# Artikel Terkait Masa depan

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "Masa depan", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

Pendiri MegaETH: 48 Jam Melarikan Diri dari Dubai, Saya Meninjau Ulang Seluruh Dunia Crypto

Saya menulis ini setelah menyeberangi perbatasan UAE-Oman, sebuah proses yang berlangsung lancar. Dalam 48 jam terakhir, saya menyaksikan langsung teknologi perang modern termasuk sistem pertahanan misil. Pengalaman ini memberikan perspektif baru: teknologi bukanlah penyelamat peradaban, melainkan pengungkit yang memperbesar arah alami peradaban. Dalam siklus naik, teknologi menjadi alat produktivitas seperti internet awal yang penuh kolaborasi. Namun dalam siklus turun, teknologi berubah menjadi senjata perhatian dan manipulasi. Ini menjelaskan ketegangan dalam crypto: seharusnya crypto menjadi sistem paralel untuk kolaborasi finansial dengan batas minimal, namun justru terjebak mengejar legitimasi tradisional dengan mengintegrasikan diri ke struktur kekuasaan existing. Kita mengabaikan use case mendasar seperti pinjaman collateralized, struktur tabungan lintas batas, atau sistem pensiun alternatif yang membosankan namun struktural. Stablecoin misalnya, hanyalah versi "terkemas" dari mata uang sovereign, bukan sistem moneter independen. Perang mengingatkan kita bahwa crypto tidak menang dengan menjadi disukai, tetapi dengan terus mengkritik sistem lama dan membangun infrastruktur membosankan yang memperluas kedaulatan nyata. Di tengah siklus turun, kita masih punya pilihan: mengungkit financialization atau membangun alat kolaborasi jangka panjang. Seperti perjalanan saya menyeberang perbatasan, kita harus verifikasi sendiri, pilih hal yang benar, dan membuka jalan paralel. Kita perlu mengasah pisau tapi juga berani memegangnya.

marsbit22j yang lalu

Pendiri MegaETH: 48 Jam Melarikan Diri dari Dubai, Saya Meninjau Ulang Seluruh Dunia Crypto

marsbit22j yang lalu

AI Tidak Akan Mewujudkan Kesetaraan Teknologi, Hanya Akan Memberi Imbalan kepada Orang yang Tepat

Judul asli: "AI Tidak Akan Mewujudkan Kesetaraan Teknologi, Hanya Akan Memberi Imbalan kepada Orang yang Tepat" oleh Naman Bhansali. Inti artikel ini membantah narasi umum bahwa AI akan menciptakan demokratisasi atau kesetaraan (equality) dalam teknologi. Sebaliknya, penulis berargumen bahwa sementara AI memang menaikkan "lantai" (floor) dengan membuat pembuatan produk (seperti software, musik, foto) lebih mudah diakses oleh banyak orang, hal itu secara bersamaan menaikkan "langit-langit" (ceiling) dengan lebih cepat. Hasilnya, kesenjangan antara median (rata-rata) dan yang teratas justru melebar, mengikuti hukum kekuatan (power law) di mana segelintir pemain teratas akan mendapatkan sebagian besar nilai dan imbalan. Dalam dunia di mana eksekusi menjadi murah berkat AI, keunggulan kompetitif bergeser. Bukan lagi tentang distribusi atau kemampuan go-to-market seperti era SaaS, melainkan tentang "selera" (taste) yang asli—standar kualitas tinggi yang sulit dipalsukan dan diterapkan bahkan pada hal-hal yang tidak terlihat oleh pengguna. Selera ini menjadi bukti kerja (proof of work) yang nyata. Artikel ini juga menekankan bahwa pendiri sukses di era AI adalah mereka yang memiliki "kedalaman" (depth)—yaitu kemampuan untuk melihat wawasan mendalam (insight) tentang kemungkinan baru, memecahkan masalah kompleks dari prinsip pertama, dan memiliki keyakinan untuk bertahan dalam permainan jangka panjang (puluhan tahun) untuk menuai bunga majemuk, bukan sekadar berlari cepat untuk exit dalam dua tahun. AI tidak menghilangkan kebutuhan untuk membangun pertahanan bisnis yang berkelanjutan; justru memperkuatnya bagi mereka yang bisa bertahan dan unggul.

