Fully Functional Ripple Stablecoin (RLUSD) Will Not Launch This Year: Expert

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2024-09-30Terakhir diperbarui pada 2024-10-01

Abstrak

The XRP community is currently abuzz with speculation regarding the imminent release of the Ripple stablecoin, RLUSD. Contrary to widespread...

The XRP community is currently abuzz with speculation regarding the imminent release of the Ripple stablecoin, RLUSD. Contrary to widespread rumors, Vet (@Vet_X0), a recognized XRPL dUNL validator and co-founder of the leading NFT marketplace on the XRP Ledger “xrp.cafe,” has clarified that the RLUSD will not be fully functional on the XRPL this year.

Why The Ripple Stablecoin Will Not Be Fully Operational This Year

In a detailed post on X, Vet explains the technical constraints: “Expectation management! RLUSD will either only launch on ETH this year, or they launch also on the XRPL but without the ability to be used in the AMM on the XRP Ledger initially, but with the DEX orderbook. I expect, or rather hope, for the latter.”

Vet further elaborated on the reasons, pointing to the ‘clawback’ feature enabled on RLUSD, which the XRP Ledger currently does not support in its Automated Market Maker (AMM). “RLUSD is a stablecoin with clawback settings enabled. Tokens with this setting are denied by the XRP Ledger to be used in the AMM. There are amendments in the works to help solving this,” Vet added.

The key amendments cited by Vet include XLS-73 AMM Clawback and XLS-77, which are designed to enhance control over trustlines and restrict the transferability of RLUSD under certain conditions. XLS-73 aims to modify the AMM system to accommodate assets with clawback features, while XLS-77 is intended to allow for a more comprehensive freeze of Trustlines further securing the network against misuse by blacklisted accounts.

“In other words, because the XRPL is decentralized these amendments are impossible to predict when they will come, especially given the fatigue I observed. I love seeing people be excited about things happening on chain via the tracker I made, educating themselves on trustlines and IOUs on the XRPL is exactly where I want attention to go to, as opposed to screenshots of articles, partnerships and secret committee hot air talk,” Vet concluded.

Notably, Ripple Chief Technology Officer (CTO) David “JoelKatz” Schwartz did not dispute Vet’s overall assessment but did provide a clarification on a specific technical point in Vet’s explanation. In a commentary on X, Schwartz noted: “FWIW, I’m not sure I like the description of XLS-77 as a ‘deeper’ freeze. If anything, it’s less deep. Unless I’m missing something, in any case where XLS-77 makes a difference, an asset that would have been frozen is, instead, not frozen.”

Vet responded to Schwartz’s critique by refining his terminology, acknowledging the complexity of the terms and their implications across the XRPL infrastructure: “Good point…hmmm…in my mind it made sense because the freeze goes beyond the trustline, it includes the payment engine and dex – maybe that’s why ‘deep.'”

Daniel Keller, another well-known figure within the XRP community, sought further clarification if the core statement about the Ripple stablecoin is pure speculation or a fact. Vet confirmed the technical barriers: “Confirmed by the XRP Ledger that it’s not possible. Unconfirmed what way they will go, only ETH or ETH and XRPL but with the AMM restrictions.”

At press time, XRP traded at $0.6344.

XRP price
XRP faces the 0.236 Fib, 1-week chart | Source: XRPUSDT on TradingView.com
Featured image created with DALL.E, chart from TradingView.com
Jake Simmons

Jake Simmons

Jake Simmons has been a Bitcoin enthusiast since 2016. Ever since he heard about Bitcoin, he has been studying the topic every day and trying to share his knowledge with others. His goal is to contribute to Bitcoin's financial revolution, which will replace the fiat money system. Besides BTC and crypto, Jake studied Business Informatics at a university. After graduation in 2017, he has been working in the blockchain and crypto sector. You can follow Jake on Twitter at @realJakeSimmons.

Bacaan Terkait

Di Era AI, Apa Lagi yang Tersisa dari Bitcoin?

