U.S. SEC's Knock From Congressional Watchdog May Not Budge Crypto Accounting Policy

CoinDeskPolicyDipublikasikan tanggal 2023-11-01Terakhir diperbarui pada 2023-11-02

Abstrak

Even if the agency is forced by the GAO finding to submit its Staff Accounting Bulletin 121 to Congress for review, lawmakers probably won't strangle the policy, according to...

  • The Government Accountability Office handed the U.S. Securities and Exchange Commission another high-profile setback in its crypto policies, declaring the agency erred in not treating SAB 121 as a rule under the Congressional Review Act.
  • Crypto observers doubt Congress will overturn the policy, but the finding may echo through other legal disputes.

As the U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) Chair keeps chasing non-compliance in crypto, his agency was slammed by the watchdog Government Accountability Office (GAO) for its own compliance failure in issuing crypto accounting standards without treating the policy as a formal rule.

10

So, what now? In practical terms, probably nothing much.

The agency is likely to rectify the accusation that it sidestepped the Congressional Review Act (CRA) by submitting Staff Accounting Bulletin 121 (SAB 121) to Congress, as the GAO argued should have been done when the controversial policy was issued in 2022.

A D V E R T I S E M E N T
A D V E R T I S E M E N T

Under the review act, Congress is meant to get a chance to overturn new federal rules before their ink dries. But the current Senate and House of Representatives are split between political parties, and the closely divided Congress is unlikely to agree on what to do with SAB 121, despite the goals of some Republicans.

"This sets an incredibly dangerous precedent," said U.S. Sen. Cynthia Lummis (R-Wyo.), the lawmaker who originally requested the GAO review. "I plan to use the Congressional Review Act to block this rule in the coming weeks."

The accounting bulletin basically instructed financial institutions that when they take in customers' crypto assets, they should factor those assets into their own balance sheets – effectively telling banks to maintain expensive capital reserves against their customers' digital assets.

"Ultimately, this would deter institutions and firms from offering custodial services – denying Americans access to safe and secure custody of their assets," said Rep. Patrick McHenry (R-N.C.), the chairman of the House Financial Services Committee that oversees the SEC. "SAB 121 was drafted with zero input from prudential regulators and the public, and now Congress must step in to block this harmful rule."

If the SEC sends SAB 121 as a "rule" to Congress under the CRA, both chambers have about two months to pass a resolution repealing it.

Meanwhile, the SEC isn't showing signs of budging on the bulletin.

"The GAO opinion expresses its view that SAB 121 is a 'rule' for purposes of the CRA," the SEC said in a statement this week. "The opinion does not otherwise affect the status of SAB 121."

A D V E R T I S E M E N T
A D V E R T I S E M E N T

Will Congress act?

While the Republican-led House may embrace a reversal of the SEC's push into crypto accounting, crypto insiders are saying, the Senate is controlled by Democrats who are usually sympathetic to Gensler's SEC. And President Joe Biden is unlikely to favor bucking his hand-picked SEC chair. If Democrats rose up against the Democrat-majority SEC, a rejection of SAB 121 would mean the bulletin would be wiped in its entirety, and the agency would also be disallowed from introducing another rule that takes the same approach.

The CRA has been around for nearly three decades but had hardly been used until recent years, most notably when Republicans overturned 16 rules during the Trump administration.

As it stands, the SEC's crypto accounting bulletin is technically nonbinding, though various U.S. industries have long argued that there's no such thing as nonbinding guidance from federal regulators, and Republican lawmakers have waged battles in the past over agencies using guidance in place of going through the many hoops of formal rulemaking.

SAB 121 has been chasing large banks and brokers away from the crypto sector, said Paul McCaffery, who works as a managing director focusing on digital assets at Keefe, Bruyette & Woods, a banking firm that services the financial sector. When people can't find a regulated home for their assets, they go to the unregulated firms that are more prone to disaster, he argued.

A D V E R T I S E M E N T
A D V E R T I S E M E N T

"It's not to be underestimated how much of an industry killer this was in terms of institutional adoption," McCaffery said. "The reversal of SAB 121 would be way bigger news to me than a spot ETF approval."

While he doesn't expect Congress to repeal the SEC policy, he said it's "very exciting that at least it's getting the focus it deserves" and that the agency is experiencing more backlash connected to what he argued was its repeated crypto "overreach."

Legal implications

Even if Congress doesn't come after SAB 121, the GAO's observation could have other legal implications.

Crypto firms that have been stymied in finding suitable custodians for their assets could consider legal challenges against the regulator. And if the SEC pursued enforcement actions on this point of accounting, its targets could accuse the agency of failing to follow the Administrative Procedure Act (APA) to handle the bulletin as a full-fledged rule with proper comment periods, as the GAO's finding would suggest was the appropriate course.

"The SEC should not have deprived the public of their opportunity to be heard pursuant to the APA's notice and comment procedures," Blockchain Association Senior Counsel Marisa Coppel had said in a statement after the GAO release.

So the fight over the agency's crypto accounting views may not stop at Congress.

Edited by Daniel Kuhn.

