# Artikel Terkait Kenaikan Suku Bunga

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "Kenaikan Suku Bunga", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

Apakah Kenaikan Suku Bunga Jepang Akan Memicu Guncangan Likuiditas Global?

Kekhawatiran akan potensi kenaikan suku bunga agresif (hawkish) oleh Bank Jepang pada pertemuan kebijakan moneter 19 Desember meningkat, memicu pertanyaan apakah langkah ini akan mengakhiri era yen murah dan memicu krisis likuiditas global. Laporan strategis terbaru dari Western Securities menganalisis bahwa meskipun ada kekhawatiran, dampak likuiditas global secara teoritis terbatas. Alasannya, bank sentral Jepang telah tiga kali menaikkan suku bunga sejak Maret tahun lalu, dengan guncangan yang semakin berkurang. Posisi spekulatif short yen sebagian besar telah ditutup pada Juli lalu, mengurangi risiko likuiditas. Lingkungan makro juga berbeda—tidak ada "perdagangan resesi" AS seperti sebelumnya, dan Fed telah memulai kebijakan ekspansi neraca (seperti QE) yang bertindak sebagai bantalan. Namun, kenaikan suku bunga Jepang berpotensi menjadi "katalis" untuk guncangan likuiditas jika memicu pelarian modal panik di pasar global yang sudah rapuh, terutama setelah reli panjang 6 tahun di pasar saham AS dan kekhawatiran gelembung AI. Jika terjadi, guncangan likuiditas kemungkinan akan memicu respons lunak lebih kuat dari Fed, leading to a quick market recovery. Investors disarankan untuk "memantau dan mengurangi aksi", dengan memperhatikan sinyal "penjualan simultan saham, obligasi, dan mata uang" di AS sebagai indikator risiko. Dalam jangka panjang, tren moneterg global diprediksi tetap longgar, menguntungkan aset China seperti saham A-H dan emas, sementara pasar AS diperkirakan mengalami volatilitas.

marsbit12/18 06:14

Apakah Kenaikan Suku Bunga Jepang Akan Memicu Guncangan Likuiditas Global?

marsbit12/18 06:14

Malam Sebelum Bank Jepang Menaikkan Suku Bunga, Mengapa Bitcoin Jatuh Duluan?

Intinya, artikel ini membahas mengapa Bitcoin turun 5% (dari $90.000 ke $85.616) pada 15 Desember, meski tidak ada berita negatif langsung dari dunia kripto. Penulis menunjuk pada ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Jepang (BOJ) sebesar 25 basis poin pada 19 Desember sebagai pemicu utamanya. Alasan utamanya adalah "carry trade" Yen. Selama ini, investor meminjam Yen dengan suku bunga sangat rendah, lalu mengonversinya ke Dolar AS untuk membeli aset berisiko tinggi seperti Bitcoin. Kenaikan suku bunga BOJ akan meningkatkan biaya pinjaman Yen dan memperkecil selisih keuntungan, memicu pelikuidasian posisi aset ini. Bitcoin, dengan likuiditas tinggi dan volatilitas besar, sering menjadi aset pertama yang dijual untuk mengambil untung atau mengurangi risiko. Artikel juga menyoroti bahwa sejak disetujuinya ETF Bitcoin di AS, kepemilikan aset ini didominasi oleh lembaga keuangan besar (bukan lagi hanya retail investor). Ini membuat harga Bitcoin kini sangat terkorelasi dengan pasar saham AS (seperti Nasdaq) dan lebih rentan terhadap gejolak likuiditas global, bertolak belakang dengan narasi "emas digital" yang diyakininya. Dengan kata lain, Bitcoin kini lebih sebagai aset berisiko tinggi (high-beta risk asset) daripada alat lindung nilai. Mengenai dampak rapat BOJ tanggal 19 Desember, artikel memperkirakan volatilitas tinggi mungkin berlanjut, tetapi besaran penurunannya mungkin tidak seekstrem sebelumnya karena pasar telah mengantisipasi sebagian. Momen ini bisa menjadi kesempatan berinvestasi setelah koreksi.

marsbit12/17 07:26

Malam Sebelum Bank Jepang Menaikkan Suku Bunga, Mengapa Bitcoin Jatuh Duluan?

marsbit12/17 07:26

活动图片