarkan outputnya: 1. **Renderer (Perender):** Menghasilkan **observasi**, khususnya piksel yang ditujukan untuk mata manusia. Contohnya adalah model video seperti Sora atau sistem interaktif seperti Genie yang menghasilkan gambar berdasarkan input. Fokus utamanya adalah kesetiaan visual, bukan akurasi fisik. 2. **Simulator (Simulator):** Menghasilkan **state (keadaan)**, yaitu representasi dunia yang akurat secara geometri, fisika, dan dinamika. Simulator berfungsi sebagai landasan struktural untuk perhitungan, digunakan oleh profesional (arsitek, desainer) dan program komputer (robot, kendaraan otonom) untuk pelatihan dan pengujian. Contohnya adalah platform seperti NVIDIA Omniverse. 3. **Planner (Perencana):** Menghasilkan **tindakan**. Model ini menentukan langkah selanjutnya yang harus diambil sebuah agen berdasarkan observasi dan tujuan. Ini menutup lingkaran persepsi-aksi. Contohnya adalah model visi-bahasa-aksi (VLA) dan model aksi dunia (World Action Models). Artikel menyoroti bahwa **simulator adalah kunci penghubung** yang paling penting namun kurang mendapat perhatian publik. Simulator bekerja pada tingkat geometri dan fisika yang mendasarinya, sehingga pemahamannya dapat diproyeksikan ke dalam piksel (untuk renderer) atau prediksi konsekuensi tindakan (untuk planner). Tren terpenting saat ini adalah peleburan batas antara ketiga kategori ini, didorong oleh kesadaran bahwa pengetahuan dasar tentang dunia yang dibutuhkan adalah sama. Tujuan akhirnya adalah model dunia terpadu yang dapat beralih di antara rendering, simulasi, dan perencanaan sesuai kebutuhan. Perkembangan ini mendorong kemajuan menuju kecerdasan spasial, di mana mesin tidak hanya memahami bahasa tentang dunia, tetapi juga dapat memahami, membayangkan, bernalar, dan berinteraksi dengan dunia fisik itu sendiri.

marsbit2j yang lalu

Artikel Terbaru Li Feifei: Saat Video Generation, Robot, dan NVIDIA Mengaku Sebagai Model Dunia, Kita Membutuhkan Taksonomi

marsbit2j yang lalu

Esai Khusus Forbes: Pembayaran Lintas Batas dengan Stablecoin Lebih Cepat, Tapi Belum Lebih Murah

Pembayaran lintas batas menggunakan stablecoin berkembang pesat, dengan teknologi yang matang, lingkungan regulasi yang membaik, dan volume transaksi yang meningkat. Meskipun lebih cepat, dapat diakses, dan andal, janji untuk biaya yang lebih murah belum sepenuhnya terwujud. Saat ini, pedagang valas sering mengenakan biaya 60-70 basis poin untuk pembayaran pemasok lintas batas, sementara stablecoin berpotensi menurunkannya menjadi 2-5 basis poin. Namun, kolam likuiditas yang dalam untuk mewujudkan penghematan ini belum terbangun secara masif. Menurut Imran Ahmad dari Bitso Business, keunggulan biaya masih teoritis hingga likuiditas institusional besar-besaran mengalir ke saluran ini. Hambatan adopsi utama adalah kepercayaan. Banyak bisnis memiliki hubungan lama dan tepercaya dengan pedagang valas tradisional, yang dianggap lebih dapat diandalkan meski lebih mahal. Peralihan akan terjadi secara bertahap seiring perbedaan harga yang semakin jelas dan generasi baru yang lebih terbuka. Perusahaan sukses seperti Caliza tidak berusaha menggantikan infrastruktur lama seperti SWIFT, melainkan melengkapinya. Mereka menggunakan stablecoin untuk kecepatan, tetapi tetap memanfaatkan sistem tradisional untuk memastikan keakuratan detail pembayaran yang kritis. Pertumbuhan Caliza yang konsisten (lebih dari 40% bulan-ke-bulan) menunjukkan kekuatan pendekatan hybrid ini. Masa depan industri ini akan ditentukan oleh tiga faktor kunci: lisensi, akses on/off-ramp mata uang fiat, dan likuiditas. Konsolidasi diperkirakan akan terjadi, di mana hanya perusahaan dengan fondasi kuat di ketiga area ini yang akan bertahan sebagai bisnis yang berkelanjutan, bukan sekadar perantara.

链捕手2j yang lalu

Esai Khusus Forbes: Pembayaran Lintas Batas dengan Stablecoin Lebih Cepat, Tapi Belum Lebih Murah

链捕手2j yang lalu

Trading

Spot
活动图片