Bacaan Terkait

Membongkar HyperEVM: Aplikasi Apa yang Benar-benar Dapat Mengambil Inti Manfaat dari Hyperliquid?

**Ringkasan: Membongkar HyperEVM: Aplikasi Mana yang Dapat Menikmati Manfaat Inti Hyperliquid?** HyperEVM adalah lapisan kontrak pintar yang nilai utamanya terletak pada kemampuannya memberikan akses aplikasi ke data perdagangan, kolateral, posisi, dan risiko dari HyperCore. Aplikasi berharga di HyperEVM harus memenuhi tiga kriteria: membutuhkan logika EVM yang fleksibel, bergantung pada status unik HyperCore, dan meningkatkan utilitas Hyperliquid sebagai pusat keuangan. Pendekatan Hyperliquid yang unik adalah "pertukaran pertama" (exchange-first), bukan "rantai dulu" (chain-first). Ini membuat HyperEVM menjadi sarana untuk memprogram pertukaran itu sendiri, bukan sekadar tempat menyalin DeFi. Evaluasi aplikasi dapat dilihat dalam matriks 2x2: 1. **Keuangan EVM Lokal:** Aplikasi seperti AMM dan pasar uang (contoh: Felix, HyperLend) yang membutuhkan kontrak pintar namun dapat diadaptasi. Mereka membentuk lapisan dasar yang penting. 2. **Ekstensi Asli Inti:** Aplikasi yang membuat aset internal Hyperliquid lebih berguna, seperti pembungkus HLP atau aset terkait Unit. Mereka menyediakan bahan baku (kolateral) untuk aktivitas keuangan. 3. **HyperCore yang Dapat Diprogram:** Kuadran paling inovatif di mana aplikasi (contoh: Rysk, Liminal, Valantis Prime) menggunakan logika EVM dan secara mendalam mengintegrasikan status serta eksekusi HyperCore, menjadikan aktivitas pertukaran sebagai produk. Bentuk akhir yang paling berharga mungkin adalah **akun keuangan terpadu**. Pengguna dapat menyetor aset sekali dan menggunakan saldo yang sama untuk berdagang di HyperCore, meminjam di HyperEVM, menghasilkan yield, melakukan lindung nilai, dan membayar. Hyperliquid menggabungkan infrastruktur likuiditas dan risiko tingkat pertukaran dari HyperCore dengan permukaan aplikasi terbuka HyperEVM, menciptakan "rumah keuangan" yang dikendalikan pengguna namun didukung oleh neraca yang kuat. Gelombang pertama HyperEVM membuat ekosistem dapat digunakan, gelombang berikutnya akan membuat HyperCore benar-benar dapat diprogram.

Foresight News8m yang lalu

Membongkar HyperEVM: Aplikasi Apa yang Benar-benar Dapat Mengambil Inti Manfaat dari Hyperliquid?

Foresight News8m yang lalu

Peretas Mencuri Hampir $17 Juta dalam 40 Hari, "Kontrak Zombie" Menjadi Mesin Penarik Dana Peretas

Analisis oleh ZeroDrift pada 22 Juni 2026 mengungkapkan bahwa dalam 40 hari terakhir, penyerang telah mencuri sekitar $16,9 juta dari lima kontrak pintar yang sudah tidak digunakan tetapi masih aktif di blockchain. Kontrak yang sudah ditinggalkan oleh pengembang ternyata tidak serta-merta aman atau mati. Kontrak-kontrak ini masih dapat menyimpan dana, izin akses (allowance), atau fungsi yang dapat dipanggil, sehingga tetap menjadi target serangan yang menarik. Lima proyek yang terdampak adalah: - DxSale V1 Locker: rugi ~$7,3 juta. - TrustedVolumes: rugi ~$5,87 juta. - Aztec Connect: rugi ~$2,28 juta (dalam dua serangan). - Raydium Legacy AMM: rugi ~$1,34 juta. - Huma Finance V1 Pool: rugi ~$101 ribu. Kasus DxSale merupakan contoh nyata. Kontrak locker lamanya dirancang untuk mengunci likuiditas dalam jangka panjang, namun seiring waktu, perhatian tim beralih ke produk baru dan jalur kontrol lama terlupakan, akhirnya dieksploitasi. Serangan-serangan ini terjadi di berbagai sistem dan blockchain, menunjukkan masalah mendasar yang sama: kontrak lama yang sudah tidak menjadi fokus pengembangan masih menyimpan nilai ekonomi dan asumsi keamanan yang kedaluwarsa di dalamnya. Risiko ini diperburuk oleh analisis otomatis. Alat-alat yang dapat memindai kode publik, riwayat transaksi, dan mensimulasikan serangan membuat penemuan target rentan semacam ini menjadi lebih murah dan sistematis bagi penyerang. Industri keamanan DeFi telah memiliki proses audit yang matang untuk peluncuran kontrak baru, namun masih sangat kurang dalam hal disiplin untuk proses pensiun, migrasi, atau penonaktifan kontrak secara menyeluruh. Sebuah kontrak hanya benar-benar aman setelah semua dana, izin, akses, dan asumsi kepercayaan di dalamnya dicabut sepenuhnya.

