$19B crypto liquidations: FUD or healthy reset? Assessing…

ambcryptoDipublikasikan tanggal 2025-10-10Terakhir diperbarui pada 2025-10-11

Key Takeaways

How bad were the crypto liquidations?

Massive. Nearly $19 billion wiped out in the largest crypto liquidation ever, with longs taking 90% of the hit. This triggered a sharp risk-off shift.

Are traders panicking?

Cautious, not blind. In fact, this could be a reality check on prior FOMO, possibly setting up a post-COVID-style rebound.


The market once again showed that “blind optimism” can cut both ways. Q4 kicked off with TOTAL crypto market cap hitting a record $4.27 trillion, pumping in almost $450 billion in week one.

At the same time, Open Interest (OI) reached a record $233 billion, with almost $40 billion added in October. In short, the market was bullishly pricing in the seasonal tailwind as a key catalyst for a strong Q4.

The federal shutdown only hyped this bet. Key macro data went under the radar, pushing blind optimism to a whole new level. But after the recent crypto bloodbath, is the seasonal tailwind starting to crack?

Biggest ever crypto bloodbath tops COVID-era losses

After the Trump-China trade-off, macro sentiment flipped fast.

What kicked off as just $8 billion in liquidations quickly snowballed into a massive exit wave. As fear began creeping in, traders started pricing in the tariff impact on an already shaky U.S. economy.

The fallout? Nearly $19 billion was wiped out in the largest crypto liquidation ever, beating even the COVID crash. Longs bore the brunt, taking almost 90% of the losses, with $16 billion+ squeezed.

Crypto liquidations

Source: Coinglass

In short, earlier “bullish optimism” backfired, worsening the crash.

The TOTAL market cap, for instance, posted its longest red candle, dipping 9.38% to $3.24 trillion. That’s a brutal $850 billion wipe, pushing the index back to early July levels. Overall, this move flagged a sharp risk-off shift.

The result? OI slid to $154 billion, shedding $80 billion in unwind. Even so, some traders stayed bullish, seeing it as just another “healthy” reset. Could this signal a shift from blind to “cautious optimism” in the market?

Crypto liquidations forced a reality check on FOMO

Even with the crypto liquidations, it’s too early to declare full-blown FUD.

Backing this, TOTAL market cap is already up 12% intraday to $3.7 trillion, pumping $420 billion back in. That’s a clear sign buyers are stepping in, keeping some seasonal tailwind alive despite the recent shakeout.

Meanwhile, the Fear & Greed Index dropped nearly 20 points to 54, sliding into the “fear” zone. Notably, this is a key divergence from the April FUD, when the index tanked into extreme fear territory.

fear and greed index

Source: CoinMarketCap

Simply put, the October catalyst hasn’t fully flipped yet.

This backs AMBCrypto’s view that the market is rotating cautiously, without diving headfirst into panic. If this trend holds, it acts as a “much-needed” reality check on the earlier FOMO surge.

With leverage down and weak hands shaken out, the setup could be ripe for a post-COVID-style rebound. In this light, the recent crypto liquidations feel more like a healthy deleverage rather than a full-blown sell-off.

Share

Bacaan Terkait

Pemerintah AS untuk Pertama Kali Melonggarkan Larangan Kontrak Berjangka Kripto (Perpetual), Apa Artinya bagi Pasar?

