Canada introduces stablecoin regulation framework in Federal budget: More inside

ambcryptoDipublikasikan tanggal 2025-11-05Terakhir diperbarui pada 2025-11-06

Key Takeaways

How will the framework be funded?

The Bank of Canada will allocate $10 million over two years starting in 2026, plus $5 million annually from fees collected from regulated issuers.

Why does Canada see a need for stablecoin regulation now?

Stablecoins now make up about 30% of all crypto transactions, with global volumes surpassing $4 trillion, highlighting the need for stronger oversight.


Canada is taking a decisive step toward regulating digital finance.

As part of its 2025 Federal budget, the Canadian Department of Finance has proposed the country’s first national framework for fiat-backed stablecoins.

The plan, unveiled this week, would require all stablecoin issuers to hold sufficient asset reserves and establish clear redemption policies to protect users.

Canada’s Federal budget

Alongside financial safeguards, the proposal also introduces enhanced privacy and national security measures for digital transactions.

The budget noted, 

“The legislation will also include national security safeguards to support the integrity of the framework so that fiat-backed stablecoins are safe and secure for consumers and businesses to use.”

To support implementation, the Bank of Canada will allocate $10 million over two fiscal years starting in 2026, with an additional $5 million in annual operational costs funded by regulated issuers.

Stablecoins: The crypto showstopper

Needless to say, stablecoins have quickly become central to the global crypto economy. They now account for nearly 30% of all transactions and over $4 trillion in trading volume this year.

With over 90% pegged to the U.S. dollar, led by Tether [USDT] and Circle [USDC], Canada’s proposed framework arrives amid rising calls for stronger oversight to balance innovation with financial stability.

Additionally, Visa on-chain analytics data indicate a total transaction volume of nearly $$49.1 trillion, while Standard Chartered predicts that up to $1 trillion could shift from emerging market deposits into U.S. stablecoins by 2028. 

However, while the budget mentions “national security safeguards,” it provides few specifics on how they’ll be implemented.

Seeing this, experts are warning that even top stablecoins remain vulnerable to systemic shocks.

For instance, Chainalysis pointed to the TerraUSD collapse and major DeFi exploits in 2023 as proof of weak collateralization and smart contract security.

These events rippled across both DeFi and traditional markets, showing how fast instability can spread.

Therefore, as more banks adopt stablecoins, Chainalysis cautions that a major depegging or hack could trigger wider financial losses.

Was the GENIUS Act a catalyst or a blocker?

Canada’s proposed stablecoin framework also mirrors the U.S. GENIUS Act passed in mid-2025.

The GENIUS Act, backed by President Donald Trump, defined “payment stablecoins” and distinguished them from securities.

With the EU’s MiCA, Japan, and South Korea advancing similar rules, Canada joins a growing push for clarity.

But, while Canada moves toward embracing stablecoins under a regulated framework, not everyone shares the optimism.

The U.S. Bank Policy Institute (BPI) has recently renewed warnings about the potential risks of stablecoins and DeFi, citing recent market shocks like the $20 billion USDe depegging event as proof of their systemic threat.

BPI argues that leveraged yield farming and uninsured deposits could amplify liquidation risks, though critics claim banks are more concerned about losing deposits to higher-yield crypto products.

However, despite the skepticism, the stablecoin market continues to expand rapidly suggesting that, regulation or not, global adoption is already well underway.

Share

Bacaan Terkait

Paradoks Otomatisasi: Semakin Kuat AI, Semakin Sibuk Manusia

Inti dari artikel ini adalah paradoks otomatisasi: semakin canggih AI, semakin banyak pekerjaan yang perlu dilakukan manusia. Penulis dari Every, yang telah mengintegrasikan berbagai AI Agent ke dalam alur kerja (seperti coding, penulisan, dan dukungan pelanggan), mengamati bahwa alih-alih digantikan, peran manusia justru berubah. AI membuat kemampuan masa lalu (seperti menulis kode atau konten dasar) menjadi murah dan tersedia luas, yang menyebabkan banjir output yang seragam dan generik. Akibatnya, keahlian manusia justru menjadi lebih kritis. Peran beralih dari pelaksana menjadi perancang kerangka kerja, pengawas kualitas, penentu arah strategis, dan pembuat keputusan yang memahami konteks spesifik. Contohnya, ketika semua orang bisa membuat kode, insinyur justru lebih banyak mereview, merancang sistem, dan memutuskan kode mana yang layak digabungkan. Tes benchmark yang menunjukkan peningkatan kemampuan AI sebenarnya mengukur kinerja dalam "kerangka" yang ditetapkan manusia. Begitu AI menguasai satu kerangka, manusia akan bergerak ke kerangka masalah yang lebih kompleks, sehingga tetap selangkah di depan. Artikel ini menyimpulkan bahwa meskipun AI semakin kuat, ia tetap alat yang menjalankan tujuan manusia. Nilai kerja manusia tidak hilang, tetapi bergeser ke area yang lebih bernuansa: menentukan apa yang layak dikerjakan, mengapa, dan seberapa baik hasilnya. Masa depan kerja pengetahuan adalah manusia sebagai perancang kerangka, pemelihara sistem, penilai kualitas, dan pemberi makna.

