First US Spot XRP ETF Set To Debut This Week: All You Need To Know

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-09-16Terakhir diperbarui pada 2025-09-16

Abstrak

REX Shares says it will list the first US exchange-traded fund offering spot exposure to XRP this week, trading under...

Trusted Editorial content, reviewed by leading industry experts and seasoned editors. Ad Disclosure

REX Shares says it will list the first US exchange-traded fund offering spot exposure to XRP this week, trading under the ticker XRPR. “The REX-Osprey™ XRP ETF is coming this week!” the issuer posted on X, adding that the product will be the first US ETF to deliver investors spot exposure, currently the third-largest cryptoasset by market value.

XRP Makes Wall Street History

Unlike the SEC-approved spot bitcoin and ether products—structured as ’33 Act commodity trusts—the REX-Osprey fund is being launched as a ’40 Act open-end ETF. That structure permits an ETF to operate as a registered investment company and can mix exposures, rather than holding only a single commodity in a trust format. The SEC itself emphasizes that spot bitcoin and ether “ETPs” are not ’40 Act ETFs, underscoring the distinct regulatory regimes at play here.

In its latest Form N-1A filing, the fund is presented alongside sister products and described as seeking results that correspond to the performance of the token. The principal strategy commits to investing at least 80% of net assets in XRP and/or other assets that provide exposure to the token, either directly or via a wholly-owned Cayman subsidiary.

The filing also caps investment in that subsidiary at 25% of total assets. Creation and redemption are available to authorized participants, with the fund reserving the right to settle redemptions in cash and noting a standard T+2 payout timeline, extendable to seven days under stress.

The prospectus further allows the ETF to invest in other investment companies (including ETFs) subject to Section 12(d)(1) limits and contemplates the use of derivatives as permitted under the ’40 Act—language that provides flexibility, but does not make derivatives the primary exposure.

Bloomberg’s James Seyffart, who tracks crypto ETPs, cautioned that the product is not “pure” spot, explaining “it will hold spot directly and other spot XRP ETFs from around the world to get its exposure.” He added: “The fund documents also have language that would allow derivatives usage for exposure if needed but that definitely isn’t the primary exposure method.”

ETF Store president Nate Geraci framed the launch as a regulatory maneuver enabled by the ’40 Act: “First ETF offering spot XRP exposure set to launch this week…REX-Osprey using clever regulatory end-around via ‘40 Act structure to bring this to market. Will be another good litmus test for ‘33 Act spot XRP ETF demand. Futures-based XRP ETFs already nearing $1bil in assets.”

Market Backdrop And Futures Momentum

The debut comes as derivatives set records. In late August, CME XRP futures surpassed $1 billion in open interest, the fastest pace for any new contract on the venue, and industry commentators now peg US futures-based ETFs as nearing $1 billion in assets—a relevant yardstick for gauging initial demand for spot exposure in an ETF wrapper.

A broader wave of ’33 Act spot proposals is also in the queue. Any eventual approvals of ’33 Act spot trusts would add a second, more direct structural path to US spot exposure, alongside the REX-Osprey ’40 Act route.

Notably, REX-Osprey previously introduced the Solana + Staking ETF (SSK) via a comparable framework—context for how the firm is threading the regulatory needle. Separately, the issuer has guided that a Dogecoin ETF (DOJE) is also on deck this week, highlighting how alternative structures are opening US markets to non-BTC/ETH assets.

At press time, XRP traded at $3.00.

XRP price
XRP price, 1-day chart | Source: XRPUSDT on TradingView.com
Featured image created with DALL.E, chart from TradingView.com
Editorial Process for bitcoinist is centered on delivering thoroughly researched, accurate, and unbiased content. We uphold strict sourcing standards, and each page undergoes diligent review by our team of top technology experts and seasoned editors. This process ensures the integrity, relevance, and value of our content for our readers.

