Fed’s Moves To Fight Inflation Unfavorable For BTC Traders In Short-Term

newsbtcDipublikasikan tanggal 2022-08-31Terakhir diperbarui pada 2022-09-01

Abstrak

The raging inflation and the Federal Reserve's approach to fighting it have seemingly affected the crypto market negatively. The first sell-off trend started when the Feds announced an interest rate...

The raging inflation and the Federal Reserve’s approach to fighting it have seemingly affected the crypto market negatively. The first sell-off trend started when the Feds announced an interest rate hike in July 2022. Even though the Terra Luna crash worsened the situation, the market was already on the brink of collapse.
Many people panicked and didn’t want to pay high interest on their crypto gains. Since then, the Feds have come up with many unfavorable decisions in the inflation fight. Recently, Jerome Powel announced a stricter approach on August 26, causing another downtrend in the crypto market and beyond.
Many cryptocurrencies lost price gains after the meeting until August 30, when some positive changes occurred. These incidents have attracted the attention of top players in the crypto market, such as Brian Brooks, Bitfury CEO. 
Fed’s Approach Affects Short-Term BTC Traders More
In a recent interview with CNBC, the CEO of Bitfury, Brian Brooks, shared his thoughts on how the inflation fight affects BTC short-term traders. He pointed mainly at the interest rate hikes since the fight started. The Feds started the aggressive approach to digital assets in early 2022. The interest rate hike affected borrowing as the funding mechanism became costlier.  
The rate increase started gradually from 0.25% in March 2022 and continued climbing until it reached 0.75% in July. The higher rates affect short-term traders negatively, as they must pay high rates on their borrowed capital. According to Brooks, many traders now believe that the Feds will continue being hawkish in this fight, given their approach and current decisions. 
Besides the Federal Reserve, Brooks also showed disappointment over SEC actions against the crypto market. The CEO believes that the regulatory body should inform crypto participants about rules to guide their actions. 
The CEO believes that the practice of suing people after they’ve executed their plans is a very wrong approach. He, therefore, recommended that regulators and congress disclose what’s allowed and what’s not to participants early. 

BTCUSD

Bitcoin price currently trades below $20,000 mark. | Source: BTCUSD price chart from TradingView.com The Crypto Market And Inflation Fight?
The continued interest rate hike caused a lot of damage to the crypto market. The first response was the dumping of crypto holdings, leading to a price crash. Then after Terra collapsed, a long period of the bearish trend followed, tagged “Crypto Winter.”
As a result of these activities, the overall crypto market cap slumped from $3 trillion to $1 trillion. On August 29, the market cap lost $50 billion and fell below $1 trillion. Thankfully, crypto assets recovered slightly on August 30, pushing the figure back to $1 trillion. 
Cryptos such as Bitcoin and many altcoins have lost massively. Tracing BTC price from November 2021, the coin has lost 65% from its all-time high of $69K. Currently, the market is celebrating BTC at $20K since it dipped below that level on August 29. 
Analysts have predicted difficult months for BTC and ETH, following historical trends and movements on the chart. But many are hoping that the current positive actions from August 30 continue.

Bacaan Terkait

The Impossible Triad Is Fundamentally a Pseudo-Problem

**Judul: Segitiga Mustahil Sebenarnya Masalah Palsu** Industri crypto telah membangun sistem kriptografi paling kuat, tetapi ironisnya gagal melindungi privasi keuangan pengguna. Setiap transaksi dan kepemilikan terpapar secara publik. Blokchain pada dasarnya adalah komputer bersama yang lambat dan mahal, yang nilainya terletak pada akses tanpa izin dan konsensus terdesentralisasi. Selama satu dekade, industri terobsesi dengan "trilema" skalabilitas, keamanan, dan desentralisasi. Namun, kendala sebenarnya yang menghalangi masuknya modal triliunan dolar justru adalah **legalitas** dan **privasi**. 1. **Legalitas:** Sifat tanpa izin menciptakan ketidakpastian hukum. Namun, perkembangan regulasi seperti Undang-Undang GENIUS di AS mulai memberikan kejelasan kerangka hukum. 2. **Privasi:** Transparansi rantai publik bukanlah fitur, melainkan **pajak**. Setiap posisi dan transaksi yang terbuka mengundang eksploitasi seperti MEV (Miner Extractable Value), yang telah menyedot miliaran dolar dari pengguna biasa. Modal institusional besar tidak akan pernah menempatkan neracanya di tempat yang bisa dibaca pesaing secara real-time. Solusinya bukan transparansi penuh atau penyembunyian total. Kriptografi modern memungkinkan **privasi yang patuh (compliant privacy)**. Kita dapat membuktikan suatu pernyataan (misalnya, kecukupan cadangan, kepatuhan KYC, transaksi bersih) tanpa membongkar data dasarnya. Audit dan kepatuhan tetap terjaga, tetapi kebocoran informasi dan "pajak transparansi" dihilangkan. Dengan menutup dua cacat ini—melalui kemajuan regulasi dan adopsi privasi yang dapat dibuktikan—blokchain akan mengalami peningkatan murni. Ia akan berubah dari "spreadsheet Google yang mahal dan terbuka" menjadi mesin bersama yang dapat dipercaya yang akhirnya dapat menjaga rahasia. Inilah jembatan yang akan membawa sistem keuangan bernilai triliunan dolar ke dalam dunia yang sebenarnya dirancang untuknya sejak awal.

