Study discovers 40% of web3 gaming accounts are bots using on-chain data

cryptoslateDipublikasikan tanggal 2022-08-31Terakhir diperbarui pada 2022-08-31

Abstrak

Levan Kvirkvelia, the founder of Jigger, an anti-bot protection software, has released a report asserting that 40% of the player base of web3 games are bots.

Levan Kvirkvelia, the founder of Jigger, an anti-bot protection software, has released a report asserting that 40% of the player base of web3 games are bots. The study found evidence of 20,000 bots across over 60 web3 games.

Louis Regis, founder and CEO of Xborg, exclusively confirmed to CrytoSlate that “many games artificially boost their player bases with bots and multiple accounts in order to increase their valuations.”

Bots are a problem across most games that contain a method for accounts to acquire value. Outside of web3, people have bought and sold game accounts containing rare items, skins, or high competitive ratings. Investigating the source of the bots in web2 can be highly challenging as data is diverted through VPNs to mask the identity of the bad actors.

However, Kvirkvelia’s study utilizes the transparency of the blockchain to link wallets and create a probabilistic matrix to establish the most likely bot candidates. A screenshot from Kvirkvelia’s company Jigger presents a visualization of the interconnected accounts, shown below.

The report further listed several web3 projects with their respective bot percentage. Some projects had over 80% bots, with even DeFi projects being targeted through the exploitation of referral schemes.

Jigger has also released a gallery of all the results on its website. Users can request a web3 token to be added to the analytics through a form on the page.

CEO of Polkastarter Gaming, Omar Ghanem, told CryptoSlate that he was unsurprised to read the findings in the report.

“This comes as no surprise; the truth is, the data we have in the space shows almost 2M wallets have interacted with gaming dApps – which is far from a good indication of REAL active players.”

Ghanem cited the Sybil problem with the current state of web3 gaming, explaining that “one person can set up multiple wallets and play on multiple accounts, which this research has further proven.”

On a further point, Ghanem blamed the earning mechanics of web3 games for creating the bot issue.

“As long as we continue to have games that are essentially “click to earn” by nature, with token farming through task repetition at the core of their gameplay loop – bots will continue to exist.
This is why our focus at Polkastarter Gaming has been on supporting high quality, skill based & competitive games with no entry barriers”

Indeed, there is a move within the web3 industry to move away from play-to-earn and toward play & earn. Play & earn mechanics often do not require a player to own a crypto wallet to get started and start having fun. Xborg and Polkastarter gaming are two of the leading companies in this space, focusing almost exclusively on gameplay.

The study is an advertisement for Jigger, but Kvirkvelia does not try to hide this. While the data may require closer scrutiny to rule out confirmation bias, the technology is undoubtedly impressive. The ability to track, trace, analyze, and visualize blockchain data to reveal a hidden picture of a dApps’ user base is a powerful tool in the battle against fraud and manipulation.

Bacaan Terkait

The Impossible Triad Is Fundamentally a Pseudo-Problem

**Judul: Segitiga Mustahil Sebenarnya Masalah Palsu** Industri crypto telah membangun sistem kriptografi paling kuat, tetapi ironisnya gagal melindungi privasi keuangan pengguna. Setiap transaksi dan kepemilikan terpapar secara publik. Blokchain pada dasarnya adalah komputer bersama yang lambat dan mahal, yang nilainya terletak pada akses tanpa izin dan konsensus terdesentralisasi. Selama satu dekade, industri terobsesi dengan "trilema" skalabilitas, keamanan, dan desentralisasi. Namun, kendala sebenarnya yang menghalangi masuknya modal triliunan dolar justru adalah **legalitas** dan **privasi**. 1. **Legalitas:** Sifat tanpa izin menciptakan ketidakpastian hukum. Namun, perkembangan regulasi seperti Undang-Undang GENIUS di AS mulai memberikan kejelasan kerangka hukum. 2. **Privasi:** Transparansi rantai publik bukanlah fitur, melainkan **pajak**. Setiap posisi dan transaksi yang terbuka mengundang eksploitasi seperti MEV (Miner Extractable Value), yang telah menyedot miliaran dolar dari pengguna biasa. Modal institusional besar tidak akan pernah menempatkan neracanya di tempat yang bisa dibaca pesaing secara real-time. Solusinya bukan transparansi penuh atau penyembunyian total. Kriptografi modern memungkinkan **privasi yang patuh (compliant privacy)**. Kita dapat membuktikan suatu pernyataan (misalnya, kecukupan cadangan, kepatuhan KYC, transaksi bersih) tanpa membongkar data dasarnya. Audit dan kepatuhan tetap terjaga, tetapi kebocoran informasi dan "pajak transparansi" dihilangkan. Dengan menutup dua cacat ini—melalui kemajuan regulasi dan adopsi privasi yang dapat dibuktikan—blokchain akan mengalami peningkatan murni. Ia akan berubah dari "spreadsheet Google yang mahal dan terbuka" menjadi mesin bersama yang dapat dipercaya yang akhirnya dapat menjaga rahasia. Inilah jembatan yang akan membawa sistem keuangan bernilai triliunan dolar ke dalam dunia yang sebenarnya dirancang untuknya sejak awal.

