# Artikel Terkait Keamanan

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "Keamanan", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

Audit Ambang Batas 20%: Dari 20 Aset Kripto Terbesar, Siapa yang Akan Mati oleh UU CLARITY?

Audit Ambang Batas 20%: Aset Kripto Top 20, Siapa yang Akan Mati oleh UU CLARITY? UU CLARITY Act yang diumumkan pada Desember 2025 memperkenalkan aturan ketat: jika satu entitas mengontrol >20% pasokan token atau kekuatan validasi, aset akan diklasifikasikan sebagai "sekuritas digital" yang diatur SEC, bukan "komoditas digital" yang lebih bebas. Aturan ini menjadi ancaman bagi banyak proyek kripto. **Zona Aman (Digital Commodity):** - **Bitcoin (BTC):** 0% kontrol, terdesentralisasi sempurna. - **Ethereum (ETH):** <1% kontrol, sangat terdistribusi. - **Dogecoin (DOGE) & Litecoin (LTC):** Kontrol mendekati 0%, tanpa VC atau premine. **Zona Bahaya (Berisiko Jadi Sekuritas):** - **XRP & BNB:** Kontrol oleh perusahaan induk sangat tinggi. - **TON, Sui, Aptos:** Konsentrasi token pada tim, investor, dan yayasan >50%. - **Token Layer 2 (ARB, OP):** TreasuryDAO bisa dianggap sebagai "entitas tunggal". **Zona Abu-Abu:** - **Solana (SOL):** Terdistribusi pasca-FTX, tetapi kepemilikan yayasan+VC perlu dibuktikan di bawah 20%. Proyek yang terancam memiliki waktu 360 hari untuk beradaptasi: melakukan airdrop besar-besaran untuk mendistribusikan token, menerima status sekuritas (dan kehilangan likuiditas), atau dihapus dari bursa. Masa depan pasar akan terpecah: aset terdesentralisasi seperti BTC/ETH akan didominasi institusi, sementara "altcoin VC" akan kehilangan akses ke likuiditas utama.

marsbit12/12 09:43

Audit Ambang Batas 20%: Dari 20 Aset Kripto Terbesar, Siapa yang Akan Mati oleh UU CLARITY?

marsbit12/12 09:43

Delapan Tahun Perkembangan Ponsel Web3: Dari "Mainan Geeks" Hingga "Fitur Bawaan" Xiaomi

Dalam kemitraan terbaru, raksasa ponsel Xiaomi dan blockchain Sei berkolaborasi mengintegrasikan dompet kripto dan platform DApp langsung ke ponsel baru untuk pasar global (kecuali Tiongkok darat dan AS). Teknologi MPC memungkinkan login mudah via akun Google/Xiaomi tanpa seed phrase, sementara sistem pembayaran stablecoin (seperti USDC) di toko ritel Xiaomi direncanakan pada 2026. Evolusi ponsel Web3 dalam 8 tahun terakhir dibagi dalam tiga fase: 1. **Fase Awal (2018-2020)**: Perangkat seperti Sirin Finney dan HTC Exodus fokus pada keamanan hardware dan penyimpanan privat key, namun terlalu niche dan mahal untuk pengguna umum. 2. **Eksplorasi Produsen Utama (2019-2022)**: Samsung memperkenalkan dompet hardware di Galaxy S10, sementara Vertu dan HTC mencoba pendekatan mewah atau metaverse. Fitur Web3 masih tersembunyi dan kurang adopted. 3. **Gelombang Baru (2023-2025)**: Dipicu kesuksesan Solana Saga dengan model "airdrop" yang menguntungkan pengguna, diikuti kompetisi dari TON (UBS), JamboPhone (harga terjangkau untuk pasar emerging), dan Coral Phone (BNB Chain). Pendekatan beralih ke insentif token dan integrasi ekosistem. Lima tren utama teridentifikasi: peningkatan keamanan hardware (seperti TEEPIN dan BSIM card), binding ekosistem spesifik, pertumbuhan pengguna lewat insentif, fokus pada aplikasi praktis (bukan hanya tech), dan skala besar melalui integrasi vendor seperti Xiaomi. Kesimpulannya, masa depan ponsel Web3 bukanlah perangkat eksklusif, tetapi integrasi mulus yang menurunkan hambatan teknis (seperti seed phrase) dan menawarkan pengalaman user yang intuitif—seperti bagaimana 5G bekerja tanpa perlu memahami protokolnya.

marsbit12/11 09:37

Delapan Tahun Perkembangan Ponsel Web3: Dari "Mainan Geeks" Hingga "Fitur Bawaan" Xiaomi

marsbit12/11 09:37

活动图片