Why Hyperliquid is ‘quietly outgrowing’ Coinbase on THESE fronts

ambcryptoDipublikasikan tanggal 2026-02-11Terakhir diperbarui pada 2026-02-11

Abstrak

Hyperliquid, a decentralized exchange (DEX), is significantly outperforming Coinbase in key metrics, with nearly double the notional trading volume ($2.6T vs. $1.4T). Its native token, HYPE, has also delivered superior investor returns, up 32% YTD compared to COIN's 27% decline. Both platforms are competing to become an "everything exchange," but Hyperliquid has rapidly expanded beyond crypto into tokenized assets like gold and silver, which now account for over 30% of its volume. It currently handles 10% of Binance’s perpetual volumes, 32% of Bybit’s, and 24% of OKX’s. Despite regulatory risks being a concern, Hyperliquid’s growth continues, with its token eyeing key support levels amid renewed market interest.

Over the past few months, Hyperliquid has been playing catch-up to major centralized exchanges (CEXs). Now, it has begun flipping them on key metrics.

According to the analytics firm Artemis, the DEX platform is “quietly outgrowing” Coinbase with nearly 2x in notional trading volume.

“Notional trading volume: Coinbase $1.4T, Hyperliquid $2.6T. That’s nearly 2x Coinbase’s volume... from an onchain exchange. And the market is noticing.”

The outperformance has gone beyond ecosystem traction. Hyperliquid’s native token, HYPE, has also surpassed Coinbase’s COIN in investor returns. On a year-to-date (YTD) basis, HYPE holders have netted 32% while COIN holders were down 27% – A nearly 60% lead on investor gains.

The race for ‘everything exchange’

The comparison between the two platforms makes sense because both are pushing towards an “everything exchange” vision. Coinbase covers services spanning asset custody, trading, prediction markets, and more.

Similarly, Hyperliquid aims to house all finance under one roof and has made significant strides despite being operational for over a year.

After conquering the crypto perpetual markets and rivaling incumbents like Binance, Hyperliquid’s debut into tokenized markets via equity perps exploded. Now, over 30% of Hyperliquid’s DEX volume comes from non-crypto assets, dominated by gold and silver.

The results? Slow and steady clawing of market share from Binance and other top centralized players. Since last August, Hyperliquid has handled over 10% of Binance’s perpetual volumes.

Although the October crash led to a cool-off of the ratio to 10%, the perp DEX platform traction has since been climbing again. Compared to Bybit, Hyperliquid now handles 32% of its perpetual volumes and 24% of OKX’s activity.

Overall, at press time, the perp DEX was handling over 6% of total CEX volumes, with a strong renewed traction in 2026.

HYPE eyes key support

Market watchers have cautioned that the only threats to the massive growth can be a hack or regulatory risk, especially from the U.S Department of Justice (DoJ).

“Agree here that hype’s biggest risk is regulatory. They need to get much more embedded with the tradfi elites as regulators will eventually get involved.”

That said, HYPE has been a key beneficiary of the traction, with rising revenue funding token buybacks.

However, HYPE’s cool-off isn’t over yet, and a retest of $26-$28 support zone (white) could offer new buying opportunities if risk sentiment improves after the U.S inflation print scheduled for Friday.


Final Thoughts

  • Hyperliquid saw 2x more derivatives market activity compared to Coinbase.
  • The DEX platform handled over 6% of total CEX perpetual volumes amid renewed traction in 2026.

Pertanyaan Terkait

QAccording to the article, how does Hyperliquid's notional trading volume compare to Coinbase's?

AAccording to analytics firm Artemis, Hyperliquid's notional trading volume is nearly 2x that of Coinbase, with $2.6T compared to Coinbase's $1.4T.

QWhat is the year-to-date (YTD) performance difference between the HYPE token and Coinbase's COIN stock?

AOn a YTD basis, HYPE holders have netted a 32% gain, while COIN holders were down 27%, giving HYPE a nearly 60% lead in investor gains.

