Bank bergantung pada buku besar, dan blockchain pada dasarnya juga buku besar. Namun, buku besar yang satu dan yang lain memiliki perbedaan mendasar. Pilihan yang dihadapi bank saat ini mirip dengan pilihan yang dihadapi surat kabar/majalah dulu: merangkul internet dan menjadi media baru berbasis internet, atau bertahan dengan media cetak hingga tidak banyak yang berlangganan. Kehadiran stablecoin semakin memperkuat tren ini.
Secara permukaan, kita bisa melihat banyak bank mulai mengadopsi teknologi enkripsi. Dari sudut pandang logika paling mendasar, mengapa buku besar enkripsi akhirnya akan menggantikan buku besar bank? Ini berkaitan dengan metode pembukuan akuntansi.
Bank tradisional terutama menggunakan metode pembukuan double-entry (berpasangan), sedangkan blockchain memperkenalkan metode triple-entry (tiga entri). Metode double-entry berasal dari penemuan Italia pada abad pertengahan dan merupakan dasar akuntansi yang umum digunakan di sebagian besar negara di dunia. Metode ini mensyaratkan setiap transaksi, seperti setoran, pinjaman, transfer, harus dicatat dengan jumlah yang sama dalam setidaknya dua akun terkait, memastikan verifikasi dua arah untuk setiap transaksi. Misalnya, satu pihak sebagai "debit" pasti akan berkorespondensi dengan "kredit" yang terkait. Hal ini menjamin aset = kewajiban + ekuitas, mencapai keseimbangan, dan memudahkan audit.
Ketika Anda menyetor Rp 1.000 ke bank, bank akan mencatat: Debit: Kas Rp 1.000; Kredit: Simpanan nasabah Rp 1.000 (sub-kategori kewajiban). Namun, pembukuan double-entry tradisional bergantung pada pencatatan independen oleh berbagai pihak, sehingga berpotensi untuk dimanipulasi dan memiliki ketidakakuratan rekonsiliasi. Misalnya, uang yang disimpan seseorang di bank pada dasarnya adalah angka di buku besar bank. Secara teori, bank dapat mengubah angka ini. Orang hanya bisa percaya pada merek bank, audit pihak ketiga, pengawasan, dll. Artinya, perlu percaya bahwa bank tidak berbuat jahat, percaya bahwa pihak ketiga dapat mengaudit dan mengawasi. Misalnya, skandal Enron tahun 2001, yang menggunakan kelemahan pembukuan double-entry untuk memalsukan pembukuan, menyebabkan kebangkrutan.
Berbicara tentang pembukuan double-entry, apakah ada pembukuan single-entry? Benar ada. Pembukuan single-entry adalah pembukuan aliran (cash flow), hanya mencatat satu entri. Dibandingkan dengan itu, pembukuan double-entry lebih ketat.
Lalu, apa perbedaan pembukuan triple-entry blockchain? Pembukuan triple-entry menambahkan "entri ketiga" pada dasar double-entry: sebuah catatan bersama yang tidak dapat diubah (immutable). Dan catatan ini saat ini dapat diwujudkan melalui blockchain yang tidak memerlukan kepercayaan dan perantara. Inilah keuntungan dari distributed ledger (buku besar terdistribusi).
Entri ketiga ini sering kali berupa tanda terima yang ditandatangani secara kriptografi atau blok timestamp, agar tidak dapat diubah, memerlukan konsensus jaringan untuk memverifikasi, seperti mekanisme Proof-of-Work (PoW) BTC dan mekanisme Proof-of-Stake (PoS) Ethereum. Metode ini memecahkan masalah kepercayaan dalam pembukuan double-entry, karena tidak dapat diubah dan tidak ada masalah ketidakakuratan rekonsiliasi. Yang dimaksud triple-entry adalah, melalui blockchain sebagai "pihak ketiga" yang mengarbitrasi, transaksi menjadi terpercaya dan dapat diaudit.
Misalnya, Ethereum pada dasarnya adalah sebuah distributed ledger. Setiap transaksi akan dicatat dalam akun pengirim dan penerima (mirip dengan debit/kredit dalam pembukuan double-entry), dan juga memiliki mekanisme konsensus jaringan (mekanisme PoS) untuk menghasilkan "entri ketiga": blok timestamp yang ditandatangani secara kriptografi dan tidak dapat diubah.
Triple-entry, pada dasarnya, berarti blok menciptakan catatan yang tidak dapat diubah. Keberadaannya lebih efisien daripada pembukuan double-entry, tidak memerlukan perantara untuk mengelola secara terpusat, dan mengurangi pekerjaan audit. Secara sederhana, double-entry adalah kedua pihak masing-masing mencatat satu buku; triple-entry menambah satu "kotak kunci pintar" yang mencap secara otomatis dan disaksikan oleh seluruh jaringan. Tidak dapat diubah, pemeriksaan buku dalam hitungan detik.
Pada akhirnya, bank yang beralih ke chain, dari sudut pandang logika dasar, adalah mengubah metode pembukuan double-entry mereka menuju triple-entry. Begitu masalah privasi (bukti ZK) dan masalah kepatuhan (KYC) teratasi, operasi perbankan di chain dapat sangat meningkatkan efisiensi. Bank juga tidak perlu lagi memelihara sistem keuangan lama yang besar dan beralih ke sistem chain terenkripsi baru yang tidak akan mengalami downtime.
Merangkul atau terpinggirkan, ini adalah salah satu tantangan terpenting yang akan dihadapi bank dan lembaga keuangan lainnya dalam dua puluh tahun ke depan.





