Kochetkov merujuk pada aset digital yang telah melewati alamat atau platform yang jatuh di bawah sanksi internasional. Untuk rekanan asing, aset-aset seperti itu, jelas pakar investasi tersebut, dianggap beracun: penggunaannya dikaitkan dengan risiko kepatuhan (compliance) yang tinggi. Karena itu, pasar kripto Rusia bisa menjadi spesifik — dan aset-aset seperti itu harus diperdagangkan dengan diskon relatif terhadap harga global, menurut Kochetkov.
Konsekuensinya bisa melampaui sekadar pembatasan akses ke modal global, yakin eksekutif puncak tersebut.
"Faktor ini memang bisa membuat pasar Rusia menjadi sangat eksotis — dengan diskon yang signifikan terhadap patokan (benchmark) internasional. Ini bukan lagi sekadar 'likuiditas akan diputus' — ini tentang pembentukan kontur harga terpisah dan terisolasi, yang hidup menurut aturannya sendiri," jelas kepala 'Finam' dalam wawancara dengan TASS.
"Kontur Rusia" akan berfungsi secara otonom, dengan mekanisme penetapan harga dan aturan operasinya sendiri, yang berbeda dari yang berlaku di pasar internasional, duga Kochetkov.
Sebelumnya, Kepala Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina menyatakan bahwa Bank Sentral mempertimbangkan kemungkinan menggunakan stablecoin dalam pembayaran internasional, tetapi hanya sebagai pelengkap untuk rubel digital. Regulator memandang aset digital ini "dengan kehati-hatian". Sebelumnya, pejabat itu mengatakan bahwa kripto adalah aset yang jatuh di bawah sanksi internasional dan dapat diblokir kapan saja di dompet warga Rusia.
Mulai 1 September, perdagangan kripto harus dimulai di Rusia melalui perantara berlisensi. Bank Sentral hanya akan mengizinkan tiga aset digital untuk diperdagangkan — yaitu Bitcoin, Ethereum, dan stablecoin dolar AS dari perusahaan Amerika Tether USDT.
end-content