QWhat significant non-crypto market did Hyperliquid debut in, and what is its impact?

AHyperliquid debuted in tokenized markets via equity perps, and now over 30% of its DEX volume comes from non-crypto assets, which are dominated by gold and silver.

QWhat percentage of Binance's perpetual volumes has Hyperliquid handled since last August?

ASince last August, Hyperliquid has handled over 10% of Binance's perpetual volumes.

QWhat are cited as the primary threats to Hyperliquid's massive growth?

AThe primary threats cited are a potential hack or regulatory risk, especially from the U.S. Department of Justice (DoJ).

Bacaan Terkait

Trade.xyz Tolak Rebase Picu Kontroversi, Pasar Pre-IPO On-Chain Hadapi Ujian Penetapan Harga

Penulis: Nancy, PANews Ketika para pemain kripto memamerkan pesanan pembelian SpaceX di media sosial, Trade.xyz di Hyperliquid justru menjadi sorotan kontroversi karena aturan penetapan harga kontrak berkelanjutan (perpetual) pra-penawaran umum perdana (Pre-IPO) untuk SPCX (SpaceX). Pada 10 Juni, Trade.xyz merilis pernyataan menanggapi kontroversi tersebut. Platform menjelaskan bahwa kontrak IPOP mereka adalah kontrak perpetual tipe harga yang bertujuan melacak ekspektasi harga per saham, bukan valuasi perusahaan total. Oleh karena itu, informasi seperti total saham atau kapitalisasi pasar bukan bagian dari logika penetapan harga. Contoh edukatif awal yang menunjukkan cara menghitung harga per saham berdasarkan asumsi valuasi telah dihapus karena dianggap menyesatkan. Pemicu masalah adalah pengungkapan dalam prospektus SpaceX bahwa jumlah saham sebenarnya adalah 13,08 miliar, sekitar 10% lebih tinggi dari perkiraan pasar sebelumnya (11,87 miliar). Bursa terpusat (CEX) lain menangguhkan perdagangan dan menyesuaikan harga berdasarkan data baru, sementara Trade.xyz tidak melakukannya karena logika produknya tidak bergantung pada data jumlah saham. Hal ini memicu kesenjangan harga dan peluang arbitrase antar platform. Trade.xyz menyatakan harga SPCX akan konvergen dengan harga pasar saham SpaceX yang sebenarnya setelah IPO selesai dan data perdagangan eksternal tersedia. Namun, respons ini justru memperbesar kritik. Banyak pengguna merasa platform tidak transparan sejak awal tentang aturan kontrak, dan penjelasan serta revisi dokumen dilakukan setelah kontroversi terjadi. Kerugian finansial nyata dialami oleh trader yang memegang posisi long (beli), karena harga turun sekitar 10% tanpa mekanisme penyesuaian (rebase), menyebabkan likuidasi bagi pengguna leverage tinggi. Artikel ini membahas tantangan besar bagi Perp DEX (Decentralized Exchange untuk kontrak berkelanjutan) dalam menangani aset Pre-IPO di rantai blokir (on-chain), khususnya ketiadaan mekanisme rebase. Rebase adalah penyesuaian netral nilai yang menyelaraskan harga kontrak dan jumlah posisi pengguna secara proporsional saat terjadi peristiwa seperti perubahan jumlah saham. CEX dapat melakukannya dengan mudah melalui database terpusat, tetapi implementasinya di DEX jauh lebih kompleks karena semua proses berjalan pada kontrak pintar yang tidak dapat diubah langsung, berpotensi meningkatkan biaya, kompleksitas, dan risiko keamanan. Beberapa menyarankan solusi teknis mungkin, seperti yang diterapkan oleh protokol lain seperti Aster. Trade.xyz, yang berjalan pada arsitektur HIP-3 Hyperliquid yang memungkinkan pasar independen, dikabarkan sedang mempelajari solusi untuk peristiwa seperti pemecahan saham (stock split) di masa depan. Pada intinya, kasus SPCX menguji kemampuan Perp DEX dalam membangun mekanisme penemuan harga yang andal untuk aset RWA (Real World Assets) seperti Pre-IPO, dan apakah mereka dapat bertahan menghadapi ujian informasi serta tindakan korporasi dunia nyata, atau hanya akan menjadi ajang spekulasi.