marsbit1j yang lalu

Paradoks Otomatisasi: Semakin Kuat AI, Semakin Sibuk Manusia

marsbit1j yang lalu

a16z: 7 Grafik untuk Memahami Bagaimana Tokenisasi Mengubah Hakikat Aset

**Ringkasan Artikel: 7 Gambar Memahami Bagaimana Tokenisasi Mengubah Sifat Aset** Tokenisasi aset (aset dunia nyata/RWA) sedang mengubah bentuk, cara pergerakan, dan pembangunan sistem keuangan. Pasar aset tokenisasi telah melonjak dari di bawah $3 miliar menjadi sekitar $34 miliar (tidak termasuk stablecoin) dalam kurang dari dua tahun, didorong oleh kerangka peraturan yang lebih jelas, infrastruktur on-chain yang matang, dan adopsi oleh lembaga keuangan. **Pendorong Utama:** Perbendaharaan AS (US Treasury) menjadi mesin pertumbuhan terbesar. Aset tokenisasi ini menawarkan kepemilikan aset penghasil bunga dalam bentuk digital yang efisien. **Lanskap Pasar:** 1. **Dominasi dan Pertumbuhan:** Obligasi dan komoditas (terutama emas) mendominasi pasar. Namun, aset seperti kredit swasta dan keuangan khusus tumbuh sangat cepat. 2. **Distribusi Blockchain:** Ethereum memimpin, tetapi aset tersebar di banyak blockchain seperti BNB Chain, Solana, dan Stellar, tergantung pada biaya, likuiditas, dan kemitraan. 3. **Kurangnya "Komposabilitas":** Meski besar, sebagian besar aset tokenisasi (seperti obligasi dan emas) hanya digunakan untuk penyimpanan on-chain. Hanya 5% obligasi token yang digunakan di protokol DeFi. Sebaliknya, aset seperti reasuransi memiliki utilitas on-chain yang tinggi. Ini menunjukkan banyak token saat ini hanyalah catatan digital, bukan aset "natif" yang dapat diprogram dan digabungkan. **Masa Depan:** Prediksi untuk tahun 2030-an berkisar dari $2 triliun hingga lebih dari $30 triliun, menunjukkan ruang pertumbuhan yang sangat besar. Namun, saat ini, aset tokenisasi masih sangat kecil dibandingkan pasar global (mis., obligasi token hanya 0,01% dari pasar obligasi global). Tantangan selanjutnya adalah men-tokenisasi bagian sistem keuangan yang lebih kompleks dan mengintegrasikannya secara mendalam ke dalam infrastruktur keuangan yang dapat dikomposisi.

链捕手2j yang lalu

a16z: 7 Grafik untuk Memahami Bagaimana Tokenisasi Mengubah Hakikat Aset

链捕手2j yang lalu

a16z: 7 Gambar untuk Memahami Bagaimana Tokenisasi Mengubah Hakikat Aset

Tokenisasi aset (Aset Tokenisasi), atau yang sering disebut "Aset Dunia Nyata" (RWA), mengubah bentuk aset, cara pergerakannya, dan cara sistem keuangan dibangun. Pasar aset tokenisasi telah berkembang pesat, mencapai sekitar $34 miliar (tidak termasuk stablecoin) dari kurang dari $3 miliar dalam dua tahun terakhir. **Pendorong Utama:** Surat berharga negara AS (US Treasury) menjadi mesin pertumbuhan terbesar, menawarkan akses yang lebih efisien dan fleksibel ke aset penghasil bunga bagi investor dan lembaga keuangan. **Peta Pasar:** * **Dominasi Awal:** Obligasi dan komoditas (terutama emas) mendominasi pasar. * **Pertumbuhan Cepat:** Aset kredit yang didukung aset (seperti pinjaman ekuitas rumah) menunjukkan pertumbuhan tercepat. * **Fragmentasi:** Pasar tersebar di berbagai blockchain seperti Ethereum, BNB Chain, Solana, dan lainnya, tergantung pada kebutuhan biaya, likuiditas, dan kepatuhan. **Tantangan Saat Ini:** Meski skalanya tumbuh, sebagian besar aset tokenisasi (seperti obligasi dan emas) **belum sepenuhnya dapat dikombinasikan (composable)** dalam ekosistem DeFi. Mereka sering kali hanya berfungsi sebagai catatan digital di blockchain tanpa memanfaatkan potensi pemrograman dan interoperabilitas penuh. Hanya sebagian kecil aset (seperti reasuransi dan kredit privat) yang dirancang secara native untuk digunakan dalam protokol terdesentralisasi. **Proyeksi Masa Depan:** Meski masih kecil dibandingkan pasar keuangan global (misalnya, obligasi tokenisasi hanya 0,01% dari pasar obligasi global), perkiraan jangka panjang optimis. Lembaga seperti BCG dan Standard Chartered memproyeksikan pasar aset tokenisasi dapat mencapai triliunan dolar pada tahun 2030-an, menunjukkan ruang pertumbuhan yang sangat besar. Kesimpulannya, industri masih dalam tahap awal. Fase selanjutnya akan berfokus pada men-tokenisasi aset yang lebih kompleks dan mengintegrasikannya secara lebih dalam ke dalam infrastruktur keuangan yang dapat diprogram dan dapat dikombinasikan secara native di internet.

Odaily星球日报2j yang lalu

a16z: 7 Gambar untuk Memahami Bagaimana Tokenisasi Mengubah Hakikat Aset

Odaily星球日报2j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片