**Era AI: Apa yang Tersisa dari Bitcoin?** Penulis merenungkan hubungan antara AI dan Bitcoin. AI telah membuat produksi konten—seperti teks, gambar, dan video—semakin murah dan mudah didapat. Namun, hal ini menyebabkan banjir informasi, di mana yang asli dan palsu semakin sulit dibedakan. Nilai "keterverifikasian" menjadi sangat berharga. Di sinilah peran Bitcoin dilihat kembali. Kritik bahwa Bitcoin "membuang-buang listrik" dipertimbangkan ulang. Jika AI menghabiskan energi untuk "kemampuan" (menghasilkan konten), Bitcoin menghabiskannya untuk "keterverifikasian." Jaringan Bitcoin, yang diamankan oleh bukti kerja (proof-of-work), membuat biaya untuk memanipulasi catatan transaksi menjadi sangat tinggi. Ini menciptakan sistem buku besar yang tidak bergantung pada kepercayaan terhadap pihak manapun, melainkan pada verifikasi kriptografis yang independen. Penulis menarik analogi dengan sejarah: mesin cetak Gutenberg (seperti AI) mengurangi biaya reproduksi pengetahuan, sementara pembukuan double-entry (seperti blockchain) mengurangi biaya kepercayaan dalam bisnis. Saat ini, AI mendorong biaya produksi konten mendekati nol, sementara blockchain berupaya mengurangi biaya verifikasi dalam dunia digital. Kesimpulannya, AI dan blockchain bukanlah pesaing. AI berfokus pada **penciptaan** (mengurangi biaya produksi), sementara blockchain seperti Bitcoin berfokus pada **pembuktian** (mengurangi biaya verifikasi). Di era di mana AI dapat menghasilkan segalanya, yang menjadi langka bukanlah lebih banyak konten, melainkan lebih banyak fakta yang dapat diverifikasi secara independen. Bitcoin, dalam pandangan ini, adalah "mesin penghasil keterverifikasian."

marsbit1j yang lalu

Di Era AI, Apa Lagi yang Tersisa dari Bitcoin?

marsbit1j yang lalu

Era AI, Apa yang Tersisa dari Bitcoin?

Dalam era AI, kemampuan untuk menghasilkan konten palsu menjadi semakin mudah dan murah, sehingga meragukan keaslian informasi. Hal ini menggeser nilai dari kelimpahan informasi menjadi kemampuan untuk memverifikasi keasliannya. Bitcoin, yang sering dikritik karena konsumsi energinya yang besar, sekarang dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda: energi itu digunakan untuk menciptakan "keterverifikasian," bukan sekadar mempertahankan buku besar. Bitcoin tidak memerlukan kepercayaan pada pihak ketiga; ia mengandalkan matematika, kriptografi, dan jaringan node global untuk memverifikasi setiap transaksi. Dalam dunia di mana AI dapat memalsukan konten dengan mudah, kemampuan Bitcoin untuk menyediakan catatan yang tidak dapat dimanipulasi menjadi sangat berharga. Konsumsi energinya secara efektif meningkatkan biaya untuk memanipulasi sejarah transaksi, sehingga menjamin integritasnya. AI dan Bitcoin bukanlah pesaing; mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. AI menurunkan biaya produksi konten, sementara blockchain (dengan Bitcoin sebagai contoh utama) menurunkan biaya verifikasi dan membangun kepercayaan dalam dunia digital. Seperti mesin cetak dan pembukuan double-entry pada masa Renaissance, keduanya memainkan peran pelengkap: satu menciptakan, yang lain membuktikan. Dalam era kelebihan informasi ini, apa yang menjadi langka dan berharga adalah fakta yang dapat diverifikasi secara independen.

链捕手1j yang lalu

Era AI, Apa yang Tersisa dari Bitcoin?

链捕手1j yang lalu

Label 'ghain hantu' Cardano terbantahkan? Mengapa 34 dApp ADA tidak menggambarkan keseluruhan cerita

Judul artikel membantah label "rantai hantu" yang dilekatkan pada Cardano, dengan menjelaskan mengapa hanya memiliki 34 dApps tidak menggambarkan situasi sebenarnya. Artikel ini mendefinisikan "rantai hantu" sebagai blockchain yang berjalan secara teknis namun memiliki aktivitas on-chain dan pengembangan yang sangat minimal. Sementara Cardano menunjukkan aktivitas pengembangan yang kuat (tertinggi kedua di antara Layer-1 utama), metrik seperti jumlah dApps, transaksi, dan pengguna aktifnya jauh di bawah pesaing seperti Ethereum, Solana, atau TRON. Penulis mengakui faktor-faktor yang dikritik, seperti penutupan explorer TapTools dan peringatan pendiri Charles Hoskinson mengenai tantangan proyek dApp. Namun, penjelasan utama untuk kesenjangan aktivitas ini terletak pada model Extended Unspent Transaction Output (EUTXO) Cardano. Model ini memungkinkan protokol "batcher" menggabungkan banyak pesanan menjadi satu transaksi teroptimasi sebelum dicatat di ledger, yang mengakibatkan perkiraan aktivitas on-chain yang lebih rendah secara statistik. Kesimpulannya, meskipun aktivitas jaringan Cardano lebih rendah, hal itu tidak serta-merta membuatnya menjadi "rantai hantu". Perbedaan arsitektur (EUTXO) dan fokusnya pada keamanan, keberlanjutan, serta metodologi pengembangan yang ketat menempatkannya dalam ceruk yang unik untuk kepatuhan institusional dan kebutuhan perusahaan, dibandingkan dengan blockchain lain yang mengutamakan throughput tinggi atau volume DeFi.

ambcrypto2j yang lalu

Label 'ghain hantu' Cardano terbantahkan? Mengapa 34 dApp ADA tidak menggambarkan keseluruhan cerita

ambcrypto2j yang lalu

Trading

Spot
活动图片