Gemini Bets on Prediction Markets to Revive Post-IPO Momentum

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-11-05Terakhir diperbarui pada 2025-11-05

Gemini Space Station Inc., the parent company of the Gemini cryptocurrency exchange, is moving toward launching a federally regulated prediction market as it looks to diversify revenue and offset mounting financial challenges.

The firm had filed an application with the U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) in May seeking approval to operate a new derivatives exchange called “Gemini Titan.” 

According to the public filings on the CFTC’s website, Gemini Titan would function as a Designated Contract Market (DCM) offering federally regulated event contracts.

Bloomberg reported Tuesday that Gemini has been in active discussions to launch products tied to the registration “as soon as possible.” The company reportedly plans to offer services directly, rather than relying on third-party partnerships.

If approved, Gemini Titan would compete directly with Kalshi, the only active CFTC-regulated event market, and Polymarket, which is preparing to reopen to U.S. users.

Prediction markets hit record highs

The filing comes amid booming interest in event-based trading. Prediction markets have seen a resurgence in 2025, with weekly trading volume reaching an all-time high of $2 billion in the final week of October.

Gemini’s move is not entirely new. In August 2024, the company, founded by Tyler and Cameron Winklevoss, submitted a comment letter to the CFTC regarding its proposed rule on event contracts.

Gemini argued that the rule “exceeded the CFTC’s statutory authority” and warned that its blanket prohibition of “event contracts involving gaming” could “hamper prediction markets.”

Should Gemini proceed, it must operate under the Commodity Exchange Act, which requires a Designated Contract Market to comply with 23 core principles, including rules on market surveillance, financial integrity, governance, and system safeguards to ensure fair and orderly trading.

Facing headwinds after IPO

Gemini’s foray into prediction markets comes as the company battles shrinking revenue, widening losses, and falling retail engagement following its September initial public offering (IPO).

Gemini’s shares have plunged around 49% since listing, closing at $16.29 on Tuesday, per Google Finance data. The stock opened at $32 on its first day of trading after pricing at $28 a share.

The firm reported a $282 million net loss in the first half of 2025, nearly double its $158 million loss for all of 2024. Revenue dropped to $68.6 million in H1 2025 from $74.3 million a year earlier, according to an August U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) filing.

Currently, over 80% of Gemini’s trading volume comes from institutional clients, reducing its exposure to retail users—a market where Coinbase and Robinhood continue to dominate.

Gemini’s strategic push

The proposed derivatives platform represents Gemini’s broader effort to stay competitive in a maturing crypto industry. Gemini has applied for regulatory approval to run its own designated contract market, which would eventually allow it to list prediction-based derivatives contracts.

Getting the green light from the CFTC isn’t a quick process. Approvals like this can take months or even years, and the recent U.S. government shutdown could delay things even more.

While Gemini waits, other financial firms have taken a faster route—teaming up with prediction market platforms that already have the required licenses. For instance, Robinhood provides clients access to event contracts through Kalshi Inc., avoiding the lengthy approval process.

If approved, Gemini’s platform would join a growing field that includes Kalshi, Polymarket, and Trump Media and Technology Group’s “Truth Predict”—a new venture in partnership with Crypto.com. Truth Predict will integrate with Truth Social, Donald Trump’s social media platform, and use Crypto.com Derivatives North America as its CFTC-registered clearinghouse. Initial testing is expected to begin soon.

Competition heats up

Traditional financial giants are also eyeing the fast-growing prediction market sector. CME Group Inc. and Intercontinental Exchange Inc. (ICE) have both explored launching similar products.

Gemini’s crypto rival, Coinbase Global Inc., revealed during recent earnings calls that it, too, plans to branch into event contracts as part of its mission to become an “Everything Exchange.”

Before its IPO, Gemini disclosed plans to launch event contracts covering sports, financial, political, and economic forecasts.

A Needham & Co. analyst shared that prediction markets are an “ideal opportunity” for Gemini to expand its range of products and open up new sources of revenue, especially as its main trading business continues to struggle with falling interest from retail investors.

Regulatory hurdles persist

Even with the rising excitement around prediction markets, the industry still faces a lot of regulatory uncertainty in the United States.

The CFTC has allowed Kalshi to launch new event markets, but state gaming regulators—who usually handle sports betting have pushed back in court. The clash between federal and state authorities has created confusion over where prediction markets end and gambling begins.

The road ahead

Gemini’s move into event contracts highlights its effort to regain growth and move beyond its core crypto exchange business. The company raised $425 million in its September IPO—one of the strongest market debuts by a digital asset firm this year, but it now faces pressure to show that prediction markets can become a steady source of profit.

If the CFTC gives its approval, Gemini Titan would mark a big step into a federally regulated space that combines crypto innovation, derivatives trading, and real-world forecasting. Still, the approval process could take time, and competition in this area is heating up. Gemini’s challenge will be to build a lasting position in a fast-changing market that’s already under close regulatory watch.

