Perak spot naik 1,3% pada 21 Agustus menjadi $68,93 per ons, dan bersama emas, platinum, serta paladium diperkirakan akan mencatat kenaikan mingguan. Dorongan bersama untuk logam mulia hari itu berasal dari melemahnya dolar AS dan perubahan imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang, dengan perak juga diuntungkan oleh permintaan safe-haven dan atribut industrinya.
Dolar AS melemah minggu ini, membuat logam mulia yang ditetapkan dalam dolar lebih murah bagi pembeli luar negeri. Menteri Keuangan AS Bessent menyatakan bahwa pemerintah mungkin akan memperluas lebih lanjut skala pembelian kembali obligasi pemerintah. Departemen Keuangan sebelumnya mengumumkan bahwa ukuran pembelian kembali setiap sekuritas jangka panjang pada kuartal berikutnya akan digandakan menjadi setidaknya $4 miliar. Berita pembelian kembali itu menekan imbal hasil jangka panjang dan juga kembali memicu diskusi pasar tentang daya beli mata uang dan alokasi aset.
Ekspektasi suku bunga tetap menjadi variabel kunci berikutnya untuk perak. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah klaim pengangguran awal AS turun pekan lalu, dengan pasar tenaga kerja tetap stabil setelah penurunan lapangan kerja yang tak terduga pada bulan Juli. Pedagang saat ini memperkirakan probabilitas Federal Reserve mempertahankan suku bunga tetap bulan depan adalah 63%, dengan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 37%. Semakin tinggi suku bunga, semakin tinggi biaya memegang aset yang tidak menghasilkan bunga; jika imbal hasil terus menurun, daya tarik relatif perak akan meningkat.
Risiko geopolitik juga memberikan dukungan. Amerika Serikat menyatakan akan memberlakukan sanksi yang lebih keras terhadap Iran, sehingga ketidakpastian energi dan inflasi tetap berada pada tingkat tinggi. Perak adalah logam mulia dan juga digunakan secara luas dalam fotovoltaik, elektronik, dan manufaktur canggih, sehingga harganya akan mencerminkan pembelian safe-haven dan ekspektasi permintaan industri secara bersamaan.
Dalam jangka pendek, kenaikan cepat di sekitar $68,93 dapat memicu profit-taking, namun dolar, imbal hasil obligasi, dan situasi geopolitik masih cenderung mendukung. Investor perlu terus mengamati pernyataan Federal Reserve, data inflasi AS, serta apakah permintaan industri dapat mengikuti kenaikan harga.





