‘Crypto going mainstream’ – Why SEC & CFTC’s statement sparked hype

ambcryptoDipublikasikan tanggal 2025-09-03Terakhir diperbarui pada 2025-09-03

Key Takeaways

The joint guidance by the SEC and CFTC will expand spot crypto trading across traditional exchanges and brokerages.


In a historic move, the U.S. regulators SEC and CFTC issued a joint statement noting that current laws don’t prevent exchanges from listing certain spot crypto trading. 

CFTC-SECCFTC-SEC

Source: X

Part of the guidance read

“The Divisions’ coordination will promote trading venue choice and optionality for market participants within the United States.”

Regulators, referencing the President’s Working Group on Digital Assets Markets (PWG) report, announced their readiness to assist securities exchanges in adding certain crypto assets to their trading platforms.

“In line with these goals, the Divisions stand ready to support consideration by their respective agencies of exchange trading in certain spot crypto asset products.”

Is spot crypto trading going mainstream?

For crypto leaders and analysts, the joint guidance will make crypto mainstream. 

According to ETF analyst Nate Geraci, the regulators’ greenlight meant that crypto trading will soon be available in top global exchanges and traditional brokerages afterward. 

“Main takeaway? Crypto trading going mainstream. Will be on world’s largest venues. Think NYSE, Nasdaq, etc. Next stop after that? Every major traditional brokerage.”

A similar stance was echoed by Matthew Sigel, Head of digital assets research at VanEck, noting that Bitcoin [BTC], Ethereum [ETH], and others will be traded in traditional exchanges. 

CFTC-SECCFTC-SEC

Source: X

For Sei’s [SEI] General Counsel, Gerald Gallagher, the update signaled an end to the ‘turf wars’ between the two regulators.

“The turf wars are ending. The SEC & CFTC are rowing in the same direction. The U.S. just validated the importance of building high-performance crypto trading infrastructure.”

According to CFTC Acting Chairman Caroline Pham, the move will empower users to trade cryptocurrencies freely, wherever and however they choose, through secure, registered exchanges.

In addition, as part of implementing the recommendations from the President’s Working Group on Digital Assets Markets (PWG), the two regulatory bodies have launched Project Crypto and Crypto Sprint.

These initiatives aim to provide greater regulatory clarity and foster a more transparent framework for the digital asset sector.

In June, President Donald Trump signed the stablecoin bill, the GENIUS Act, into law, making it the first major crypto legislation to hit such a milestone. 

Several enforcement actions introduced during the Biden administration have now been reversed. This move is part of former President Trump’s broader push to position the United States as the global ‘crypto capital.’

However, despite this momentum, experts warn that the crypto market structure bill may encounter resistance in the Senate.

One key concern they cite is Trump’s potential conflict of interest within the crypto sector, which could complicate bipartisan support.

Share

Bacaan Terkait

Model Dunia, Metaverse, Digital Twin, Fisika AI: Apakah Mereka Hal yang Sama?

