India Tops Global Crypto Adoption Index for 3rd Consecutive Year

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-09-03Terakhir diperbarui pada 2025-09-03

India has maintained its position as the global leader in crypto adoption for the third consecutive year. Chainalysis’s sixth annual 2025 Global Crypto Adoption Index reveals that India again leads the world in cryptocurrency adoption this year, with the United States in second place.

This represents a significant shift from earlier years, when cryptocurrency was primarily popular in emerging markets. In 2025, the picture is more balanced: regular users are still active, but big institutions are now playing a major role in driving growth.

Chainalysis says in its report that it studied 151 countries and ranked them based on four key areas.

  • Crypto value received by centralized exchanges
  • Retail Crypto value received by centralized services
  • Crypto value received by decentralized finance (DeFi) protocols
  • Institutional Crypto value received by centralized exchanges

Each part of the index was adjusted based on a country’s income (GDP per person). This helped highlight not only where crypto is popular, but also where it is truly being used in financial systems.

The index changed this year to reflect the maturing crypto market. Chainalysis removed the “retail DeFi” category, as everyday use of DeFi is much smaller than activity on centralized platforms. They also added a new “institutional activity” category to track the growing involvement of banks, funds, and ETFs. With U.S. Bitcoin ETFs approved and regulations clearer worldwide, institutions are now fully participating rather than just testing the waters.

India, U.S., and Asia’s Growth

India ranked number one across all categories, showing both strong everyday use and growing ties with financial services. The U.S. ranked second overall, mainly thanks to institutional investors and supportive regulations. Pakistan, Vietnam, and Brazil rounded out the top five, showing how both remittances and rising institutional interest are boosting adoption.

Asia-Pacific (APAC) was the fastest-growing region as crypto activity jumped 69% in a year to $2.36 trillion. Next is Latin America, which grew 63%, up from 53% last year. Eastern Europe countries stood out when adjusting for population. 

Ukraine, Moldova, and Georgia led the world in per-person crypto activity, driven by inflation, war, and banking challenges. Europe (42%), MENA, Sub-Saharan Africa, and North America (49%) all saw strong growth.

Stablecoins and Bitcoin Dominate

Stablecoins are still at the heart of global crypto usage. Tether (USDT) processed more than $1 trillion monthly, and USDC saw a record $3.29 trillion in volume. New entrants such as EURC (a euro-pegged stablecoin) and PayPal’s PYUSD are gaining traction fast, particularly in Europe under new rules.

Bitcoin, however, is still the main entry point into crypto. From mid-2024 to mid-2025, people bought over $4.6 trillion worth of Bitcoin using fiat money, more than twice as much as any other asset. The U.S. led in these inflows, followed by South Korea and the EU.

Also Read: India to Adopt OECD Crypto Reporting Rules from April 2027


Mobile Only ImageMobile Only Image

Bacaan Terkait

Model Dunia, Metaverse, Digital Twin, Fisika AI: Apakah Mereka Hal yang Sama?

