Inggris Memenjarakan Geng Polisi Palsu Penipu Kripto, Otoritas Perketat Aturan Aset Digital

TheNewsCryptoDipublikasikan tanggal 2026-07-17Terakhir diperbarui pada 2026-07-17

Abstrak

Penipu Inggris Anthony Ikenwe, Kevin Nwamma, dan Hamza Bashir berpura-pura menjadi petugas polisi untuk menipu delapan korban lebih dari £4 juta dalam cryptocurrency. Mereka menelepon korban, membuat situasi darurat palsu, dan menggunakan situs web polisi tiruan untuk mendapatkan detail akun. Uang curian dicuci melalui kartu belanja prabayar. Geng itu menggunakan uang hasil curian untuk gaya hidup mewah, membeli mobil mahal, menyimpan uang di Dubai, dan berlibur ke Mykonos, Thailand, serta Maladewa. Investigasi oleh Tim Kripto Polisi Metropolitan dimulai pada Januari 2025, yang melacak transaksi blockchain dan log web. Penggerebekan pada November 2025 menyita barang mewah, komputer, dan lebih dari £1 juta tunai. Ketiganya dihukum penjara pada Juli 2026, dengan dua anggota menerima hukuman minimal 11 tahun. Kasus ini mendorong regulasi aset digital yang lebih ketat di Inggris, karena otoritas menyoroti penggunaan kripto dalam kejahatan terorganisir. Teknologi blockchain terbukti efektif untuk melacak uang hasil kejahatan, menunjukkan bahwa anonimitas tidak mutlak. Operasi ini menjadi contoh bagi penegak hukum internasional dalam memerangi kejahatan finansial digital.

Penipu Inggris Anthony Ikenwe, Kevin Nwamma, dan Hamza Bashir melanggar langkah-langkah keamanan blockchain dengan memanfaatkan kerentanan manusia. Menurut The National News, para penjahat ini memalsukan identitas petugas polisi untuk menipu delapan korban lebih dari £4 juta dalam bentuk kripto. Melalui panggilan telepon langsung (cold-calling) kepada para korbannya, para penipu ini meyakinkan mereka tentang situasi darurat di mana uang mereka akan hilang. Geng ini membuat situs web polisi palsu untuk membangun keaslian mereka dan membuat para korban memberikan detail akun mereka. Para penipu ini mencucikan uang jutaan yang dicuri melalui kartu belanja prabayar.

Hidup Mewah dan Jejak Digital

Para penjahat menggunakan keuntungan haram mereka untuk mempertahankan gaya hidup yang sangat mewah. Seorang kaki tangan memiliki pendapatan resmi tahunan hanya £444. Namun, mereka membeli mobil mewah senilai sekitar £60.000 menggunakan cryptocurrency. Mereka menyimpan £500.000 di brankas (safety deposit box) di Dubai.

Mereka mengunjungi tempat-tempat seperti Mykonos, Thailand, dan Maladewa. Perjalanan belanja mereka yang terus-menerus ke toko-toko mewah termasuk Harrods, Hermès, dan Louis Vuitton menyebabkan penangkapan mereka. Tim Kriptocurrency Kepolisian Metropolitan (Metropolitan Police Cryptocurrency Team) memulai penyelidikan atas masalah ini pada Januari 2025. Mereka menyelidiki transaksi blockchain, log web, dan email.

Polisi melakukan penggerebekan di seluruh London dan Essex pada November 2025. Polisi menyita barang-barang mewah, komputer, dan lebih dari £1 juta dalam bentuk tunai. Ketiga pria tersebut dipenjara di Pengadilan Mahkota Southwark (Southwark Crown Court) pada 16 Juli 2026. Ikenwe dan Nwamma menjalani hukuman penjara minimal 11 tahun. Sementara Bashir menerima hukuman yang lebih ringan karena mengakui kesalahan di tengah persidangan.

Katalis untuk Regulasi yang Lebih Ketat

Kasus ini memberikan alat utama bagi regulator Inggris untuk menerapkan regulasi yang lebih ketat. Kepolisian Metropolitan baru-baru ini menyatakan penggunaan kriptocurrency dalam kejahatan terorganisir sebagai hal yang endemik. Regulator mendorong persyaratan yang lebih ketat terkait pendaftaran bursa (exchange) dan peningkatan kekuatan pelacakan.

Pada tahun 2025, transaksi ilegal yang melibatkan kriptocurrency memecahkan semua rekor sebelumnya di seluruh dunia. Teknologi blockchain modern digunakan oleh petugas penegak hukum untuk melacak uang para penjahat. Dengan demikian, teknologi semacam itu memastikan bahwa anonimitas tidak melindungi para penjahat yang menggunakan Internet.

Organisasi regulator internasional memberikan perhatian penuh pada kasus saat ini sebagai contoh bagaimana operasi penegakan hukum di masa depan seharusnya terlihat. Operasi ini sekali lagi mengonfirmasi bahwa teknologi blockchain menyimpan semua jejak kejahatan.

Berita Kripto yang Disorot:
CEO Tether Paolo Ardoino Mengatakan USDT Menambahkan 30 Juta Dompet Baru Setiap Kuartal

TagBlockchainKriptoCryptocurrencyKepolisian MetropolitanPenipuScammerUKInggris Raya

Bacaan Terkait

Trading

Spot
活动图片