marsbit1j yang lalu

Peretas Mencuri Hampir $17 Juta dalam 40 Hari, "Kontrak Zombie" Menjadi Mesin Penarik Dana Peretas

marsbit1j yang lalu

Evaluasi Kembali Valuasi Saham Tua: Matinya Sistem Koordinat Valuasi untuk Satu Generasi Aset

**Ringkasan: Runtuhnya Kerangka Valuasi Aset Generasi Internet** Selama dua belas tahun terakhir, dari IPO Alibaba pada 2014 hingga 2026, aset-aset internet China seperti Alibaba, Tencent, Meituan, dan Pinduoduo mengalami reset valuasi masif. Kerangka valuasi lama ("diskon terhadap rekanan AS") telah runtuh, didorong oleh faktor geopolitik, regulasi, dan kekhawatiran struktur. Namun, fenomena ini tidak hanya terjadi di China. Di AS, raksasa teknologi seperti Microsoft juga menghadapi tekanan valuasi meski kinerja fundamental kuat. Penyebabnya adalah pengeluaran modal besar-besaran untuk AI yang menghancurkan arus kas bebas dan ketidakpastian apakah model bisnis baru dapat mempertahankan profitabilitas tinggi model lama. Baik raksasa internet China maupun AS kini dijuluki "saham tua" (*laodeng gu*), berjuang membuktikan relevansinya di era AI yang mengancam fondasi model bisnis berbasis perhatian (*attention economy*). Sejarah pasar modal Jepang pasca-gelembung 1989 memberikan contoh paralel: kerangka valuasi lama runtuh dan membutuhkan waktu sekitar 25 tahun serta narasi baru dari investor seperti Warren Buffett untuk pulih. Posisi internet China saat ini mirip dengan Jepang di pertengahan 1990-an: kerangka lama mati, kerangka baru belum lahir. AI menawarkan bahasa valuasi baru, tetapi penuh kontradiksi: mengejarnya membutuhkan investasi besar dan mengikis bisnis inti yang menguntungkan, sementara mengabaikannya berarti ditinggalkan zaman. Alternatif lain adalah membangun dasar valuasi melalui pengembalian pemegang saham (buyback, dividen). Intinya, pasar menunggu suatu peristiwa atau narator baru yang dapat mendefinisikan ulang alasan membeli aset-aset ini. Proses revaluasi yang panjang ini mungkin baru berada di tahap tengah.

marsbit1j yang lalu

Evaluasi Kembali Valuasi Saham Tua: Matinya Sistem Koordinat Valuasi untuk Satu Generasi Aset

marsbit1j yang lalu

Collector Crypt Naik Jadi 'Mesin Cetak Uang' di On-Chain: Pengguna Aktif Kurang dari Seribu, Paus Besar Menopang 97% Pendapatan

Penulis: Nancy, PANews Proyek TCG Collector Crypt baru-baru ini menduduki peringkat 10 besar dalam daftar pendapatan protokol global dan pernah menjadi protokol dengan pendapatan tertinggi di Solana. Sebagai perwakilan dari sektor TCG yang ditokenisasi, platform ini menggabungkan kegembiraan koleksi dan "gacha" (buka paket) ke dalam blockchain. Pasar TCG on-chain mengalami pertumbuhan pesat, dengan volume transaksi Juni 2026 mencapai $490 juta, meningkat 7.6x dibandingkan tahun sebelumnya. Solana mendominasi 80.8% pangsa pasar ini, terutama didorong oleh Collector Crypt. Collector Crypt mendominasi pasar dengan volume transaksi kumulatif $1.4 miliar dan pendapatan protokol $68 juta. Pada Juni, platform ini menghasilkan pendapatan sekitar $13.4 juta. Namun, struktur pendapatannya sangat bergantung pada "paus" (whale). Data menunjukkan 0.6% pengguna (yang membelanjakan >$1 juta) menyumbang 51.8% pendapatan, dan secara keseluruhan, 14.6% pengguna teratas berkontribusi terhadap 97.1% pendapatan platform. Jumlah pengguna aktif hariannya kurang dari 1000 orang. Kesuksesan Collector Crypt didorong oleh mekanisme "gacha" on-chain, yang menyumbang hampir semua volume transaksinya, serta daya tarik IP Pokémon yang kuat. Token CARDS juga memainkan peran penting melalui mekanisme buyback ganda, meskipun perlu diperhatikan adanya potensi tekanan jual dari pembukaan kunci (unlock) token yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, Collector Crypt telah membuktikan kelayakan model bisnis TCG on-chain, meskipun sektor ini masih dalam tahap awal dengan ketergantungan tinggi pada segelintir pengguna besar dan ruang untuk pertumbuhan yang lebih luas.

marsbit1j yang lalu

Collector Crypt Naik Jadi 'Mesin Cetak Uang' di On-Chain: Pengguna Aktif Kurang dari Seribu, Paus Besar Menopang 97% Pendapatan

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片