Dalam beberapa tahun terakhir, konsep seperti metaverse, Web3.0, platform data simulasi, digital twin, dan Physical AI bermunculan, menciptakan kebingungan. Konsep-konsep ini bukanlah hal yang sama dengan Model Dunia (World Model), tetapi semuanya mengarah pada tren besar: kaburnya batas antara dunia digital dan fisik. Model Dunia berperan sebagai "lapisan kognitif" atau "sistem operasi dasar" yang bertanggung jawab agar AI dapat memahami dan mensimulasikan dunia. Analisis hubungannya dengan konsep lain adalah sebagai berikut: 1. **Metaverse**: Ini adalah tujuan atau "ruang pengalaman" imersif. Model Dunia berpotensi menjadi "mesin" atau alat pembuat konten otomatisnya, menghasilkan dunia 3D yang dapat diinteraksi dari teks, sehingga mengatasi hambatan pembuatan konten yang mahal. 2. **Web3.0**: Berfokus pada kepemilikan data, identitas, dan insentif ekonomi berbasis blockchain (masalah aturan/ekonomi). Ini berada di lapisan teknis yang berbeda dengan Model Dunia (masalah rekayasa pemahaman dunia). 3. **Platform Data Simulasi** (mis. untuk mobil otonom): Dapat dilihat sebagai versi 1.0 dari Model Dunia. Platform tradisional mengandalkan pembuatan skenario manual/berbasis aturan, sedangkan Model Dunia (versi 2.0) menggunakan AI untuk menghasilkan variasi skenario yang realistis secara otomatis dan masif. 4. **Digital Twin**: Adalah cermin real-time dari objek fisik (mis. pabrik, kota). Model Dunia melangkah lebih jauh dengan menambahkan kemampuan untuk **memprediksi masa depan** dan mensimulasikan hasil dari berbagai tindakan, bukan hanya mereplikasi keadaan saat ini. 5. **Physical AI** (AI fisik seperti robot, mobil otonom): Model Dunia adalah komponen intinya, khususnya untuk fungsi "memahami" hukum dunia dan memprediksi konsekuensi sebelum bertindak. Ini adalah "korteks otak" yang mensimulasikan sebelum eksekusi. Secara hierarki, Model Dunia berada di **Lapisan Kognitif**, yang mendukung lapisan aplikasi (simulasi, digital twin), lapisan aksi (Physical AI), dan lapisan pengalaman (metaverse). Ia bergantung pada infrastruktur dasar seperti komputasi dan data. Kesimpulannya, Model Dunia bukanlah konsep-konsep tersebut, tetapi ia berpotensi menjadi **sistem operasi** atau fondasi kognitif yang dibutuhkan banyak konsep itu untuk mewujudkan janji-janjinya dalam menghubungkan dan mengaburkan batas antara dunia digital dan fisik.

marsbit1j yang lalu

Model Dunia, Metaverse, Digital Twin, Fisika AI: Apakah Mereka Hal yang Sama?

marsbit1j yang lalu

Membuat CPO "Kaget dan Turun", Bagaimana Cara Kerja Glass Bridge? Penjelasan Resmi dari Corning Telah Tiba

Pada 26 Juni, saham sektor CPO di A-Shares jatuh lebih dari 6%, dipicu oleh peluncuran platform interkoneksi optik "Glass Bridge" oleh raksasa serat optik AS, Corning. Teknologi ini menggunakan pandu gelombang kaca wafer-level untuk penyelarasan pasif antara serat optik dan chip fotonik, yang berpotensi menyederhanakan arsitektur CPO tradisional yang bergantung pada unit array serat (FAU) dan perangkat penyelarasan aktif presisi. Pasar khawatir hal ini akan mengurangi permintaan jangka panjang untuk komponen FAU tradisional. Inti Glass Bridge terletak pada tiga karakteristik: manufaktur wafer-level untuk konsistensi produksi massal, antarmuka koneksi fisik TMT yang terstandarisasi untuk integrasi yang mudah, dan arsitektur konektor densitas tinggi yang dapat dilepas untuk fleksibilitas. Corning menegaskan bahwa Glass Bridge melengkapi, bukan sepenuhnya menggantikan, solusi FAU yang ada, terutama dalam skenario kepadatan sangat tinggi. Reaksi pasar mencerminkan pergeseran nilai dalam industri interkoneksi optik AI. Dana mengalir keluar dari saham CPO dan PCB menengah, beralih ke saham terkait substrat kaca seperti Kaishan Tech dan Dier Laser. Analis melihat substrat kaca sebagai material inti kemasan generasi berikutnya, menawarkan peluang diferensiasi bagi industri domestik, terutama di tengah meningkatnya permintaan komputasi AI dan tantangan paten substrat silikon.

marsbit1j yang lalu

Membuat CPO "Kaget dan Turun", Bagaimana Cara Kerja Glass Bridge? Penjelasan Resmi dari Corning Telah Tiba

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片