Also Read: UBS Launches First Tokenized Fund via Chainlink DTA


Mobile Only ImageMobile Only Image

Bacaan Terkait

Menghindari Keruntuhan Terjun Bebas: Tinjauan Mendalam Pasar Pinjaman dan Futures Crypto Kuartal Kedua 2026

**Ringkasan Pasar Pinjaman & Futures Crypto Q2 2026: Penurunan Terkendali, Bukan Keruntuhan** Laporan ini menganalisis pasar pinjaman dan futures crypto pada kuartal kedua 2026. Berbeda dengan penurunan tajam ("crash") pada bear market 2022, periode deleveraging saat ini ditandai dengan penurunan bertahap dan terkendali di semua sektor pinjaman berbasis agunan crypto (CeFi, DeFi, dan stablecoin CDP). Total pinjaman turun 16.78% (USD 113.3B) menjadi USD 561.6B, turun 40.13% dari puncak Q3 2025. **Tren Utama Pinjaman:** * **CeFi:** Utang outstanding turun 9.62% menjadi USD 229.8B, didorong terutama oleh penurunan di Tether. Pangsa pasar CeFi kini melampaui DeFi. * **DeFi:** Utang outstanding turun lebih tajam, 27.61% menjadi USD 204.3B, melanjutkan tren penurunan selama tiga kuartal berturut-turut. * **Debt Perusahaan:** Utang untuk strategi treasury aset digital turun USD 15B menjadi USD 161B, terutama karena pembelian kembali utang oleh Strategy. Analisis mendetail pada protokol Aave V3 menunjukkan konsentrasi risiko yang tinggi pada strategi leverage loop menggunakan aset kolateral terkait ETH (seperti stETH, weETH), khususnya dalam mode "e-mode" di mana health factor rata-rata sangat tipis (1.06). **Pasar Futures:** * Total Open Interest (OI) futures turun moderat 3.08% menjadi USD 1032B pada akhir kuartal, tetapi rebound pada Juli. * OI Bitcoin turun 6.24% menjadi USD 450.4B, sedangkan OI Ethereum turun lebih dalam, 26.31% menjadi USD 219.9B. **Kesimpulan:** Pola deleveraging yang bertahap dan tidak dipicu oleh likuidasi paksa atau kegagalan pihak lawan menunjukkan pasar yang lebih sehat. Meski kontraksi berlanjut, ritme yang lebih terkendali ini mengurangi risiko keruntuhan berantai seperti pada siklus 2022. Data awal Q3 2026 menunjukkan bahwa penurunan mungkin mendekati level dasar.

marsbit5m yang lalu

Menghindari Keruntuhan Terjun Bebas: Tinjauan Mendalam Pasar Pinjaman dan Futures Crypto Kuartal Kedua 2026

marsbit5m yang lalu

Investor Teknologi Keras Berbondong-bondong Masuk ke Bisnis Peminjaman Uang

Investor teknologi keras beralih ke bisnis pinjaman jembatan (bridge loan) sebagai strategi baru. Fenomena ini muncul terutama di sektor-sektor panas seperti kecerdasan embodied dan chip AI, di mana pendanaan terkonsentrasi di segelintir perusahaan teratas. Alih-alih sekadar penyelamatan darurat, pinjaman jembatan kini digunakan sebagai "tiket masuk" untuk mengamankan hak investasi di putaran pendanaan berikutnya. Kunci strategi ini adalah klausa "konversi pinjaman menjadi saham" (debt-to-equity conversion). Investor meminjamkan dana dengan suku bunga rendah (sekitar 3% per tahun) dengan hak untuk mengonversi sebagian pinjaman menjadi ekuitas pada putaran pendanaan berikutnya, seringkali dengan harga diskon. Ini seperti opsi beli (call option) bagi investor: jika perusahaan naik nilainya, mereka mendapatkan saham murah; jika tidak, mereka tetap mendapatkan pengembalian pokok dan bunga. Peraturan membatasi pinjaman ini maksimal 20% dari total dana yang dikelola dan tenor satu tahun, membuat kuota ini jadi rebutan. Bahkan bank kesulitan bersaing, karena peraturan membatasi kepemilikan saham mereka hanya hingga 2%. Trend ini mencerminkan perilaku hedging (lindung nilai) di pasar modal awal. Investor takut kehilangan peluang di perusahaan potensial, tetapi juga lelah dengan gelembung valuasi tinggi dan exit yang tertunda. Bagi startup, dana cepat ini menggiurkan, namun sering kali disertai klausa eksklusif dan persyaratan ketat. Pada akhirnya, demam pinjaman jembatan ini adalah bentuk kehati-hatian kolektif di tengah persaingan pendanaan yang semakin ketat.

marsbit7m yang lalu

Investor Teknologi Keras Berbondong-bondong Masuk ke Bisnis Peminjaman Uang

marsbit7m yang lalu

Pembiayaan Kripto Turun Separuh di Kuartal Pertama, Kenapa Pembayaran Stablecoin Masih Bisa Menarik Dana?