Jake Simmons has been a Bitcoin enthusiast since 2016. Ever since he heard about Bitcoin, he has been studying the topic every day and trying to share his knowledge with others. His goal is to contribute to Bitcoin's financial revolution, which will replace the fiat money system. Besides BTC and crypto, Jake studied Business Informatics at a university. After graduation in 2017, he has been working in the blockchain and crypto sector. You can follow Jake on Twitter at @realJakeSimmons.

Bacaan Terkait

Estafet 'Menyelamatkan Obligasi AS': Bessent Gagal Pekan Lalu, Pekan Ini Lihat Walsh

Upaya Menteri Keuangan AS Besant menstabilkan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang melalui peningkatan pembelian kembali (buyback) ternyata hanya berdampak singkat. Alih-alih mendukung pasar obligasi, langkah tersebut justru memicu lonjakan harga emas dan Bitcoin sebagai "katup pelepas tekanan" bagi kecemasan pasar. Kini perhatian beralih ke Ketua Fed Walsh, yang diharapkan memberikan kejelasan dalam pidato Jackson Hole-nya. Pasar menantikan respons kebijakan Fed terkait inflasi yang masih tinggi dan kondisi fiskal yang memburuk. Jika Walsh gagal memberikan sinyal meyakinkan, tekanan jual pada obligasi jangka panjang bisa meningkat. Analis mengkritik langkah Besant sebagai terlalu kecil dibandingkan total utAS yang beredar. Solusi potensial yang dibahas adalah "Operation Twist" oleh Fed—menjual obligasi jangka pendek dan membeli obligasi jangka panjang untuk menekan imbal hasil—tanpa memperbesar neraca. Namun, ketegangan antara kebijakan moneter dan beban biaya bunga fiskal tetap menjadi tantangan. Data PCE yang dirilis Rabu akan menjadi petunjuk penting sebelum pidato Walsh. Sementara itu, tingkat imbal hasil obligasi 30-tahun AS di level 5% dianggap sebagai batas kritis. Jika tidak tembus, tekanan pada aset berisiko tinggi seperti sektor teknologi AI dan kredit privat akan meningkat. Investor seperti Ray Dalio menyarankan diversifikasi ke emas dan Bitcoin sebagai lindung nilai dari potensi krisis utang.

marsbit2m yang lalu

Estafet 'Menyelamatkan Obligasi AS': Bessent Gagal Pekan Lalu, Pekan Ini Lihat Walsh

marsbit2m yang lalu

Tiga Bulan Dua Putaran, "Palantir" Versi China Populer

**Ringkasan: Platform AI Cerdas Kausal versi China, "China's Palantir", Mengumpulkan Pendanaan Strategis Senilai Miliaran Yuan** Beijing Zhongshu Ruizhi Technology Co., Ltd. (Zhongshu Ruizhi), yang dianggap sebagai "Palantir-nya China", baru saja mengumumkan penyelesaian putaran pendanaan strategis senilai ratusan juta yuan. Pendanaan ini dipimpin oleh China Internet Investment Fund (CIIF) dan didukung oleh investor seperti Su Chuangtou National Social Security Fund, Financial Street Capital, ICBC Capital, dan Kunlun Capital. Ini adalah putaran pendanaan besar kedua perusahaan dalam tiga bulan, menunjukkan pengakuan pasar yang kuat terhadap teknologi inti dan kemampuan komersialisasinya. Didirikan pada tahun 2020 oleh Dr. Han Han, alumni doktoral Universitas Tsinghua dengan pengalaman di China Academy of Information and Communications Technology (CAICT), Zhongshu Ruizhi berfokus pada pengembangan AI keputusan yang andal untuk sektor industri. Perusahaan ini mengatasi tantangan kritis seperti "halusinasi AI" dan kurangnya kemampuan penalaran dalam model besar generatif dengan teknologi dasar yang orisinal, termasuk teori kognitif meta-kausal, pemodelan kausal, dan mesin ontologi dinamis. Teknologi ini memungkinkan AI membuat keputusan yang dapat dipercaya, dijelaskan, dan dapat dilacak untuk skenario industri yang kompleks dan toleransi kesalahan rendah. Zhongshu Ruizhi telah mencapai komersialisasi skala besar, melayani lebih dari 50 klien perusahaan milik negara dan grup industri di bidang tenaga listrik, minyak & gas, dan dirgantara, dengan lebih dari 800 skenario produksi kompleks yang diimplementasikan. Perusahaan melaporkan pendapatan yang berlipat ganda pada tahun 2025, menunjukkan kemampuan menghasilkan pendapatan yang kuat. Dana segar ini akan dialokasikan untuk penelitian teori dasar lebih lanjut, replikasi aplikasi percontohan yang matang untuk memperluas pasar, dan perekrutan talenta tinggi. Investor seperti CIIF melihat perusahaan sebagai pemain kunci dalam mendefinisikan paradigma AI industri yang andal dan mendorong perkembangan kekuatan produktif baru di China, terutama dalam mengamankan infrastruktur kritis dan membangun keamanan siber.