marsbit5m yang lalu

Trade.xyz Tolak Rebase Picu Kontroversi, Pasar Pre-IPO On-Chain Hadapi Ujian Penetapan Harga

marsbit5m yang lalu

Mengamankan 15 Zero-Day Vulnerability Tingkat Atas: Kerangka Debug Agent Cerdas Protokol Konsensus yang Dibangun oleh 0G Lab Bersama Tim NUS, PKU, dan BUPT

Sistem konsensus terdistribusi, sebagai fondasi infrastruktur digital, terkenal kompleks dan rentan terhadap bug logika dalam (deep logic bug) yang sulit dideteksi. Makalah yang diterima di ICML 2026, hasil kolaborasi 0G Labs, National University of Singapore, Peking University, dan Beijing University of Posts and Telecommunications, memperkenalkan Agora, framework otomatis pertama yang menggabungkan pengetahuan domain dengan kolaborasi multi-agent LLM. Agora mengatasi kelemahan model LLM tunggal dengan mendesain tiga agent khusus: Orchestrator (koordinasi global), Strategy (generasi skenario serangan berbasis pengetahuan distribusi), dan TestGen (pembuatan & eksekusi tes). Framework ini mengintegrasikan arsitektur "harness" yang efisien dan mekanisme komunikasi ringkas, memungkinkan loop pengujian dan perbaikan otomatis dengan biaya token rendah. Dalam evaluasi pada protokol konsensus industri seperti Raft dan komponen inti Sui, Agora berhasil menemukan 15 deep bug logika yang sebelumnya tidak diketahui (zero-day). Sebaliknya, model baseline kuat seperti GPT-5.2 dan Claude 4.5 gagal mendeteksi bug ini. Agora mencapai ini dengan tingkat false positive hanya 26.1% dan biaya rata-rata sekitar $40 per bug. Kemajuan ini menunjukkan bahwa pendekatan "LLM + multi-agent + hypothesis-driven testing" tidak hanya efektif untuk audit keamanan protokol konsensus, tetapi juga memiliki potensi tinggi untuk diterapkan di area lain seperti kontrol konkurensi database, kernel OS, dan audit kontrak pintar Web3. Agora menawarkan solusi yang terjangkau dan efisien, membuka era otomatisasi AI untuk pengujian infrastruktur keras tingkat produksi.

marsbit50m yang lalu

Mengamankan 15 Zero-Day Vulnerability Tingkat Atas: Kerangka Debug Agent Cerdas Protokol Konsensus yang Dibangun oleh 0G Lab Bersama Tim NUS, PKU, dan BUPT