Pendanaan modal ventura kripto turun sekitar 50% pada kuartal pertama 2026, namun sektor pembayaran stablecoin tetap menarik investasi besar. Modal beralih dari perusahaan yang bergantung pada narasi token ke perusahaan dengan pendapatan nyata dan volume transaksi riil. Stablecoin yang dulu hanya alat perdagangan kini berkembang menjadi infrastruktur pembayaran. Perusahaan seperti Rain, RedotPay, dan OpenFX terus mendapatkan pendanaan besar. Mereka beroperasi di berbagai lapisan infrastruktur, mulai dari penerbitan kartu, dompet digital, likuiditas valas, hingga koneksi perbankan. Investor tertarik karena model pendapatan yang jelas (seperti biaya transaksi dan spread valas) dan solusi untuk masalah lama seperti inefisiensi pembayaran lintas batas. Namun, optimisme ini perlu disikapi dengan hati-hati. Volume transaksi on-chain stablecoin tidak sama dengan volume pembayaran untuk barang/jasa riil. Pendanaan juga masih terkonsentrasi di segelintir perusahaan terkemuka. Tantangan utama tetap ada pada aspek kepatuhan regulasi, on/off ramp mata uang fiat, hubungan dengan bank lokal, dan komoditisasi layanan. Ke depan, modal diperkirakan akan mengalir ke area seperti pembayaran B2B lintas batas, kartu berasosiasi stablecoin, konektor bank-stablecoin, serta lapisan orkestrasi pembayaran multi-chain dan multi-stablecoin. Intinya, VC tidak hanya bertaruh pada satu stablecoin, tetapi pada infrastruktur yang diperlukan untuk mengintegrasikan stablecoin ke dalam sistem keuangan dunia nyata.

marsbit41m yang lalu

Pembiayaan Kripto Turun Separuh di Kuartal Pertama, Kenapa Pembayaran Stablecoin Masih Bisa Menarik Dana?

marsbit41m yang lalu

Laporan Semester Bithumb: Kerugian Bersih Melebihi 76 Juta Dolar, Kemana Perginya Keuntungan?

**Bithumb Laporan Semester I 2026: Rugi Bersih Lebih dari $76 Juta, Ke Mana Larinya Keuntungan?** Laporan keuangan Bithumb untuk paruh pertama 2026 menunjukkan kerugian bersih 1086.91 miliar won (sekitar $76.44 juta). Namun, kerugian ini terutama didorong oleh faktor di luar operasi inti pertukaran. **Operasi Utama Masih Untung:** Bisnis pertukaran Bithumb tetap profitable, menghasilkan laba operasi 149.3 miliar won (sekitar $10.5 juta), meskipun turun 83.4% dari periode sama tahun sebelumnya. **Dua Penyebab Utama Kerugian Bersih:** 1. **Kerugian Aset Kripto:** Perusahaan mencatat kerugian bersih sekitar 685.5 miliar won ($48.21 juta) dari pelepasan dan penurunan nilai aset kripto yang dipegangnya. 2. **Penyisihan Hukum (Litigasi):** Penyisihan untuk risiko hukum meningkat 368.7 miliar won ($25.93 juta), terutama terkait denda dari otoritas pengawas Korea Selatan. Kedua faktor luar ini (total ~1054.2 miliar won / $74.14 juta) hampir menyamai total kerugian bersih. **Pendapatan Menyusut:** Pendapatan operasi turun 48.7% menjadi $119 juta, hampir seluruhnya dari fee transaksi yang terpengaruh penurunan pasar. Biaya pemasaran dipotong drastis (70%), namun biaya tetap seperti pembayaran dan gaji tidak turun signifikan. **Aset dan Dana Nasabah:** Total aset berkurang $5.84 miliar. Sebagian besar penurunan ini terkait dengan berkurangnya deposit won dari nasabah (turun $5.03 miliar) dan penyesuaian portofolio kas perusahaan. Nilai aset kripto yang di-custody untuk nasabah juga turun 32.7%, didorong terutama oleh penurunan harga aset kripto, bukan penarikan massal. **Kesimpulan:** Laporan ini menunjukkan sinyal kompleks: operasi inti masih menghasilkan laba, tetapi pendapatan menurun dan kerugian di luar operasi serta biaya regulasi membalikkan posisi menjadi rugi bersih. Pemulihan pendapatan transaksi dan pengelolaan risiko aset kripto serta regulasi akan menjadi kunci.

marsbit1j yang lalu

Laporan Semester Bithumb: Kerugian Bersih Melebihi 76 Juta Dolar, Kemana Perginya Keuntungan?

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片