Turkmenistan Goes Crypto: Exchanges, Mining Now Legal

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2026-01-03Terakhir diperbarui pada 2026-01-03

Abstrak

Turkmenistan has officially legalized cryptocurrency exchanges and mining, although digital assets are not recognized as a legal means of payment. The new law, signed by President Serdar Berdymukhamedov in November, came into effect on January 1, allowing crypto companies to register. This marks a notable shift for the highly controlled and isolated Central Asian nation, whose economy relies heavily on natural gas exports. Meanwhile, neighboring Uzbekistan has also taken steps toward crypto regulation, approving a stablecoin payment initiative. Iran, another regional player, is reportedly selling military equipment for cryptocurrency to bypass Western sanctions. Despite these regulatory developments, Bitcoin has been consolidating recently, trading between $85,000 and $90,000, while altcoins have also shown limited price movement.

Turkmenistan has officially legalized crypto exchanges and mining, although digital assets are still not recognized as a means of payment.

Turkmenistan’s Crypto Legislation Now In Effect

As reported by Associated Press, the Asian nation of Turkmenistan officially recognized mining and exchanging cryptocurrency as legal on Thursday. The move comes after President Serdar Berdymukhamedov signed a law back in November, which allowed crypto companies to obtain registration starting January 1st.

Located in Central Asia, Turkmenistan was a constituent republic of the Soviet Union before gaining independence following the USSR’s dissolution in 1991. Today, the country is considered as one of the world’s most isolated, due to strict state control over media, internet access, and foreign business activity.

Home to a population of over seven million, Turkmenistan’s economy is dependent on its natural gas reserves, which rank as the fifth largest in the world. China is its main customer at the moment, with a pipeline project aimed at supplying gas to Afghanistan, Pakistan, and India in the works.

For a nation known for tight state control, the move to embrace crypto marks a notable shift. Though, while the country is now open to mining firms and exchanges, it still hasn’t legalized digital assets as a form of payment, currency, or security.

Turkmenistan isn’t the only Central Asian nation to have made developments related to the digital asset sector recently. Uzbekistan, located north of Turkmenistan, signed on an initiative related to stablecoin payments in November, approving a regulatory sandbox launch for January 1st.

Elsewhere in the region, Iran has taken an even bolder approach, offering to sell advanced weapons systems to foreign governments for crypto, according to a report from Financial Times. The nation is willing to exchange ballistic missiles, drones, and warships for digital assets in a bid to bypass western financial controls, per the report.

Bitcoin Has Been Stuck In Consolidation Recently

While nations move forward with crypto regulation, the market has been stuck in a phase of consolidation lately, with the Bitcoin price unable to settle on a direction.

As the below chart shows, BTC has been ranging between $85,000 and $90,000 during the last couple of weeks.

The trend in the price of the coin over the last month | Source: BTCUSDT on TradingView

The market slowdown has naturally not been restricted to just Bitcoin; the altcoins have also faced stale price action. Ethereum, for example, has positive returns of over 2% in the past month, which are not too different from BTC’s small decline of 2%.

Over the past day, Bitcoin has once again climbed toward the upper end of the range, with its price currently trading around $89,500. Considering the recent pattern, it’s possible that this recovery effort may also fizzle out, but it only remains to be seen how things will play out in the coming days.

Bacaan Terkait

Sejarah Terulang untuk Keempat Kalinya, Akankah BTC Memulai Super Bull Market Baru?

