Mastercard and Polygon Roll Out Email-Like Wallet IDs for Easier Crypto Transfers

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-11-20Terakhir diperbarui pada 2025-11-20

Abstrak

Mastercard is taking a major step toward simplifying how everyday users interact with digital assets by leveraging the Ethereum and...

Trusted Editorial content, reviewed by leading industry experts and seasoned editors. Ad Disclosure

Mastercard is taking a major step toward simplifying how everyday users interact with digital assets by leveraging the Ethereum and Polygon network.

Related Reading: Hoskinson Vs. Cardano Foundation: From Berlin Parties To ‘Useful Idiots’

Through a new collaboration with Polygon Labs and payments infrastructure firm Mercuryo, the global payments giant is rolling out email-style wallet aliases designed to make crypto transfers feel as intuitive as sending a message online.

The upgrade expands Mastercard’s Crypto Credential program to self-custody wallets, replacing long, technical wallet addresses with human-readable IDs. For millions of users intimidated by complex hexadecimal strings, this shift could mark a turning point in mainstream crypto adoption.

Ethereum ETH Polygon Mastercard

ETH's price trends to the downside on the daily chart. Source: ETHUSD on Tradingview

A New Identity Layer for Self-Custody Wallets

Under the new system, users can link wallets such as MetaMask to a verified alias issued through Mercuryo. After completing standard KYC checks, the user receives a simple username, similar to an email handle, that directs crypto to their self-custody wallet.

Polygon powers the underlying infrastructure, offering low-cost transactions and rapid settlement. Wallets can also mint a non-transferable “soulbound” credential on Polygon, publicly confirming that they belong to a verified user.

Mastercard states that this structure supports regulatory compliance, including Travel Rule requirements, without requiring users to relinquish control of their private keys.

Early access focuses on receiving funds through aliases, with outbound sending expected later. Mastercard notes that this framework is designed as a portable verification layer that can be moved across apps, wallets, and blockchains within the broader Crypto Credential network.

Why Mastercard Picked Polygon for the Rollout

Polygon’s selection as the first supported network reflects its growing reputation as a consumer-grade blockchain built for global-scale payments. Its upgrades, including the Rio and Heimdall v2 updates, have boosted throughput, improved finality, and reduced the risk of chain reorganizations.

With billions of dollars in stablecoin activity flowing through Polygon every month, analysts say the network offers the reliability and low operating costs that large institutions demand.

Polygon Labs CEO Marc Boiron called the initiative “the moment when self-custody becomes simple,” noting that alias-based transfers make blockchain interactions resemble familiar fintech experiences rather than technical workflows.

Shaping the Future of Identity-Driven Web3 Payments

For Mastercard, this rollout aligns with its broader strategy to bridge traditional finance and decentralized networks. The company has been expanding crypto services across 2024 and 2025, from debit card programs to on-chain settlement pilots.

By embedding identity, verification, and user-friendly interfaces into self-custody systems, Mastercard and Polygon are helping shape the next generation of digital payments.

Related Reading: What Happens To The Ethereum Price If It Replicates Bitcoin Supercycle?

If adopted widely, alias-based transfers could redefine how users engage with Web3, lowering barriers and accelerating mainstream participation in blockchain-based finance.

Cover image from ChatGPT, ETHUSD chart from Tradingview

Editorial Process for bitcoinist is centered on delivering thoroughly researched, accurate, and unbiased content. We uphold strict sourcing standards, and each page undergoes diligent review by our team of top technology experts and seasoned editors. This process ensures the integrity, relevance, and value of our content for our readers.

Bacaan Terkait

NASDAQ Berdagang 23 Jam Sehari, Bisnis Siapa yang Diambil?

