# Artikel Terkait Pencegahan

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "Pencegahan", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

Tatanan Minyak Menuju Keruntuhan, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya di Timur Tengah?

Tatanan minyak global sedang menuju keruntuhan setelah Iran memblokade Selat Hormuz pada Maret 2026, merespons serangan AS-Israel atas fasilitas nuklirnya. Blokade ini memicu krisis energi global dengan harga minyak melampaui $110 per barel. AS mengerahkan pasukan besar, termasuk kapal induk "USS Tripoli" dan 50.000 personel, namun menghadapi kebuntuan strategis. Inti krisis adalah runtuhnya "kesepakatan tersembunyi" selama 40 tahun: AS tidak mengganggu rezim Iran, Iran tidak menyentuh Hormuz. Serangan AS-Israel terhadap program nuklir Iran dianggap melanggar kesepakatan, memicu pembalasan Iran. Iran kini menerapkan "blokade selektif", mengizinkan kapal negara netral (seperti Jepang/Korea) melewati selat sambil memblokir sekutu AS, menggunakan "hak lintas" sebagai alat politik. Dampak struktural jangka panjang mulai terlihat: - Arab Saudi mengaktifkan pipa minyak Timur-Barat ke Yanbu untuk menghindari Hormuz. - Iran mengusulkan "yuan China untuk akses selat", melemahkan dominasi dolar AS dalam perdagangan minyak. - Monopoli keamanan maritim AS terkikis saat negara-negara bernegosiasi langsung dengan Iran. Dua skenario ke depan: perang darat besar-besaran AS untuk merebut pulau minyak Iran, atau jalan diplomatik melalui perundingan rahasia (mungkin di Islamabad). Bagaimanapun, perubahan fundamental dalam aliansi, logistik energi, dan sistem minyak-dolar telah dimulai dan tidak dapat diputar kembali.

marsbit03/26 10:58

Tatanan Minyak Menuju Keruntuhan, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya di Timur Tengah?

marsbit03/26 10:58

Biaya Gas dan Keamanan Transaksi: Menghindari Konsumsi Aset oleh Kontrak Berbahaya

Biaya Gas dan Keamanan Transaksi: Menghindari Pengurasan Aset oleh Kontrak Berbahaya Di dunia blockchain, setiap operasi on-chain memerlukan biaya gas sebagai "bahan bakar". Namun, biaya ini juga menjadi target para penipu. Artikel ini membahas tiga jenis jebakan utama: 1. **Otorisasi Tanpa Batas (Unlimited Approval)**: Pengguna memberikan izin tanpa batas kepada kontrak pintar untuk menggunakan token mereka. Penipu memanfaatkannya dengan menyamar sebagai operasi normal seperti mint NFT atau partisipasi DeFi, lalu menguras aset pengguna secara diam-diam. 2. **Pembajakan Biaya Gas (Gas Fee Hijacking)**: Penyerang memanipulasi kontrak atau data transaksi untuk memaksa pengguna membayar biaya gas yang jauh lebih tinggi dari normal, atau bahkan mencuri biaya gas yang dibayarkan. 3. **Otorisasi/Transaksi Palsu**: Penipu membuat permintaan otorisasi atau pop-up transaksi palsu untuk menipu pengguna agar mengizinkan akses atau mentransfer aset mereka. **Langkah Pencegahan**: - Terapkan prinsip "otorisasi minimal" dan cabut izin setelah digunakan. - Gunakan pengaturan gas manual dan hindari periode padat jaringan. - Verifikasi informasi transaksi dan keaslian DApp. - Gunakan strategi dompet ganda untuk mengisolasi aset berisiko. **Jika Terkena Serangan**: - Bekukan dompet dan cabut otorisasi segera. - Kumpulkan bukti dan laporkan ke platform terkait. - Hubungi lembaga keamanan blockchain untuk bantuan profesional. **Alat Keamanan yang Direkomendasikan**: - Revoke.cash (untuk mencabut otorisasi) - Etherscan (untuk memeriksa transaksi) - Harpie (untuk memantau ancaman) - PocketUniverse (untuk simulasi transaksi) Hindari kesalahan umum seperti membayar "biaya pembekuan" untuk memulihkan aset atau menghapus dompet tanpa mencabut otorisasi terlebih dahulu. Keamanan transaksi bergantung pada kewaspadaan dan pemahaman pengguna terhadap risiko yang ada.

marsbit02/28 14:38

Biaya Gas dan Keamanan Transaksi: Menghindari Konsumsi Aset oleh Kontrak Berbahaya

marsbit02/28 14:38

活动图片