拜登退后:加密货币有望迎来新机遇

币界网Dipublikasikan tanggal 2024-07-27Terakhir diperbarui pada 2024-07-27

币界网报道:

乔·拜登退出2024 年美国总统竞选后,加密货币业内人士相对亢奋,无论谁当选,加密货币领域都有望迎来新机遇。

特朗普亲善加密货币占先机

本次美国总统竞选,加密货币圈的选票日益重要。最近在摇摆州进行的民意调查显示,五分之一的登记选民认为加密货币是一个重大事项,近一半的人对干涉该行业的候选人表示不信任。

拜登政府任期至今,无法在加密政策上形成统一,对数字资产表现出明显敌意,受到批评,也惹恼了加密货币圈。而前总统唐纳德·特朗普很快就利用了这一点。

特朗普积极争取加密货币圈的选票,承诺上任后结束“乔·拜登对加密货币的战争”。他的努力引起了共鸣,吸引了许多加密货币支持者和捐助者加入共和党阵营。

这位前总统在竞选过程中频频向加密货币持有者示好:在基于Polygon区块链的 NFT 收藏品持有者举办的活动上表示,他现在对加密货币“很满意”;5月上线专门募捐网站接受加密货币捐赠;6月,公开支持比特币矿工,希望所有剩余的比特币都在美国开采;7月27日,他将参加比特币2024全球大会并发表30分钟演讲。

民主党争取选票的新机会

有专家和观察家表示,拜登退出后,为民主党新的候选人在 11 月大选前更多获得加密货币圈选票创造了机会。

专注于加密货币投资 Variant Fund 的首席法律官 Chervinsky等加密圈知名人士,强调了加密货币在即将到来的选举中发挥重要作用的潜力,认为民主党可以利用这一时机,改变他们对加密货币和区块链政策的立场。

Chervinsky 在媒体平台上写道:“多年来,拜登政府一直对加密货币极为敌视,拒绝制定针对该技术的合理法规,而是试图通过执法监管运动摧毁该行业。”其中,以美国证券交易委员会主席 Gary Gensler 领导下的严格执法政策为标志。

多位知名的加密货币政策专家认为,任何接替拜登的民主党候选人都将会值得期待,毕竟加密货币监管环境不大可能比拜登政府时期更加严厉了。当然,几位潜在的民主党候选人在对待加密货币方面仍然存在一些差异的。

民主党候选人改变加密货币立场?

虽然拜登坚决支持副总统卡马拉·哈里斯成为民主党的竞选后续人,但依然有几位比较热门的人选可能威胁到哈里斯。这些潜在的拜登接班人,在加密货币治理方面有怎样的态度?

卡马拉·哈里斯 (Kamala Harris)

目前,副总统卡马拉·哈里斯是接替拜登的热门人选。她在 2010年竞选赢得了科技友好型城市旧金山的地区检察官职位,从此开始了政治生涯。当她于 2020 年当选副总统时,被广泛视为高科技公司和硅谷的福音。

但这位前检察官在谈到加密货币时一直保持沉默。事实上,哈里斯似乎从未就此发表过公开声明。当谈到另一项两极分化的新技术-人工智能时,哈里斯一直持批评的态度,她经常指出这项创新对人权和民主原则的威胁。

当然,人工智能不是加密货币,虽然这两个行业有时有重叠。因此,哈里斯当选总统,可能在加密货币问题上出现掷骰子,即有足够的空间追随其前任的脚步,或者开辟自己的道路。

格雷琴·惠特默(Gretchen Whitmer)

作为密歇根州州长,她是民主党冉冉升起的新星之一,她以摇摆州的激进分子而闻名,然而,惠特默也很少以某种方式表明对加密货币的立场。不过,传承密歇根州的政治传统,中西部州的民主党人比其他地方的人更愿意努力建立加密货币监管框架。例如,密歇根州的两位民主党参议员都支持加密行业立法。

加文·纽森(Gavin Newsom)

加州州长加文·纽森在加密货币方面的业绩,在拜登所有潜在接班人中最突出,原因很简单:美国许多顶级加密货币公司的总部都设在加州。

多年来,纽森在加密货币问题上的态度摇摆不定,就像他在其他热点问题上的态度一样。纽森坚持希望将加密创新留在加州的说法,令业内感到鼓舞。事实上,Coinbase 和 Block 等加密巨头也一直留在该州。

杰·罗·普利兹克(J.B. Pritzker)

这位伊利诺伊州州长是凯悦酒店继承人,据传他是支持加密货币的民主党人中最直言不讳的一位。早在2021年 8 月,他就表态:“加密货币的未来在伊利诺伊州。”同时,他还努力保持伊利诺伊州具有竞争力的营商环境,带领该州成为量子计算等新兴技术发展的中心。

