# Artikel Terkait Perbankan

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "Perbankan", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

RUU CLARITY Akan Dibahas Pekan Depan, Apa Hasil untuk 'Hak Mendapat Bunga' Stablecoin?

**RINGKASAN: RUU CLARITY akan Dibahas, Masa Depan "Hak Bunga" Stablecoin Dipertaruhkan** Regulasi kripto Amerika Serikat memasuki momen penting. Komite Perbankan Senat AS akan membahas **RUU CLARITY** pada 14 Mei, sebuah undang-undang yang telah lama didorong industri kripto untuk menciptakan kerangka regulasi yang lebih jelas bagi aset digital. RUU ini terutama menangani tiga masalah inti: 1. Memperjelas batas wewenang antara regulator sekuritas (SEC) dan komoditas (CFTC) terkait aset digital. 2. Menentukan kapan suatu token dikategorikan sebagai sekuritas, komoditas, atau kelas lainnya, guna memberikan kepastian hukum. 3. **Menyelesaikan konflik antara industri kripto dan perbankan terkait stablecoin**, khususnya soal pemberian imbalan atau bunga. Kompromi dalam RUU mengusulkan bahwa **memberi imbalan atas kepemilikan stablecoin USD yang tidak digunakan (menganggur) akan dilarang**, karena dianggap terlalu mirip dengan deposito bank. Namun, imbalan terkait aktivitas penggunaan seperti pembayaran atau transfer masih diizinkan. Bank-bank tradisional khawatir kebijakan ini akan memicu aliran dana keluar dari sistem perbankan yang diasuransikan, mengikis basis deposito, dan berisiko terhadap stabilitas keuangan. Di sisi lain, perusahaan kripto berargumen bahwa melarang pihak ketiga memberikan imbalan atas stablecoin adalah praktik anti-persaingan yang melindungi kepentingan bank. Kelangsungan RUU ini bergantung pada dukungan setidaknya 7 Senator Demokrat di Senat. Hasilnya akan menentukan tidak hanya masa depan regulasi kripto AS, tetapi juga bagaimana batas kompetisi finansial antara bank tradisional dan perusahaan kripto dalam hal pembayaran dan tabungan akan ditata ulang.

marsbit05/09 05:12

RUU CLARITY Akan Dibahas Pekan Depan, Apa Hasil untuk 'Hak Mendapat Bunga' Stablecoin?

marsbit05/09 05:12

Momen Peretakan di Perbankan: Melihat Restrukturisasi Global Adopsi Bitcoin melalui Prediksi Michael Saylor

Pendiri MicroStrategy, Michael Saylor, baru-baru ini menyatakan bahwa bank-bank tradisional besar akan segera mengumumkan adopsi Bitcoin dan aset kripto secara luas. Pernyataannya bukan sekadar hype, melainkan wawasan atas transformasi struktural yang sedang terjadi dalam infrastruktur keuangan global. Awalnya, ada jurang pemisah antara pasar kripto dan perbankan tradisional. Namun, disetujuinya ETF spot Bitcoin di AS dan aliran dana miliaran dolar telah meruntuhkan tembok ini. Perubahan yang dimulai dari Wall Street ini kini dengan cepat menyebar ke Eropa, Timur Tengah, dan Asia, mengubah adopsi Bitcoin dari uji coba lokal menjadi fenomena global yang tak terelakkan. Di AS, tekanan datang dari kecemasan bank tradisional kehilangan aset kelolaan (AUM). Raksasa manajemen aset seperti BlackRock dan Fidelity telah menawarkan ETF spot Bitcoin kepada klien mereka melalui akun pialang. Untuk mempertahankan klien bernilai tinggi yang menginginkan eksposur ke kripto, bank-bank besar seperti Morgan Stanley kini terpaksa membangun infrastruktur pendukung, seperti menjadi *Authorized Participant* untuk ETF atau menyediakan layanan *prime brokerage*, meski menghadapi tantangan regulasi seperti aturan akuntansi SEC SAB 121. Sementara itu, Eropa bergerak dengan pendekatan berbasis regulasi yang jelas. Pemberlakuan *Markets in Crypto-Assets Regulation* (MiCA) memberikan kepastian hukum bagi bank. Bank-bank Eropa seperti Standard Chartered (melalui Zodia Custody), BNP Paribas, dan Julius Baer tidak hanya melihat Bitcoin sebagai aset spekulatif, tetapi juga membangun infrastruktur kustodian dan perdagangan kelas institusi untuk memimpin di era tokenisasi aset. Di Timur Tengah, adopsi didorong oleh kehendak negara dan strategi geopolitik. Dengan latar belakang desentralisasi dan "pelemahan dolar", Bitcoin dilihat sebagai "emas digital" untuk lindung nilai strategis. Bank-bank di Uni Emirat Arab dan Bahrain bekerja sama dengan regulator dan dana kekayaan negara untuk menciptakan ekosistem tertutup bagi aset digital, menjadikan bank sebagai ujung tombak alokasi modal digital negara. Asia mengalami perubahan dari dominasi pedagang ritel menuju restrukturisasi kelembagaan. Hong Kong memimpin dengan menyetujui ETF spot Bitcoin dan Ethereum pertama di Asia, mendorong bank dan perusahaan sekuritas untuk mengajukan izin layanan aset virtual. Di Singapura, DBS Bank memanfaatkan platform perdagangan digitalnya (DDEx) untuk menarik dana institusi. Sementara di Jepang dan Korea Selatan, penetrasi ritel yang tinggi mendorong konglomerat keuangan tradisional seperti SBI Holdings untuk masuk secara agresif ke ruang kripto. Dengan menggabungkan dinamika ini—tekanan kompetitif di AS, kepastian regulasi di Eropa, strategi geopolitik di Timur Tengah, dan kelembagaan di Asia—terlihat jelas bahwa perbankan global sedang bergerak menuju adopsi Bitcoin yang komprehensif. Saylor menyebut ini sebagai perubahan paradigma struktural yang tak terelakkan, menandai momen penting dalam integrasi keuangan tradisional dan digital.

marsbit05/08 12:59

Momen Peretakan di Perbankan: Melihat Restrukturisasi Global Adopsi Bitcoin melalui Prediksi Michael Saylor

marsbit05/08 12:59

活动图片