Investor sedang meninggalkan logika "pilih salah satu" dan beralih ke bertaruh pada emas dan Bitcoin secara bersamaan.
Menurut laporan Bloomberg pada Kamis, dalam lima sesi perdagangan terakhir, ETF yang melacak kedua aset ini secara bersama menarik masuk sekitar 70 miliar dolar AS, mencatat rekor baru, mendorong sebagian dana emas dan Bitcoin terbesar ke peringkat atas daftar masuknya dana ETF AS pekan ini.
Pemicu langsung gelombang dana ini adalah pengumuman Menteri Keuangan AS Janet Yellen yang berencana setidaknya menggandakan skema pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang. Berita ini awalnya menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar, sekaligus mendorong harga emas dan Bitcoin melonjak, memberikan alasan baru bagi investor yang mencari aset "yang sulit dijangkau oleh tangan pemerintah". Saat ini, emas telah naik sekitar 13% bulan ini, baru-baru ini menembus 4.600 dolar AS per ons; Bitcoin kembali berdiri di atas level 80.000 dolar AS.
Kenaikan simultan kedua aset ini menandai kembalinya "perdagangan depresiasi mata uang" (debasement trade)—di mana daya tarik aset langka yang pasokannya terbatas dan berada di luar sistem moneter pemerintah meningkat di tengah tekanan fiskal yang memburuk dan kondisi keuangan yang melonggar. Kebangkitan kembali logika ini sedang membentuk ulang orientasi alokasi aset investor.
Arus Masuk Rekor: ETF Emas dan Bitcoin Sama-sama Masuk 10 Besar Daftar Mingguan
Menurut data Bloomberg, dalam lima sesi perdagangan terakhir, ETF emas dan Bitcoin secara bersama mencatat arus masuk bersih sekitar 70 miliar dolar AS, tertinggi sepanjang sejarah.
Di antaranya, SPDR Gold ETF milik State Street Global Advisors menarik hampir 3,4 miliar dolar AS, berada di peringkat atas daftar masuknya dana ETF AS pekan ini, hanya di bawah segelintir dana seperti Vanguard S&P 500 ETF (VOO). iShares Bitcoin Trust ETF (kode: IBIT) milik BlackRock mencatat arus masuk 1,5 miliar dolar AS, juga masuk dalam 10 besar mingguan.
Dilihat dari data tahun-ke-tanggal, GLD yang bernilai 155 miliar dolar AS masih mencatat arus keluar bersih sekitar 2,8 miliar dolar AS; sedangkan IBIT senilai 60 miliar dolar AS relatif stabil, dengan arus masuk bersih sekitar 830 juta dolar AS dalam periode yang sama.
Eric Balchunas, Analis ETF Senior Bloomberg Intelligence, menyatakan: "Yang benar-benar perlu diperhatikan bukan hanya besarnya arus masuk itu sendiri, melainkan momentum di baliknya—permintaan tidak hanya positif, tetapi juga sedang berakselerasi." Para analis mencatat, tren ini berarti investor sedang melakukan koreksi terpusat terhadap posisi rendah (underweight) mereka sebelumnya.
Narasi Berkobar Kembali: Kecemasan Fiskal dan Logika Aset Langka Kembali Menyatu
Pendorong inti dari pergerakan ini adalah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal AS.
Gautam Chhugani, Analis Aset Digital Senior Global Bernstein, menulis dalam laporannya: "Siklus penurunan suku bunga 40 tahun tampaknya telah sampai pada ujungnya, seiring dengan utang pemerintah yang melonjak ke level tertinggi dalam sejarah, pemerintah di berbagai negara menghadapi tekanan pembayaran utang yang semakin berat. Investor yang memegang aset langka seperti Bitcoin kemungkinan akan mendapat manfaat—aset semacam ini tidak dapat dengan mudah ditambah jumlahnya atau diencerkan."
Emas mendapat manfaat dari logika di atas berkat status tradisionalnya sebagai safe haven, sementara Bitcoin, dengan batas maksimum tetap 21 juta koin, dipandang sebagai pelabuhan potensial untuk melindungi diri dari guncangan kebijakan pemerintah. Analis Bloomberg Intelligence Balchunas mengatakan, pergerakan ini mengembalikan Bitcoin pada narasi intinya: "Inilah yang Bitcoin lahir untuk lakukan, ini adalah landasan dasarnya."
Miliarder Ray Dalio juga menyatakan bahwa investor harus mengurangi kepemilikan obligasi, mengalokasikan hingga 15% aset ke emas, dan menanamkan "sejumlah kecil" dana ke Bitcoin, untuk melindungi diri dari risiko krisis utang AS.
Meskipun arus masuk dana kuat, tidak semua analis yakin akan kelanggengan logika ini.
Hardika Singh, Strategis Ekonomi Fundstrat, berpendapat bahwa momentum perdagangan depresiasi sedang melemah, dan saham mungkin merupakan alat lindung nilai yang lebih andal dibandingkan emas atau Bitcoin. Dalam laporannya dia menulis: "Pelebaran defisit memang masalah, tetapi 'tidak ada solusinya' itu sendiri, secara ironis, menjadi solusinya—investor pada akhirnya harus menerima kenyataan itu. Dalam skenario seperti itu, emas dan Bitcoin masih sangat mungkin terus naik, hanya saja saya tidak yakin pendorongnya semata-mata berasal dari logika depresiasi."





