USDH arrives – Can Hyperliquid’s new stablecoin shake USDC’s $6B grip?

ambcryptoDipublikasikan tanggal 2025-09-14Terakhir diperbarui pada 2025-09-15

Key Takeaways

Who won the race for Hyperliquid’s USDH stablecoin ticker?

Native Markets secured the USDH ticker, winning nearly 70% of validator votes in Hyperliquid’s first major on-chain governance process.

Which firms did Native Markets beat?

It outpaced bids from Paxos, BitGo, and Ethena, with prediction markets showing overwhelming support for Native Markets toward the end of the race.


The race to secure the USDH stablecoin ticker on Hyperliquid [HYPE] has officially come to an end.

After a week of competitive bidding, Hyperliquid’s validator community voted in favor of Native Markets, granting the firm the rights to issue and manage the exchange’s U.S. dollar stablecoin, USDH.

Native Markets wins the USDH ticker

Max Fiege, founder of Native Markets, took to X and noted

“We will be deploying both the USDH HIP-1 and corresponding ERC-20 within days. We will then start with a testing phase for mints and redeems of up to $800/tx with an initial group, to be followed by the opening of the USDH/USDC spot order book as well as uncapped mints & redeems.”

For the uninitiated, Native Markets moved quickly, submitting the initial proposal for USDH just 90 minutes after Hyperliquid issued the call, later refining its plan in response to community feedback.

The Hyperliquid Foundation itself abstained from voting, leaving the decision entirely to validators.

This contest to secure the USDH ticker marks the exchange’s first major on-chain governance vote beyond routine token listings.

Other competitors

Despite competition from established players like Paxos, BitGo, and Ethena [ENA], Native Markets emerged as the clear frontrunner throughout the weeklong campaign.

On-chain trackers show that its proposal ultimately secured about 70% of validator votes, compared to 20% for Paxos and just 3.2% for Ethena.

Most bidders had pledged to direct stablecoin yields back into the Hyperliquid ecosystem, whether through contributions to the Hyperliquid Assistance Fund, ecosystem growth initiatives, or direct token repurchases.

Momentum firmly swung in Native Markets’ favor late in the process.

After Ethena withdrew from the race recently, prediction markets like Polymarket gave Native Markets over a 99% chance of victory by Saturday.

Controversy alert!

Still, the outcome was not without controversy.

Critics, including Haseeb Qureshi, managing partner at Dragonfly Capital, questioned the selection process, raising concerns about fairness and long-term implications for governance on Hyperliquid.

Quershi observed, 

“Hearing from multiple bidders that none of the validators are interested in considering anyone besides Native Markets. It’s not even a serious discussion, as though there was a backroom deal already done.” 

Will USDH rule USDC?

With the launch of USDH, Circle’s USD Coin [USDC], the dominant dollar-backed asset on the network, is facing fresh competition.

However, data from DeFiLlama shows nearly $6 billion in USDC reserves remain on the platform, underscoring its entrenched position.

Still, Hyperliquid has made it clear that USDC and other stablecoins will continue to be supported as quote assets.

However, they have to meet requirements such as a 200,000 HYPE stake (approximately $10 million), a strong peg to $1, and sufficient liquidity depth against both USDC and HYPE.

Even so, market sentiment suggests ripples are already being felt.

Circle’s stock has slipped notably, falling 16% since the USDH initiative was announced, and most recently trading at $125.32 after a 6.27% daily decline, according to Yahoo Finance.

The HYPE token has also experienced modest pressure, dropping 1.09% in the past 24 hours to $54.02, according to CoinMarketCap.

Share

Bacaan Terkait

Ratu Keamanan Komputer Dawn Song (宋晓冬) Bergabung dengan Meta

Profesor Dawn Song (Song Xiaodong) dari UC Berkeley, yang dijuluki sebagai "tokoh keamanan komputer nomor satu", bergabung dengan laboratorium Superintelligence Meta sebagai Wakil Presiden Penelitian AI. Dia akan melapor langsung kepada kepala lab, Nat Friedman. Song adalah peneliti berpengaruh di bidang keamanan komputer dan keamanan AI, penerima MacArthur Fellowship, serta anggota ACM, IEEE, dan AAAS. Karyanya yang terkenal termasuk "Dynamic Taint Analysis" (2005). Laboratoriumnya di UC Berkeley dianggap sebagai pusat pelatihan terkemuka di bidang keamanan komputer. Penelitian Song mencakup keamanan perangkat lunak, pembelajaran mesin adversarial, dan keamanan agen AI. Dia juga pendiri Oasis Labs dan Virtue AI, perusahaan yang fokus pada infrastruktur keamanan AI untuk perusahaan, terutama pengujian penetrasi (red-teaming) otomatis dan pengaman runtime untuk agen AI. Bersama Song, pendiri Virtue AI lainnya, Bo Li dan Sanmi Koyejo, serta beberapa anggota tim, juga bergabung dengan Meta. Langkah ini dilihat sebagai upaya Meta untuk memperkuat langkah-langkah keamanan dalam pengembangan agen AI, terutama setelah masalah keamanan model AI seperti Anthropic's mythos menarik perhatian industri. Meta ingin menerapkan AI ke dalam produk-produk sosialnya yang digunakan miliaran orang dan terus mengedepankan strategi sumber terbuka, sehingga membutuhkan kemampuan keamanan yang tangguh. Artikel ini juga menyebutkan bahwa Denny Zhou, pendiri Gemini Reasoning Team di Google, dilaporkan telah bergabung dengan Meta TBDLab beberapa bulan sebelumnya. Zhou adalah tokoh kunci di bidang penalaran AI, berkontribusi pada metode seperti Chain-of-Thought dan Self-Consistency, yang membantu mengembangkan kemampuan penalaran model bahasa besar.