marsbit50m yang lalu

Partner a16z Crypto: Arus Dana adalah Parit Pertahanan yang Sesungguhnya

**Ringkasan: Aliran Uang adalah Parit Pertahanan Sejati** Sejarah bisnis menunjukkan bahwa perusahaan yang bertahan lama seringkali beroperasi di titik-titik penting di mana nilai dan uang berpindah tangan, menghasilkan keuntungan dari transaksi ini. Kripto adalah teknologi modern pertama yang secara inheren selaras dengan logika bisnis ini, memungkinkan aliran nilai yang cepat, dapat diprogram, dan global melalui aset seperti stablecoin. Teknologi blockchain sendiri beroperasi sebagai model bisnis berbasis jaringan. Semakin banyak pengguna dan pengembang yang bergabung, semakin berharga jaringan bagi semua orang. Token jaringan yang dirancang dengan baik dapat memperkuat efek ini dengan menyelaraskan insentif semua peserta—pengguna, pengembang, penyedia layanan—sekitar pertumbuhan jaringan dan berbagi keuntungan. Logika ini bukanlah hal baru. Perusahaan kereta api mendapat untung dari biaya lintas, perusahaan minyak dari transportasi, dan raksasa teknologi seperti Google dan Meta mendapat untung dengan menempati posisi sentral dalam aliran perhatian dan perdagangan. Model bisnis yang menggabungkan aliran uang dengan efek jaringan adalah salah satu yang paling kuat. Sektor keuangan tradisional penuh dengan "peluang" ini, karena banyak layanan (pembayaran, penitipan aset, transfer lintas batas) mengenakan biaya besar. Start-up kripto memiliki kesempatan untuk membangun infrastruktur generasi berikutnya yang dapat diprogram, instan, dan global yang secara radikal mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi ini. Namun, peluangnya melampaui keuangan. Pasar baru untuk daya komputasi (GPU), data pelatihan AI, energi, logam tanah jarang, dan lainnya sedang muncul. Ini adalah lahan biru untuk model berbasis aliran nilai yang dibangun di atas infrastruktur yang dapat diprogram, tanpa platform lama yang sudah mapan. Pertanyaan kunci bagi pendiri adalah: Apakah bisnis Anda berada di pusat aliran nilai? Apakah pendapatan Anda meningkat sepuluh kali lipat jika volume ekosistem meningkat sepuluh kali lipat? Di mana margin keuntungan tertinggi dalam pasar target Anda relatif terhadap nilai yang diciptakan? Jawabannya menunjukkan di mana peluang terbesar berada—mengompres biaya, memasuki aliran nilai baru, dan berkembang melalui efek jaringan.

Foresight News52m yang lalu

Partner a16z Crypto: Arus Dana adalah Parit Pertahanan yang Sesungguhnya

Foresight News52m yang lalu

Mengungkap “Dewa Saham Rambut Putih” Serenity: Obat Bagi Investor Ritel yang Cemas

Serenity, seorang "dewa saham berambut putih", menjadi sensasi di komunitas investor global dan lokal. Ia dikenal karena metode investasi "Chokepoint" dalam sektor AI dan rekam jejaknya dengan lebih dari 16 saham memberikan ROI >100% tahun ini. Publikasi analisisnya di platform X, di mana jumlah subscriber-nya bahkan melampaui Elon Musk, memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan harga. Baru-baru ini, perhatiannya beralih ke pasar saham A China. Postingannya tentang saham-saham seperti **LeaderDrive (688017)** dan **East Group (300376)** menyebabkan kenaikan harga yang tajam, bahkan memicu limit up 20%. Meskipun Serenity menyatakan ini hanya untuk "bersenang-senang" dan menyangkal memegang saham tersebut, aksinya memicu perdebatan tentang potensi "pom-pom lintas batas" dan peringatan dari media keuangan China. Identitas aslinya tetap anonim. Berdasarkan pola posting dan petunjuk kehidupan pribadinya, komunitas menduga kuat dia adalah seorang keturunan Tionghoa yang tinggal di Jepang. Meskipun mengklaim hanya mengadvokasi demokratisasi informasi dengan analisis gratis, jumlah subscriber-nya yang besar menghasilkan pendapatan signifikan. Kesimpulannya, Serenity merepresentasikan proyeksi emosi pasar bullish AI — misterius, ahli, dan sukses. Namun, sejarah pasar saham penuh dengan figur yang dipuja saat naik dan disalahkan saat jatuh. Ketika tren berbalik, Sorotan mungkin akan beralih dari siapa dia sebenarnya kepada siapa yang akan disalahkan.

Odaily星球日报57m yang lalu

Mengungkap “Dewa Saham Rambut Putih” Serenity: Obat Bagi Investor Ritel yang Cemas

Odaily星球日报57m yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片