NASDAQ berencana memperpanjang jam perdagangan menjadi 23 jam per hari mulai 6 Desember 2026, menutupi sesi malam yang sesuai dengan jam siang di Asia. Perubahan ini bertujuan merebut pesanan dari platform perdagangan malam (ATS), sistem internal broker, dan bursa lain, serta menjadikan pasar AS sebagai tempat utama untuk bereaksi terhadap peristiwa global kapan saja. Data menunjukkan perdagangan malam AS didominasi oleh ETF (seperti SPY, QQQ) dan segelintir saham blue-chip (Tesla, Nvidia, Alibaba), lebih berfokus pada manajemen risiko makro daripada analisis perusahaan individual. Dengan kata lain, NASDAQ ingin mengubah siang hari investor Asia menjadi jam perdagangan AS. Perpanjangan jam membawa tantangan: biaya operasi yang lebih tinggi untuk seluruh infrastruktur keuangan, likuiditas terbatas, dan spread yang lebih lebar di sesi malam. Harga mungkin muncul lebih cepat, tetapi tidak selalu lebih akurat. Inisiatif ini mencerminkan perebutan pesanan dan hak penentuan harga global. Pasar AS, melalui ETF-nya, semakin menjadi tempat penetapan harga awal untuk berbagai aset global, bahkan sebelum pasar domestiknya dibuka. Sementara bursa seperti Hong Kong perlu fokus pada peningkatan kualitas aset dan konektivitas, daripada sekadar meniru perpanjangan jam perdagangan. Intinya, yang diperebutkan bukan sekadar jam operasi yang lebih lama, melainkan siapa yang mendefinisikan harga global berikutnya.

marsbit3j yang lalu

NASDAQ Berdagang 23 Jam Sehari, Bisnis Siapa yang Diambil?

marsbit3j yang lalu

Michael Saylor Membandingkan Bitcoin dan Emas!

Pendiri MicroStrategy Michael Saylor menyatakan Bitcoin mengubah cara menyimpan dan mentransfer kekayaan dengan mengubah kelangkaan digital menjadi nilai ekonomi. Ia menjelaskan Bitcoin menggabungkan komputer, jaringan digital, dan kriptografi untuk menciptakan jaringan moneter digital pertama dalam sejarah. Saylor membandingkan Bitcoin dengan emas, menekankan bahwa meningkatkan pasokan Bitcoin lebih sulit, sementara mengintegrasikannya dengan perangkat lunak dan mentransfernya lebih mudah. Ia menyebut mekanisme proof-of-work menghubungkan Bitcoin dengan dunia fisik dengan mengonsumsi energi nyata untuk keamanan ledger, sehingga meningkatkan biaya untuk mengubah transaksi masa lalu. Menurutnya, istilah "energi moneter digital" lebih tepat daripada "emas digital". Bitcoin dideskripsikan bukan hanya sebagai perangkat lunak tetap, tetapi sistem yang dapat beradaptasi terdiri dari penambang, node, pengembang, modal, dan pengguna. Tujuan utamanya adalah menciptakan ledger yang aman dan andal untuk aset digital langka, dengan fungsi kompleks ditinggalkan ke aplikasi lapisan lebih tinggi. Dampak mendalam Bitcoin adalah menciptakan bentuk baru kedaulatan digital di mana individu dapat mengontrol kekuatan ekonomi mereka melalui kunci privat tanpa memerlukan izin. Kepemilikan diverifikasi secara matematis, bukan oleh institusi. Perusahaan, bank, dan aplikasi dapat membangun sistem ekonomi kompleks di atas Bitcoin. Saylor menyimpulkan bahwa kelangkaan fisik membuat emas menjadi uang, dan kelangkaan digital melakukan hal yang sama untuk Bitcoin. Bitcoin lebih dari sekadar alat pembayaran; itu adalah "energi moneter" di era digital. *Ini bukan rekomendasi investasi.

cryptonews.ru4j yang lalu

Michael Saylor Membandingkan Bitcoin dan Emas!

cryptonews.ru4j yang lalu

Trading

Spot
活动图片