marsbit26m yang lalu

Ratu Keamanan Komputer Dawn Song (宋晓冬) Bergabung dengan Meta

marsbit26m yang lalu

Kompetisi Kripto Lembaga Korea: Ledakan Stabilkoin dan RWA

Artikel ini membahas evolusi pasar kripto Korea Selatan, yang kini beralih dari fokus pada perdagangan ritel ke pembangunan infrastruktur blockchain institusional. Dua tren utama yang mendorong perubahan ini adalah stablecoin dan tokenisasi aset riil (RWA). Stablecoin won Korea yang diatur kini menjadi prioritas bagi regulator, bank, dan perusahaan untuk mencegah aliran keluar modal ke stablecoin dolar AS. Berbagai lembaga seperti KB Financial, Hana Financial, NH Nonghyup Bank, dan KBank sedang melakukan uji coba untuk pembayaran dan transfer lintas batas. Penyedia pembayaran seperti Shinhan Card, BC Card, dan Danal juga mengembangkan solusi. Platform internet seperti KakaoPay dan NAVER Pay, dengan basis pengguna yang luas, berencana mengintegrasikan stablecoin ke dalam ekosistem mereka. Bagi proyek kripto, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga ini. Di sisi RWA, Korea Selatan memusatkan perhatian pada tokenisasi aset di sektor unggulannya seperti perkapalan, rantai pasok industri, dan kekayaan intelektual hiburan (K-pop). Perusahaan sekuritas seperti Mirae Asset dan Hanwha Investment sedang memimpin inisiatif ini. Kerangka regulasi yang jelas diharapkan berlaku pada awal 2027. Peluang bagi proyek kripto terletak pada penyediaan infrastruktur seperti saluran distribusi global, solusi likuiditas dan interoperabilitas lintas rantai, serta alat pendukung untuk lembaga. Akses ke pengguna akhir akan sangat bergantung pada platform konsumen utama seperti NAVER (yang berencana mengakuisisi operator Upbit, Dunamu), Kakao (mengembangkan dompet terpadu), dan Toss (dompet finansial semua dalam satu). Industri kripto Korea Selatan sedang mendekati titik kritis, di mana proyek-proyek yang dapat membangun kemitraan dan kasus penggunaan nyata dengan lembaga lokal akan membantu membentuk masa depan aset digital di negara tersebut.

Foresight News32m yang lalu

Kompetisi Kripto Lembaga Korea: Ledakan Stabilkoin dan RWA

Foresight News32m yang lalu

Bagaimana Menilai Keaslian Video AI? Merangkum Sistem Deteksi yang Dinamis, Dapat Dilacak, dan Dapat Diinterpretasikan

Bagaimana Menentukan Keaslian Video AI? Tinjauan Sistem Deteksi Dinamis, Dapat Dilacak, dan Dapat Dijelaskan Generasi video AI telah berkembang pesat, mencapai kualitas sinematis. Namun, deteksi video palsu tertinggal, menimbulkan risiko sosial. Makalah tinjauan ini menetapkan kembali tujuan deteksi menjadi **"verifikasi kesetiaan fakta"**, memeriksa apakah konten video selaras dengan dunia nyata. Video AI dikategorikan menjadi tiga paradigma: **Manipulasi Lokal (LMV)**, **Edit Audio-Visual (AVE)**, dan **Sintesis Video Generatif (GVS)**. Untuk mendeteksinya, tinjauan mengusulkan kerangka kerja **empat lapis dari perspektif ganda Visi-Bahasa**: 1. **Analisis Isyarat Visual Intrinsik**: Memeriksa anomali statistik tingkat rendah seperti pola noise dan sinyal fisiologis. 2. **Konsistensi Spasial-Temporal**: Menganalisis kelancaran gerakan objek dan dinamika adegan sepanjang waktu. 3. **Konsistensi Antarmoda**: Memverifikasi keselarasan antara elemen visual, audio, dan teks dalam video. 4. **Penalaran Tingkat Dunia Dipandu Bahasa**: Mengevaluasi konsistensi konten video dengan pengetahuan dunia nyata, fakta, dan hukum fisika menggunakan penalaran semantik. Fokus metode deteksi bergeser dari lapisan 1 & 2 (visi) ke lapisan 3 & 4 (bahasa) seiring membaiknya kualitas video AI. Evaluasi juga perlu berkembang melampaui metrik akurasi dasar, menuju sistem penilaian **dinamis yang mengutamakan bukti**, serta sistem deteksi yang **dapat dipercaya dan dijelaskan** dengan menggabungkan bukti visual dan penalaran semantik. Deteksi yang andal memerlukan kolaborasi antar bidang seperti Visi Komputer, NLP, dan pemahaman multimodal.

marsbit1j yang lalu

Bagaimana Menilai Keaslian Video AI? Merangkum Sistem Deteksi yang Dinamis, Dapat Dilacak, dan Dapat Diinterpretasikan

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片