Dalam beberapa tahun terakhir, konsep seperti metaverse, Web3.0, platform data simulasi, digital twin, dan Physical AI bermunculan, menciptakan kebingungan. Konsep-konsep ini bukanlah hal yang sama dengan Model Dunia (World Model), tetapi semuanya mengarah pada tren besar: kaburnya batas antara dunia digital dan fisik. Model Dunia berperan sebagai "lapisan kognitif" atau "sistem operasi dasar" yang bertanggung jawab agar AI dapat memahami dan mensimulasikan dunia. Analisis hubungannya dengan konsep lain adalah sebagai berikut: 1. **Metaverse**: Ini adalah tujuan atau "ruang pengalaman" imersif. Model Dunia berpotensi menjadi "mesin" atau alat pembuat konten otomatisnya, menghasilkan dunia 3D yang dapat diinteraksi dari teks, sehingga mengatasi hambatan pembuatan konten yang mahal. 2. **Web3.0**: Berfokus pada kepemilikan data, identitas, dan insentif ekonomi berbasis blockchain (masalah aturan/ekonomi). Ini berada di lapisan teknis yang berbeda dengan Model Dunia (masalah rekayasa pemahaman dunia). 3. **Platform Data Simulasi** (mis. untuk mobil otonom): Dapat dilihat sebagai versi 1.0 dari Model Dunia. Platform tradisional mengandalkan pembuatan skenario manual/berbasis aturan, sedangkan Model Dunia (versi 2.0) menggunakan AI untuk menghasilkan variasi skenario yang realistis secara otomatis dan masif. 4. **Digital Twin**: Adalah cermin real-time dari objek fisik (mis. pabrik, kota). Model Dunia melangkah lebih jauh dengan menambahkan kemampuan untuk **memprediksi masa depan** dan mensimulasikan hasil dari berbagai tindakan, bukan hanya mereplikasi keadaan saat ini. 5. **Physical AI** (AI fisik seperti robot, mobil otonom): Model Dunia adalah komponen intinya, khususnya untuk fungsi "memahami" hukum dunia dan memprediksi konsekuensi sebelum bertindak. Ini adalah "korteks otak" yang mensimulasikan sebelum eksekusi. Secara hierarki, Model Dunia berada di **Lapisan Kognitif**, yang mendukung lapisan aplikasi (simulasi, digital twin), lapisan aksi (Physical AI), dan lapisan pengalaman (metaverse). Ia bergantung pada infrastruktur dasar seperti komputasi dan data. Kesimpulannya, Model Dunia bukanlah konsep-konsep tersebut, tetapi ia berpotensi menjadi **sistem operasi** atau fondasi kognitif yang dibutuhkan banyak konsep itu untuk mewujudkan janji-janjinya dalam menghubungkan dan mengaburkan batas antara dunia digital dan fisik.

marsbit43m yang lalu

Model Dunia, Metaverse, Digital Twin, Fisika AI: Apakah Mereka Hal yang Sama?

marsbit43m yang lalu

Membuat CPO "Kaget dan Turun", Bagaimana Cara Kerja Glass Bridge? Penjelasan Resmi dari Corning Telah Tiba

Pada 26 Juni, saham sektor CPO di A-Shares jatuh lebih dari 6%, dipicu oleh peluncuran platform interkoneksi optik "Glass Bridge" oleh raksasa serat optik AS, Corning. Teknologi ini menggunakan pandu gelombang kaca wafer-level untuk penyelarasan pasif antara serat optik dan chip fotonik, yang berpotensi menyederhanakan arsitektur CPO tradisional yang bergantung pada unit array serat (FAU) dan perangkat penyelarasan aktif presisi. Pasar khawatir hal ini akan mengurangi permintaan jangka panjang untuk komponen FAU tradisional. Inti Glass Bridge terletak pada tiga karakteristik: manufaktur wafer-level untuk konsistensi produksi massal, antarmuka koneksi fisik TMT yang terstandarisasi untuk integrasi yang mudah, dan arsitektur konektor densitas tinggi yang dapat dilepas untuk fleksibilitas. Corning menegaskan bahwa Glass Bridge melengkapi, bukan sepenuhnya menggantikan, solusi FAU yang ada, terutama dalam skenario kepadatan sangat tinggi. Reaksi pasar mencerminkan pergeseran nilai dalam industri interkoneksi optik AI. Dana mengalir keluar dari saham CPO dan PCB menengah, beralih ke saham terkait substrat kaca seperti Kaishan Tech dan Dier Laser. Analis melihat substrat kaca sebagai material inti kemasan generasi berikutnya, menawarkan peluang diferensiasi bagi industri domestik, terutama di tengah meningkatnya permintaan komputasi AI dan tantangan paten substrat silikon.

marsbit44m yang lalu

Membuat CPO "Kaget dan Turun", Bagaimana Cara Kerja Glass Bridge? Penjelasan Resmi dari Corning Telah Tiba

marsbit44m yang lalu

Trading

Spot
活动图片