marsbit37m yang lalu

Tiga Bulan Dua Putaran, "Palantir" Versi China Populer

marsbit37m yang lalu

Proposisi Ekonomi Politik Terbesar Era AI: Robot Semakin Cakap, Bagaimana Manusia Berbagi Nilai?

Artikel dari *The Economist* memicu perdebatan dengan menyoroti kemajuan pesat China dalam robotika, AI, energi baru, dan manufaktur canggih, yang di satu sisi dikritik karena diduga mengalihkan sumber daya dari pemulihan permintaan domestik. Esai ini berargumen bahwa isu mendasarnya bukanlah tentang China atau kecepatan perkembangan teknologi, melainkan sebuah pertanyaan politik-ekonomi global yang mendesak: **bagaimana manusia membagi nilai yang diciptakan mesin ketika robot dan AI semakin canggih?** Revolusi AI mengubah logika dasar penciptaan dan distribusi kekayaan. Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya yang tetap menempatkan manusia sebagai inti sistem produksi, AI kini mulai menggantikan pekerjaan kognitif. Jika AGI terwujud, semakin sedikit manusia yang terlibat langsung dalam penciptaan nilai, berpotensi memicu kontradiksi mendasar: produktivitas dan keuntungan perusahaan meningkat, tetapi daya beli konsumen stagnan atau turun karena berkurangnya partisipasi tenaga kerja. Masalahnya adalah terputusnya rantai penyebaran manfaat teknologi dari inovasi ke pendapatan masyarakat. Baik di China maupun secara global (misalnya, di AS dengan dominasi raksasa teknologi), kemajuan teknologi sering kali berkonsentrasi pada peningkatan nilai perusahaan dan kekayaan segelintir pemilik modal, alih-alih mendorong pertumbuhan upah dan konsumsi luas. Masa depan mungkin menawarkan tiga jalur: 1) **Kapitalisme tradisional**, di mana pemegang modal menguasai sebagian besar keuntungan AI; 2) **Kapitalisme negara**, dengan keterlibatan negara melalui investasi strategis; atau 3) **Model inovatif** seperti dana kekayaan digital, kepemilikan saham kolektif, atau bentuk pendapatan dasar baru untuk membagikan nilai tambah dari ekonomi pintar secara langsung kepada masyarakat. Bagi China, tantangannya adalah tidak hanya memenangkan persaingan teknologi, tetapi juga membangun sistem distribusi baru yang mampu mengubah kekayaan yang dihasilkan robot dan AI menjadi pertumbuhan pendapatan rumah tangga, peningkatan konsumsi, dan perlindungan sosial. Kompetisi di era AI tidak hanya soal siapa yang memiliki teknologi terkuat, tetapi terutama tentang siapa yang dapat membangun sistem ekonomi di mana kemakmuran dibagikan secara luas, sehingga kemajuan teknologi benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak.

marsbit47m yang lalu

Proposisi Ekonomi Politik Terbesar Era AI: Robot Semakin Cakap, Bagaimana Manusia Berbagi Nilai?

marsbit47m yang lalu

Trading

Spot
活动图片