marsbit3j yang lalu

The Impossible Triad Is Fundamentally a Pseudo-Problem

marsbit3j yang lalu

Chip Optik, Perluasan Kapasitas Produksi Secara Kolektif

Kebutuhan chip optik sedang melonjak, memicu gelombang ekspansi kapasitas global di seluruh rantai pasokan. Di AS, Coherent memperluas pabrik 6 inci InP di Texas dengan pendanaan pemerintah, didukung investasi strategis dari Nvidia. Nokia menambah kapasitas pengujian dan pengemasan chip fotonik. Di Jepang, JX Advanced Metals berinvestasi besar untuk meningkatkan produksi substrat InP hingga 7-10 kali lipat. Di Eropa, IQE dan Tower Semiconductor menyepakati kesepakatan pasokan wafer epitaksial InP jangka panjang, menandakan konvergensi antara platform silicon photonics dan material III-V. Di Cina, perusahaan seperti Suzhou Ray Technology (Soluxe) dan San'an Optoelectronics secara agresif memperluas produksi chip optik dan bahan baku seperti InP. Ekspansi ini didorong oleh permintaan bandwidth yang meledak dari pusat data AI, terlepas dari jalur arsitektur masa depan seperti CPO (Co-Packaged Optics). Laporan Morgan Stanley menekankan bahwa kebutuhan konten optik akan terus tumbuh, baik dengan modul pluggable tradisional, NPO, CPO, atau arsitektur hybrid. Berbagai rute sumber cahaya seperti SiPh + Laser CW, VCSEL, dan MicroLED diperkirakan akan hidup berdampingan untuk aplikasi jarak berbeda dalam pusat data. Pada dasarnya, ini adalah perlombaan kapasitas global di mana AS membangun kembali manufaktur domestik, Jepang menguasai bahan baku, Eropa mendorong integrasi heterogen, dan Cina dengan cepat mengembangkan rantai pasokan terintegrasi secara vertikal. Perlombaan senjata di era fotonik telah memasuki tahap intensif.

marsbit5j yang lalu

Chip Optik, Perluasan Kapasitas Produksi Secara Kolektif

marsbit5j yang lalu

1996 atau 1999? Ujian Pertama Wash adalah 'Bagaimana Melihat AI'

Artikel ini membahas dilema utama yang dihadapi ketua Federal Reserve terbaru, Christopher Warsh, dalam menanggapi ledakan AI. Inti persoalannya adalah apakah kemajuan AI saat ini mirip dengan situasi 1996 — di mana Alan Greenspan membiarkan ekonomi tumbuh tanpa menaikkan suku bunga karena percaya pada pertumbuhan produktivitas — atau lebih mirip 1999, ketika Greenspan akhirnya menaikkan suku bunga secara agresif untuk mencegah overheating ekonomi. Warsh cenderung pada pendekatan 1996, berargumen bahwa manfaat produktivitas AI membutuhkan waktu untuk terlihat dalam data resmi, dan menaikkan suku bunga terlalu dini justru dapat meredam pertumbuhan yang sebenarnya membantu menekan inflasi. Namun, konteks makroekonominya berbeda: tekanan tarif, defisit fiskal yang membesar, dan memudarnya manfaat globalisasi membuat risiko inflasi lebih tinggi daripada era 1990-an. Di sisi lain, kritikus seperti Austan Goolsbee dari Bank Sentral Chicago berpendapat bahwa ledakan AI yang sudah diantisipasi banyak orang justru dapat memicu kenaikan pengeluaran di muka, mendorong overheating ekonomi dan mengharuskan kenaikan suku bunga yang lebih tajam nantinya. Perdebatan ini mencerminkan perpecahan internal di Fed. Paradoks terakhir bagi Warsh adalah keinginannya untuk menghapus "forward guidance" (panduan kebijakan ke depan), suatu praktik yang justru dibuat pada 1999. Jika ekonomi memburuk, ia harus memilih antara menggunakan alat yang ingin dihapusnya atau menghadapi gejolak pasar akibat ketidakpastian. Jawaban atas semua ini bergantung pada penilaiannya: apakah kita berada di tahun 1996 atau 1999?

marsbit8j yang lalu

1996 atau 1999? Ujian Pertama Wash adalah 'Bagaimana Melihat AI'

marsbit8j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片