Mining Kripto di Kazakhstan: Bagaimana Aturan, Pasar, dan Kebijakan Energi Berubah
Menambang kripto di Kazakhstan telah berkembang dari industri yang tumbuh cepat dengan listrik murah menjadi pasar yang diatur ketat, berfokus pada lisensi, akses energi, dan transparansi aset digital.
Pada 2026, pemerintah memperkenalkan aturan untuk "penambang strategis" yang memerlukan pusat data berkapasitas minimal 150 MW dan peralatan canggih. Sebagai imbalan kuota energi jangka panjang, mereka harus menyetor sebagian kripto yang ditambang ke cadangan kripto nasional. Aturan baru juga mengizinkan penggunaan gas ikutan dari ladang minyak untuk menambang. Jumlah perusahaan berlisensi mencapai 71.
Pada 2025, produksi Bitcoin turun 31%. Pemerintah melunakkan regulasi, mencabut aturan yang mewajibkan penjualan 75% aset melalui bursa tertentu, memberikan lebih banyak kebebasan kepada penambang.
Tahun 2024, jumlah penambang legal turun karena kenaikan pajak dan defisit energi. Pemerintah memberlakukan persyaratan ketat untuk sistem pengukuran dan pemutusan daya otomatis.
Pada 2023, aturan mewajibkan penjualan 75% kripto yang ditambang mulai berlaku, namun kemudian dicabut.
Di tahun 2022, lisensi menjadi wajib. Penambang hanya bisa membeli listrik dari bursa saat ada kelebihan pasokan. Krisis energi menyebabkan pemadaman bagi penambang.
Pada 2021, Kazakhstan menjadi produsen Bitcoin terbesar kedua dunia setelah eksodus penambang dari China, namun menghadapi kekurangan listrik parah. Pemerintah memberlakukan pembayaran tambahan untuk konsumsi listrik penambangan.
Awalnya di tahun 2020, Kazakhstan berambisi menarik investasi besar dengan listrik murah dan regulasi ringan.
Kesimpulannya, Kazakhstan mencari keseimbangan antara pemanfaatan energi, penerimaan pajak, dan pengembangan ekonomi digital, beralih dari pendekatan terbuka ke model yang lebih terstruktur dengan penekanan pada infrastruktur dan transparansi.
cryptonews.ru6j yang lalu