**Ringkasan: AS Buka Pasar untuk Kontrak Berjangka Kripto Tanpa Jatuh Tempo (Perpetual Futures)** Pada 29 Mei, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) mengeluarkan pedoman yang secara efektif membuka pasar untuk kontrak berjangka kripto tanpa jatuh tempo (perpetual futures) yang dapat diperdagangkan 24/7 untuk warga dan platform terdaftar di AS. Kebijakan ini menandai perubahan signifikan, karena sebelumnya produk derivatif kripto ini hampir tidak dapat diakses di bawah regulasi AS. Pedoman CFTC menekankan bahwa aset kripto, karena infrastruktur digital dan perdagangan globalnya yang terus-menerus, sangat cocok untuk perdagangan dan penyelesaian 24 jam. Langkah ini dipuji oleh banyak pelaku industri sebagai langkah maju untuk menjadikan AS sebagai pusat kripto, dengan potensi menarik likuiditas kembali ke pasar domestik. **Penerima Manfaat Langsung:** * **Kalshi:** Mendapat persetujuan untuk meluncurkan kontrak perpetual pertamanya (BTCPERP). * **Coinbase:** Menjadi Futures Commission Merchant (FCM) pertama yang diatur CFTC, memungkinkan klien AS mengakses pasar derivatif global. * **CME:** Platform Globex-nya kini menawarkan perdagangan 24/7 untuk futures dan opsi Bitcoin, menutup "celah CME" di akhir pekan. CFTC menyatakan pendekatan ini khusus untuk kripto, mencatat bahwa komoditas tradisional seperti produk pertanian mungkin tidak cocok untuk model 24/7. Semua platform yang ingin menawarkan perdagangan 24/7 harus berkoordinasi dengan CFTC. **Tanggapan Industri:** Pimpinan perusahaan seperti Michael Saylor (MicroStrategy), Brian Armstrong (Coinbase), dan Tarek Mansour (Kalshi) menyambut baik keputusan ini sebagai pengembangan positif untuk pasar modal Bitcoin dan akses bagi investor AS. **Kritik:** Organisasi konsumen Better Markets mengkritik keputusan CFTC, menyatakan bahwa regulator mengabaikan perlindungan investor dengan tidak meminta pengungkapan risiko yang lebih jelas untuk produk kompleks ini, dan menuduh adanya hubungan yang terlalu dekat dengan industri. **Dampak ke Depan:** Pasar derivatif kripto bernilai puluhan triliun dolar kini terbuka untuk pengguna AS. Pertukaran seperti Kraken juga telah mengumumkan rencana untuk meluncurkan produk perpetual futures yang diatur di AS dalam waktu dekat, menandakan potensi periode pertumbuhan yang signifikan untuk perdagangan derivatif kripto di Amerika Serikat.

Odaily星球日报1j yang lalu

Pemerintah AS untuk Pertama Kali Melonggarkan Larangan Kontrak Berjangka Kripto (Perpetual), Apa Artinya bagi Pasar?

Odaily星球日报1j yang lalu

Bagaimana Undang-Undang CLARITY Mengubah Ekonomi Pendapatan Stablecoin

Artikel ini membahas dampak UU CLARITY (2026) terhadap ekonomi pendapatan stablecoin. Dibandingkan UU GENIUS (2025) yang hanya melarang penerbit membayar bunga, Pasal 404 UU CLARITY memperluas larangan ke semua penyedia layanan aset digital dan memperkenalkan pemisahan hukum antara "imbalan pasif" (dilarang) dan "imbalan berbasis aktivitas" (diizinkan). Perubahan ini menggeser paradigma dari "hold-to-earn" menjadi "use-to-earn". Sebagai antisipasi, raksasa manajemen aset seperti Morgan Stanley, BlackRock, dan JPMorgan meluncurkan reksa dana pasar uang ter-tokenisasi (MSNXX, BSTBL/BRSRV, JLTXX) antara 16 April - 12 Mei 2026. Produk ini dirancang sebagai infrastruktur pendapatan yang patut bagi cadangan stablecoin dalam paradigma baru. Artikel menganalisis tiga jalur potensial untuk meneruskan pendapatan kepada pengguna: 1) Imbalan berbasis aktivitas di bursa, 2) Pendapatan melalui protokol DeFi non-kustodial, dan 3) Melalui lapisan aset cadangan (reksa dana ter-tokenisasi). Jalur ketiga dianggap paling stabil secara kepatuhan. Artikel juga menyoroti risiko konsentrasi tinggi (90% cadangan USDtb di BUIDL) dan perdebatan tentang batas OCC 20% untuk aset cadangan ter-tokenisasi. Kemenangan jalur aset cadangan bisa memunculkan risiko sistematis baru. Kesimpulannya, UU CLARITY mendorong pergantian infrastruktur keuangan, di mana penyedia aset cadangan ter-tokenisasi diposisikan sebagai "Visa/Mastercard baru" di ekonomi dolar kripto.

marsbit3j yang lalu

Bagaimana Undang-Undang CLARITY Mengubah Ekonomi Pendapatan Stablecoin

marsbit3j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片