Bacaan Terkait

Triliun Rupiah Masuk ke Dana Pensiun? ETF Reinvestasi Dividen Bitcoin Franklin Templeton Bawa Langit-Langit Tekanan Jual

Franklin Templeton telah mengajukan dua ETF yang memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio melalui mekanisme "konfigurasi default" dan reinvestasi dividen. Produk ini dirancang terutama untuk penasihat keuangan, memungkinkan klien memegang Bitcoin tanpa menyadarinya, dengan struktur awal 95% saham dan 5% Bitcoin. Dividen dari bagian saham akan otomatis digunakan untuk membeli Bitcoin. Namun, analisis menunjukkan dampak pembeliannya kecil. Dengan yield dividen rendah (sekitar 1% untuk dana luas dan 0.5% untuk sektor inovasi), aliran pembelian tahunan diperkirakan hanya beberapa juta dolar, yang terserap pasar dalam hitungan menit. Desainnya justru menciptakan tekanan jual saat harga Bitcoin naik, karena aturan rebalancing kuartalan akan menjual Bitcoin jika porsinya melebihi 5% untuk kembali ke 4.5%, dengan batas maksimal 20%. Produk ini berpotensi menjadi penjual pasif di pasar bullish. Produk ini memanfaatkan kemalasan manusia dan celah peraturan, menawarkan cara bagi penasihat untuk mengalokasikan Bitcoin secara "tidak langsung" dan mematuhi aturan internal yang melarang aset kripto. Meski ada potensi aliran dana pensiun setelah perubahan regulasi AS baru-baru ini, dampak langsungnya terhadap permintaan Bitcoin dianggap terbatas, dan produk semacam ini justru dapat menciptakan "langit-langit tekanan jual" jika banyak diterapkan.

marsbit27m yang lalu

Triliun Rupiah Masuk ke Dana Pensiun? ETF Reinvestasi Dividen Bitcoin Franklin Templeton Bawa Langit-Langit Tekanan Jual

marsbit27m yang lalu

Harga Bitcoin Menyentuh Level Terendah dalam 20 Bulan, Investor "Bull" Terbesar Sudah Rugi 15 Miliar Dolar

Harga Bitcoin menyentuh level terendah dalam 20 bulan terakhir, jatuh di bawah $60,000 pada 25 Juni. Aset kripta utama lainnya seperti ETH dan SOL juga terkoreksi tajam. Lebih dari $1 miliar posisi leverage dilikuidasi dalam 24 jam, dengan mayoritas adalah posisi long. Indeks Fear & Greed turun ke 15, menandakan sentimen "ketakutan ekstrem". Pilar utama bull run sebelumnya—yaitu strategi pembelian berkelanjutan oleh perusahaan seperti Strategy (MSTR) dan aliran dana institusional melalui ETF spot AS—sedang melemah secara bersamaan. Strategy, pemegang Bitcoin korporat terbesar, kini mencatat kerugian mengambang lebih dari $14,6 miliar. Produk pendanaan terbarunya, STRC, telah anjlok 25% dari nilai nominalnya, mengancam kemampuan perusahaan untuk terus mengumpulkan dana dan membeli Bitcoin. Sementara itu, ETF spot Bitcoin AS mengalami arus keluar bersih besar-besaran, dengan sekitar $2,8-3,5 miliar mengalir keluar sepanjang Juni. Lingkungan makro yang ketat dengan inflasi tinggi dan penundaan ekspektasi pemotongan suku bunga AS semakin menekan aset berisiko seperti kripto. Modal institusional juga tampak beralih ke sektor AI. Faktor jangka pendek, termasuk kadaluarsa opsi Bitcoin senilai sekitar $10 miliar pada 26 Juni, diperkirakan akan terus memicu volatilitas. Analis memperingatkan bahwa ujian sesungguhnya bagi pasar mungkin datang pada awal Juli setelah likuidasi kontak berjangka kuartalan dan penurunan leverage.

Foresight News35m yang lalu

Harga Bitcoin Menyentuh Level Terendah dalam 20 Bulan, Investor "Bull" Terbesar Sudah Rugi 15 Miliar Dolar

Foresight News35m yang lalu

STRC Tembus di Bawah 80 Dolar, Masih Bisakah Investor Beli di Titik Terendah?