Artikel ini membahas kinerja Bitcoin (BTC) yang lesu pada awal 2026, kontras dengan kenaikan signifikan aset lain seperti emas, perak, dan saham AS. BTC mengalami penurunan dan konsolidasi di bawah $100.000, sementara logam mulia dan indeks saham kecil seperti Russell 2000 meroket. Analisis menyoroti tiga faktor utama kelemahan BTC: perannya sebagai indikator leading yang memberi sinyal peringatan dini untuk aset berisiko global, kondisi likuiditas global yang ketat akibat quantitative tightening (QT) Fed dan kenaikan suku bunga Bank Jepang, serta ketegangan geopolitik yang meningkat di bawah pemerintahan Trump yang menciptakan ketidakpastian dan mendorong capital flight. Sementara itu, kenaikan aset lain didorong oleh kebijakan sovereign dan industrial, bukan fundamental makro yang kuat. Emas naik karena diversifikasi cadangan bank sentral global dari dolar, sedangkan kenaikan saham didorong oleh kebijakan industrial seperti AI Nasionalisasi AS dan otonomi industri China. Artikel ini mencatat bahwa RSI Bitcoin terhadap emas telah memasuki zona oversold (di bawah 30) untuk keempat kalinya dalam sejarah (2015, 2018, 2022, 2025). Tiga kali sebelumnya diikuti oleh bull run signifikan BTC, menimbulkan spekulasi bahwa sejarah mungkin terulang. Pembaca juga diperingatkan untuk tidak terburu-buru menjual aset kripto untuk mengejar aset yang sedang naik, karena pasar saham kecil dan AI menunjukkan tanda-tanda gelembung, sementara kepemilikan cash investor berada di level terendah sejarah. stagnasi BTC dilihat sebagai peringatan untuk risiko yang lebih besar dan persiapan untuk perubahan naratif makro yang akan datang.

marsbit35m yang lalu

Sejarah Terulang untuk Keempat Kalinya, Akankah BTC Memulai Super Bull Market Baru?

marsbit35m yang lalu

Sementara Wall Street Masih Berdebat, Digital Yuan Tiongkok Lebih Dulu 'Bagi-bagi Uang' ke Pengguna

Penulis: Nancy, PANews Dalam upaya memperluas adopsi, digital yuan (e-CNY) kini memasuki era baru dengan memperkenalkan fitur penghasil bunga, mengubahnya menjadi "stablecoin berpenghasilan". Sejak 1 Januari 2026, pengguna dapat memperoleh bunga pada saldo dompet digital yuan terverifikasi (kelas 1-3) dengan suku bunga deposito berjangka saat ini sebesar 0,05%. Fitur ini memberikan insentif nyata bagi pengguna untuk menyimpan dana mereka di e-CNY, berbeda dengan dompet anonim (kelas 4) yang tidak memperoleh bunga. Dana ini juga dilindungi asuransi simpanan hingga RMB 500.000. Upgrade besar lainnya adalah perubahan status e-CNY dari M0 (uang tunang digital) menjadi M1. Ini berarti bank komersial kini tidak perlu menempatkan cadangan 100% di bank sentral dan dapat menggunakan sebagian dana untuk pinjaman atau produk keuangan lainnya, memberi mereka insentif untuk lebih aktif mempromosikan e-CNY. Sebaliknya, penyedia pembayaran non-bank seperti Alipay dan WeChat Pay masih harus mematuhi aturan cadangan 100%. Keunggulan inti e-CNY terletak pada kontrak pintar yang dapat diprogram, memungkinkan penggunaan dalam skenario kompleks seperti pembayaran bertahap, kontrol pengeluaran tertentu, dan subsidi yang ditargetkan. Dibangun dengan desain Turing-complete terbatas untuk keamanan, sistem ini juga mendukung bahasa pemrograman seperti Solidity. Fitur pembayaran offline ganda dan dompet fisik (kartu IC, wearable) meningkatkan inklusi finansial. e-CNY juga memperluas jangkauannya ke pembayaran lintas batas, dengan lebih dari 95% transfer melalui proyek mBridge menggunakan e-CNY, memperkuat internasionalisasi yuan. Dengan transaksi kumulatif mencapai RMB 16,7 triliun, e-CNY bertransformasi dari alat kebijakan menjadi infrastruktur keuangan digital yang menjanjikan.

marsbit1j yang lalu

Sementara Wall Street Masih Berdebat, Digital Yuan Tiongkok Lebih Dulu 'Bagi-bagi Uang' ke Pengguna

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片