marsbit02/28 10:23

AI Tidak Akan Mewujudkan Kesetaraan Teknologi, Hanya Akan Memberi Imbalan kepada Orang yang Tepat

marsbit02/28 10:23

Dragonfly: Crypto Bukan Dirancang untuk Manusia

Dragonfly Capital, firma modal ventura terkemuka, baru saja mengumumkan pengumpulan dana sebesar $650 juta. Mitra mereka, Haseeb Qureshi, menyatakan bahwa crypto tidak dirancang untuk manusia, melainkan untuk agen AI. Meskipun crypto menggunakan kontrak pintar, manusia masih lebih mempercayai kontrak hukum karena sistem perbankan dirancang untuk kelemahan manusia. Crypto, dengan alamat yang rumit, biaya gas, dan risiko keamanan, terasa canggung dan berbahaya bagi pengguna manusia. Namun, kekakuan dan kepastian kode crypto justru sempurna untuk agen. AI tidak akan lelah, malas, atau ceroboh. Mereka dapat memverifikasi transaksi, menganalisis kontrak, dan bernegosiasi dalam hitungan menit. Sistem hukum tradisional tidak siap untuk peserta non-manusia, sedangkan crypto memungkinkan agen untuk memiliki dan mentransfer aset secara mandiri. Masa depan akan didominasi oleh dompet 'autopilot' yang sepenuhnya dioperasikan oleh AI. Agen akan berinteraksi dengan protokol seperti Aave atau Ethena untuk memecahkan masalah keuangan pengguna, dan bahkan akan berdagang secara mandiri dengan agen lainnya. Fenomena ini sudah mulai terlihat dengan munculnya proyek seperti Moltbook dan Conway Research. Kesimpulannya, kekurangan crypto bagi manusia bukanlah bug, melainkan bukti bahwa teknologi ini dirancang untuk pengguna yang berbeda. Dalam dekade mendatang, interaksi langsung manusia dengan crypto akan tampak aneh, karena AI akan menjadi antarmuka utamanya.

marsbit02/19 05:16

Dragonfly: Crypto Bukan Dirancang untuk Manusia

marsbit02/19 05:16

Bagaimana Orang Biasa Dapat 'Bertahan' di Tengah Gelombang AI?

Penulis dan CEO HyperWrite, Matt Shumer, memperingatkan bahwa perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dari yang dibayangkan kebanyakan orang, dengan dampak yang lebih besar daripada pandemi COVID-19. AI telah berevolusi dari alat bantu menjadi entitas yang mampu melakukan pekerjaan lebih baik daripada manusia dalam banyak bidang, termasuk pemrograman, hukum, keuangan, dan analisis medis. Model terbaru seperti GPT-5.3 Codex dan Claude Opus 4.6 menunjukkan lompatan kemampuan yang signifikan, tidak hanya menjalankan perintah tetapi juga membuat keputusan cerdas dan menunjukkan "penilaian" layaknya manusia. AI bahkan sudah mulai digunakan untuk membangun dan meningkatkan dirinya sendiri, menciptakan siklus peningkatan yang semakin cepat. Para CEO AI seperti Dario Amodei memprediksi bahwa dalam 1-5 tahun ke depan, 50% pekerjaan kerah putih tingkat pemula akan digantikan oleh AI. Hampir semua pekerjaan berbasis pengetahuan yang dilakukan di depan komputer berisiko. Untuk bertahan, Shumer menyarankan untuk segera mulai menggunakan AI secara serius. Berlangganan model terkuat (seperti ChatGPT atau Claude), menerapkannya pada tugas-tugas kerja yang kompleks, dan berlatih beradaptasi dengan perubahan. Membangun ketahanan finansial, memprioritaskan bidang yang sulit digantikan (seperti hubungan dan peran yang membutuhkan lisensi), dan mengajarkan anak-anak untuk menjadi pembelajar yang adaptif juga sangat penting. Dia menekankan bahwa masa depan bukan hanya tentang ancaman, tetapi juga peluang besar untuk mengejar passion dan menciptakan hal-hal baru dengan bantuan AI. Kunci utamanya adalah memulai sekarang, bereksperimen setiap hari, dan mengembangkan kebiasaan untuk beradaptasi dengan cepat.

marsbit02/18 04:39

Bagaimana Orang Biasa Dapat 'Bertahan' di Tengah Gelombang AI?

marsbit02/18 04:39

活动图片