STRC, saham preferen Strategos yang ditargetkan pada nilai nominal $100, telah jatuh di bawah $80, menawarkan yield dividen tersirat yang tampak tinggi sekitar 13-15%. Artikel ini menganalisis apakah ini peluang beli atau perangkap. Poin utamanya: Diskon ini bukan hanya karena likuiditas, tetapi mencerminkan keraguan pasar tentang kemampuan model pembiayaan Strategos. Strategos mengandalkan siklus "menerbitkan sekuritas -> membeli BTC" untuk tumbuh. STRC, sebagai lapisan pendanaan berbiaya tinggi yang membutuhkan pembayaran dividen tunai, menjadi titik tekanan jika siklus ini melambat. Alasan utama STRC melemah: 1. Tekanan pada harga BTC dan premium saham MSTR, mengurangi efisiensi pendanaan. 2. Mekanisme penerbitan STRC terhambat saat harga jauh di bawah nominal. 3. Kompetisi dari produk pendapatan serupa (seperti SATA) menarik likuiditas. 4. Sinyal risiko: Strategos menjual sedikit BTC (32 BTC) untuk mendanai dividen, mempertanyakan komitmen "hanya beli, tidak jual". STRC bukan skema Ponzi karena didukung aset BTC nyata, tetapi memiliki risiko "Ponisifikasi" jika dividennya semakin bergantung pada penjualan BTC atau penerbitan sekuritas baru. "Ledakan" atau kegagalan bagi STRC lebih mungkin berupa keruntuhan bertahap dalam kepercayaan dan kemampuan pendanaan, dipicu oleh kombinasi: BTC turun dalam, diskon STRC yang dalam berlanjut, tekanan biaya dividen tunai, dan penjualan BTC menjadi rutin untuk membayar dividen. Kesimpulan: STRC bukan aset pendapatan tetap bebas risiko. Ini adalah taruhan pada apakah model perbendaharaan BTC Strategos dapat bertahan dalam pasar bearish. Membelinya adalah spekulasi pada pemulihan harga menuju $100 dan keberlanjutan narasi pendanaan Strategos, sambil menerima risiko dividen tertunda atau harga diskon yang berkepanjangan.

marsbit49m yang lalu

STRC Tembus di Bawah 80 Dolar, Masih Bisakah Investor Beli di Titik Terendah?

marsbit49m yang lalu

Mengapa Proyek Kripto Sering Berganti Nama?

Penulis: Gu Yu, ChainCatcher Di dunia bisnis tradisional, aset merek adalah garis hidup perusahaan. Mengganti nama secara sering hampir setara dengan menghancurkan pertahanan bisnis secara sukarela. Namun, di dunia kripto, aturannya seringkali berkebalikan. Menurut statistik RootData, lebih dari 16% proyek kripto pernah mengganti nama, termasuk banyak proyek terkenal. Artikel ini membahas alasan umum di balik fenomena ini: 1. **Loyalitas merek kripto yang rendah:** Pengguna awal banyak proyek kripto seringkali adalah investor, pemburu airdrop, atau pedagang naratif, bukan konsumen setia. Loyalitas mereka lebih terikat pada potensi keuntungan daripada pengalaman produk. Nama lama yang dikaitkan dengan penurunan harga, narasi usang, atau kontroversi bisa menjadi beban, bukan aset. 2. **Strategi pemasaran dan penyesuaian:** Beberapa pergantian nama merupakan penyesuaian strategis yang sah saat cakupan bisnis berkembang melampaui nama awal (contoh: Matic Network menjadi Polygon). Namun, banyak juga yang bertujuan "menumpang" pada tren panas pasar (seperti AI, RWA) untuk mendapatkan perhatian dan modal segar. Pergantian nama juga bisa menjadi alat hubungan masyarakat untuk memutus hubungan dengan masa lalu setelah peretasan, kerugian, atau kegagalan yang merusak kepercayaan. 3. **Ruang abu-abu "ganti nama dan ganti token":** Yang perlu diwaspadai adalah ketika pergantian nama disertai migrasi token. Ini bisa menjadi kesempatan untuk "mereset" likuiditas dan grafik harga lama, menciptakan kesan segar. Dalam proses ini, seringkali terjadi perubahan pada tokenomics yang tidak menguntungkan pemegang token lama, seperti pengenceran melalui penambahan pasokan untuk insentif baru. **Kesimpulan:** Masalah sebenarnya bukan pada pergantian nama itu sendiri, melainkan pada motif di baliknya. Pergantian nama untuk memperluas visi strategis dengan produk nyata dapat positif. Namun, jika tujuannya adalah melarikan diri dari sejarah kegagalan, menggeser narasi usang, atau mereset grafik harga dan likuiditas untuk permainan lama yang sama, maka itu adalah tanda bahaya. Ketika sebuah proyek mengganti nama, pertanyaan kritisnya adalah: Apa kemampuan atau strategi baru yang nyata? Apakah tokenomics berubah? Sejarah lama apa yang paling ingin mereka lupakan?

marsbit55m yang lalu

Mengapa Proyek Kripto Sering Berganti Nama?

marsbit55m yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片