marsbit2j yang lalu

The Impossible Triad Is Fundamentally a Pseudo-Problem

marsbit2j yang lalu

Chip Optik, Perluasan Kapasitas Produksi Secara Kolektif

Kebutuhan chip optik sedang melonjak, memicu gelombang ekspansi kapasitas global di seluruh rantai pasokan. Di AS, Coherent memperluas pabrik 6 inci InP di Texas dengan pendanaan pemerintah, didukung investasi strategis dari Nvidia. Nokia menambah kapasitas pengujian dan pengemasan chip fotonik. Di Jepang, JX Advanced Metals berinvestasi besar untuk meningkatkan produksi substrat InP hingga 7-10 kali lipat. Di Eropa, IQE dan Tower Semiconductor menyepakati kesepakatan pasokan wafer epitaksial InP jangka panjang, menandakan konvergensi antara platform silicon photonics dan material III-V. Di Cina, perusahaan seperti Suzhou Ray Technology (Soluxe) dan San'an Optoelectronics secara agresif memperluas produksi chip optik dan bahan baku seperti InP. Ekspansi ini didorong oleh permintaan bandwidth yang meledak dari pusat data AI, terlepas dari jalur arsitektur masa depan seperti CPO (Co-Packaged Optics). Laporan Morgan Stanley menekankan bahwa kebutuhan konten optik akan terus tumbuh, baik dengan modul pluggable tradisional, NPO, CPO, atau arsitektur hybrid. Berbagai rute sumber cahaya seperti SiPh + Laser CW, VCSEL, dan MicroLED diperkirakan akan hidup berdampingan untuk aplikasi jarak berbeda dalam pusat data. Pada dasarnya, ini adalah perlombaan kapasitas global di mana AS membangun kembali manufaktur domestik, Jepang menguasai bahan baku, Eropa mendorong integrasi heterogen, dan Cina dengan cepat mengembangkan rantai pasokan terintegrasi secara vertikal. Perlombaan senjata di era fotonik telah memasuki tahap intensif.

marsbit4j yang lalu

Chip Optik, Perluasan Kapasitas Produksi Secara Kolektif

marsbit4j yang lalu

1996 atau 1999? Ujian Pertama Wash adalah 'Bagaimana Melihat AI'

Artikel ini membahas dilema utama yang dihadapi ketua Federal Reserve terbaru, Christopher Warsh, dalam menanggapi ledakan AI. Inti persoalannya adalah apakah kemajuan AI saat ini mirip dengan situasi 1996 — di mana Alan Greenspan membiarkan ekonomi tumbuh tanpa menaikkan suku bunga karena percaya pada pertumbuhan produktivitas — atau lebih mirip 1999, ketika Greenspan akhirnya menaikkan suku bunga secara agresif untuk mencegah overheating ekonomi. Warsh cenderung pada pendekatan 1996, berargumen bahwa manfaat produktivitas AI membutuhkan waktu untuk terlihat dalam data resmi, dan menaikkan suku bunga terlalu dini justru dapat meredam pertumbuhan yang sebenarnya membantu menekan inflasi. Namun, konteks makroekonominya berbeda: tekanan tarif, defisit fiskal yang membesar, dan memudarnya manfaat globalisasi membuat risiko inflasi lebih tinggi daripada era 1990-an. Di sisi lain, kritikus seperti Austan Goolsbee dari Bank Sentral Chicago berpendapat bahwa ledakan AI yang sudah diantisipasi banyak orang justru dapat memicu kenaikan pengeluaran di muka, mendorong overheating ekonomi dan mengharuskan kenaikan suku bunga yang lebih tajam nantinya. Perdebatan ini mencerminkan perpecahan internal di Fed. Paradoks terakhir bagi Warsh adalah keinginannya untuk menghapus "forward guidance" (panduan kebijakan ke depan), suatu praktik yang justru dibuat pada 1999. Jika ekonomi memburuk, ia harus memilih antara menggunakan alat yang ingin dihapusnya atau menghadapi gejolak pasar akibat ketidakpastian. Jawaban atas semua ini bergantung pada penilaiannya: apakah kita berada di tahun 1996 atau 1999?

marsbit7j yang lalu

1996 atau 1999? Ujian Pertama Wash adalah 'Bagaimana Melihat AI'

marsbit7j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片