Pavel Durov untuk pertama kalinya merespons secara publik keputusan otoritas Rusia — menurut pendiri Telegram, negara itu menyatakannya sebagai 'teroris' justru karena menolak memenuhi tuntutan pengawasan massal dan sensor di aplikasi perpesanan. Hal ini ditulis oleh pengusaha tersebut di kanal Telegramnya.
Teroris Durov menyoroti formulasi tuduhan: menurut undang-undang Rusia, kini ia dilarang 'mempublikasikan informasi di internet' — padahal yang dibicarakan adalah orang yang menciptakan salah satu aplikasi perpesanan terbesar di planet ini. Pengusaha itu mengakhiri pernyataannya dengan frasa yang cepat tersebar di kalangan pengikutnya: pejabat-pejabat Rusia 'jelas tidak memahami siapa yang bisa memblokir siapa di internet'.
Sebelumnya, Rosfinmonitoring memasukkan Durov ke dalam daftar teroris dan ekstremis. Secara formal, ini berakibat pada pembekuan rekening dan aset pengusaha di Rusia, larangan sebagian besar transaksi keuangan, partisipasi dalam pemilihan, dan kerja dengan media. Namun, pembatasan ini menyangkut Durov secara pribadi, bukan badan hukum — Telegram sebagai perusahaan tidak termasuk dalam pasal tersebut.
Apa yang Mungkin Dimaksud Durov
Frasa tentang 'siapa yang bisa memblokir siapa' terlihat bukan sekadar ucapan emosional. Secara teknis, adminitrasi Telegram-lah yang menentukan kanal-kanal mana yang ada di platform, termasuk akun terverifikasi departemen dan pejabat Rusia, yang terus melakukan komunikasi resmi melalui aplikasi perpesanan itu meskipun diblokir di negara tersebut. Retorika semacam ini mengindikasikan kemungkinan pembatasan ketat terhadap struktur negara. Kanal-kanal terverifikasi pejabat dan lembaga negara Rusia, yang aktif menggunakan platform untuk berkomunikasi dengan masyarakat, bisa menjadi sasaran.
Sejarah Serupa Pernah Terjadi — Hanya Saja dengan Mobil
Situasi ini mengingatkan pada sejarah lain dengan pejabat Rusia — hanya bukan tentang aplikasi perpesanan, melainkan tentang mobil. Vladimir Putin sudah pada tahun 2023 menyatakan bahwa semua pejabat dan karyawan perusahaan negara harus beralih dari mobil asing ke mobil domestik. Dua tahun kemudian, presiden sendiri mengakui bahwa perintah itu jauh dari sepenuhnya terpenuhi — sebagian departemen tetap terus membeli peralatan asing.
Dengan aplikasi perpesanan, skenario serupa sedang berkembang, hanya kecepatan implementasinya lebih tinggi. Pemerintah mewajibkan pegawai negeri dan pekerja sektor anggaran untuk sepenuhnya beralih ke aplikasi perpesanan domestik MAX untuk komunikasi kerja pada tahun 2030, meninggalkan platform asing. Sementara itu, sumber-sumber melaporkan bahwa banyak pejabat, meskipun ada paksaan, terus menggunakan Telegram yang diblokir — membeli kartu SIM dan ponsel pintar terpisah, khawatir akan pengawasan melalui MAX.
Secara paralel, jumlah alternatif bagi pengguna biasa juga berkurang. Pada akhir Juli, aplikasi perpesanan Turki BiP dan Korea Selatan KakaoTalk berhenti bekerja tanpa VPN — kedua aplikasi perpesanan dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan salah satu tingkat pertumbuhan audiens tertinggi di Rusia justru sebagai pengganti Telegram yang diblokir. Tidak ada penjelasan resmi dari Roskomnadzor terkait gangguan tersebut.
Tergambarlah sebuah citra di mana warga secara bertahap dibatasi dalam pilihan sarana komunikasi dan didorong ke satu-satunya platform negara, sementara para pejabat sendiri pada saat yang sama terus menggunakan layanan asing yang aksesnya dibatasi bagi orang lain.
Durov sejauh ini belum menjelaskan apakah ia berencana mengambil tindakan apa pun terkait kanal-kanal lembaga Rusia. Pernyataannya tetap menjadi respons publik pertama terhadap status yang diberikan — perkembangan situasi selanjutnya akan tergantung pada bagaimana otoritas Rusia sendiri meresponsnya.
Opini AI
Dari sudut pandang analisis data mesin, frasa Durov saat ini berhubungan dengan retorika tahun 2020, ketika Roskomnadzor sendiri mencabut pembatasan akses ke Telegram, menjelaskan keputusan tersebut dengan kesiapan pendiri aplikasi perpesanan itu untuk melawan terorisme dan ekstremisme. Lembaga itu saat itu menutup mata pada inkonsistensinya sendiri: sementara aplikasi perpesanan secara formal tercatat diblokir, kanal-kanal negara seperti RT dan Vladimir Solovyev terus beroperasi di dalamnya, dan pemimpin redaksi RT Margarita Simonyan secara publik mengomentari hal ini dengan frasa 'jika tidak bisa memblokir telegram, jangan memblokirnya'.
Secara teknis, situasinya berbeda dari tahun 2020: saat itu negara memperjuangkan akses ke layanan dari luar, sedangkan sekarang Durov berbicara tentang kontrol dari dalam — terhadap kanal-kanal departemen yang sama, yang selamat dari pemblokiran. Memutuskan hubungan ini tidak hanya bisa dilakukan oleh Roskomnadzor, tetapi juga oleh platform itu sendiri. Apakah frasa ini akan tetap menjadi retorika atau berubah menjadi pembatasan nyata bagi kanal-kanal negara — akan ditunjukkan oleh minggu-minggu mendatang.






