SEC Officially Withdraws Gensler Era DeFi and Custody Rules

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-06-13Terakhir diperbarui pada 2025-06-13

The U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) has officially withdrawn several controversial rule proposals made during former Chair Gary Gensler’s term. These proposals were an attempt to make DeFi platforms fall under more strict federal oversight and narrow the rules on custody of crypto assets.

A significant proposal, released in April 2023, was to broaden the definition of an exchange under Rule 3b-16. Had it been enacted, it would have subjected decentralized finance (DeFi) platforms to the same regulations as national securities exchanges.

The crypto industry was strongly opposed to the plan, with Paradigm experts stating that the SEC needs to go back to the drawing board and directly consult with the DeFi community.

The other proposed rule was to compel investment advisors to custody crypto assets with qualified custodians. This sounded alarm bells throughout the industry, because it had the potential to reduce the pool of banks that would deal with digital assets.

These proposals had already been put on hold in March 2025 by the then acting SEC Chair Mark Uyeda, after facing heavy criticism. The commission has now formally pulled the plug.

Other withdrawals consisted of Gensler-era regulations on cybersecurity and ESG (Environmental, Social, and Governance) standards on investment companies.

Gensler, who headed the SEC between 2021 and January 2025, was criticized due to his so-called regulation by enforcement, which, according to many, put the crypto industry in a legal gray area.

The change is following the election of pro-crypto President Donald Trump. The current SEC Chair Paul Atkins has been more accommodating towards DeFi, saying recently that self-custody is an “American value” that must extend to digital assets as well.

Also Read: Breaking: Ripple and SEC Contend “Exceptional Circumstances” Exist, Lawyers Concerned



Bacaan Terkait

Ethereum Menggunakan Lebih Sedikit Daya Dibanding Museum Inggris – Inilah Perubahannya

Ethereum telah mengalami perubahan signifikan, terutama sejak *The Merge*, yang mengganti sistem Proof-of-Work (PoW) yang intensif energi dengan Proof-of-Stake (PoS). Akibatnya, konsumsi listrik Ethereum turun lebih dari 99,9%, menjadi hanya 7,87 GWh per tahun—kurang dari setengah konsumsi listrik British Museum. Jaringan ini sekarang beroperasi dengan sekitar 8.522 node fisik dan hampir 894.000 validator. Laporan Cambridge Centre for Alternative Finance (CCAF) menunjukkan bahwa infrastruktur Ethereum tetap terdesentralisasi meskipun terkonsentrasi secara geografis, dengan 62% node berada di AS, Jerman, Finlandia, dan Prancis. Selain itu, 56,4% listrik yang digunakan berasal dari sumber berkelanjutan (nuklir dan energi terbarukan), lebih tinggi dari rata-rata global sekitar 43%. Jejak karbon Ethereum juga turun drastis, sekitar 99,98%, menjadi sekitar 2,37 kiloton CO2 setara per tahun—setara dengan jejak karbon 900 rumah tangga di Inggris. Perkembangan masa depan seperti verifikasi tanpa status (*stateless verification*) dapat lebih mengurangi kebutuhan energi dan perangkat keras. Sementara itu, harga ETH menunjukkan sinyal bullish, namun perlu menembus level $1.800 untuk melanjutkan momentum positif. Rencana pengembangan jangka panjang "Lean Ethereum" juga diumumkan, bertujuan untuk menyederhanakan protokol inti dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

ambcrypto31m yang lalu

Ethereum Menggunakan Lebih Sedikit Daya Dibanding Museum Inggris – Inilah Perubahannya

ambcrypto31m yang lalu

Tiger Research: Zuckerberg Mulai Bertaruh pada Pasar Prediksi, Sedangkan Negara-Negara Asia Masih Menganggapnya Sebagai Perjudian

Pasar prediksi telah berkembang dari konsep akademis menjadi industri yang signifikan dengan volume perdagangan bulanan melebihi $14 miliar dan valuasi gabungan sekitar $400 miliar. Keikutsertaan Meta, dengan aplikasi Arena yang dipimpin langsung oleh Mark Zuckerberg, menandakan matangnya industri ini. Pasar prediksi berakar dari taruhan politik informal abad ke-18 dan pengembangan pasar elektronik untuk penelitian akademis pada 1988. Beroperasi dengan logika kontrak biner (ya/tidak), harga yang terbentuk secara organik melalui buku pesanan mencerminkan probabilitas suatu peristiwa. Mekanisme "skin in the game" — di mana peserta mempertaruhkan uang mereka sendiri — meningkatkan akurasi prediksi dibandingkan jajak pendapat tradisional, sebagaimana terbukti dalam prediksi kebijakan moneter AS dan pemilihan Korea Selatan. Namun, pendekatan regulator di Asia sangat berbeda dengan AS. Sementara pengadilan AS mengakui pasar prediksi sebagai instrumen keuangan, banyak yurisdiksi Asia masih mengklasifikasikannya sebagai perjudian. Hal ini menciptakan tiga masalah utama: arbitrase regulasi yang mendorong pengguna ke platform luar negeri, hilangnya kedaulatan atas data informasi penting, dan kurangnya perlindungan pengguna. Artikel ini menyerukan pergeseran diskusi kebijakan di Asia dari pelarangan menjadi pengaturan yang konstruktif, untuk mengintegrasikan pasar prediksi ke dalam sistem formal, memanfaatkan data yang dihasilkannya sebagai aset nasional, dan melindungi pengguna.

marsbit5j yang lalu

Tiger Research: Zuckerberg Mulai Bertaruh pada Pasar Prediksi, Sedangkan Negara-Negara Asia Masih Menganggapnya Sebagai Perjudian

marsbit5j yang lalu

Trading

Spot
活动图片