Usia 7 Tahun Dirikan Perusahaan? Usia 9 Tahun Buat Film? Orang Tua Generasi 90-an Sedang Membesarkan "Anak Ajaib AI"
Belakangan ini, kamp pelatihan AI untuk anak-anak sedang marai, dengan klaim bombastis seperti "anak 7 tahun dirikan perusahaan" atau "buat film AI dalam sehari". Fenomena ini memanfaatkan kecemasan orang tua—khususnya generasi muda yang mengalami pergantian era internet dan kini khawatir pekerjaan mereka tergantikan AI. Mereka berharap anak bisa menjadi "anak ajaib AI" agar tak tertinggal.
Namun, kenyataannya, banyak program ini hanya fokus pada penggunaan dangkal alat AI (seperti menghasilkan konten dengan platform semacam Doubao), bukannya pemahaman mendasar. Alih-alih mengasah kemampuan, anak justru mungkin belajar "menyelesaikan tugas dengan cepat" ala AI—bahkan menyontek. Seperti dikritik pegiat catur Ke Jie, ini bisa jadi sekadar "pajak kecerdasan".
Di sisi lain, kisah anak jenius AI sesungguhnya, seperti Alby Churven (14 tahun) atau Bob Chopra (9 tahun), sering kali lebih rumit. Mereka mungkin dikelilingi sorotan, namun sulit dapat investasi serius. Dunia bisnis tetap melihat kedewasaan dan landasan keilmuan. Keberhasilan Carina Letong Hong (00-an) dengan Axiom AI-nya menunjukkan bahwa fondasi pendidikan formal tetap krusial.
Intinya, demam AI untuk anak kerap hanya jadi cermin kecemasan orang tua di era disruptif. Daripada terburu-buru mengejar klaim instan, membekali anak dengan dasar belajar yang kuat dan pemahaman konseptual justru lebih berharga bagi masa depan mereka.
marsbit07/20 00:30