Stablecoins to Reshape Post-Trade Markets Within 5 Years: Citi Report

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-09-03Terakhir diperbarui pada 2025-09-03

Citi recently published its “Securities Services Evolution” whitepaper, which studies market infrastructure developments every year and how the industry is responding to these changes. The whitepaper estimates that 10% of the globe’s market turnover will be tokenized by 2030, mostly by bank-issued stablecoins. It highlights that automation via technology will help businesses deal with the T+1 settlement problem.

This fifth annual survey report had 537 industry participants, including custodians, broker-dealers, and asset managers. It showed how tokenization, faster settlements, and AI-driven automation are changing post-trades arrangements. 

The main points of the report predict that by 2030, a significant portion in this domain will be processed with digital assets and tokenized securities, and bank-issued stablecoins will play a key role in improving collateral efficiency, fund tokenization, and private market securities.

A staggering 48% of projects are aiming to optimize their internal processes for North American T+1 settlements. In 2025, 76% of those who answered are actively working on T+1 projects.

“From accelerated settlements to automation in asset servicing and increased shareholder participation and governance, the collective vision of firms worldwide is converging on the same core themes,” said Chris Cox, Head of Investor Services, Citi. He added, “The industry is at the cusp of significant change as market participants intensify their focus on T+1, accelerate the adoption of digital assets, and implement GenAI across their operations.”

Furthermore, the study also revealed that 86% of respondents reported that their companies are testing GenAI, with client onboarding as the primary use case for asset managers, custodians, and broker-dealers. Meanwhile 57% said that their companies are testing the technology for post-trade purposes only, and buy-side firms are leading the way in using GenAI in the back office. And 67% of institutional investors utilize GenAI for clearing and settlement, post-trade reconciliation and reporting, and clearing and settlement.

Stablecoins On Rise in the Asia-Pacific Region 

The Asia Pacific region has been leading in the use of digital assets lately, with millions of cryptocurrency users. Further, regulators in the region are also moving to get digital asset projects up and running. 

China, Japan, and South Korea have been eyeing currency-based stablecoins recently. Japan’s Financial Services Agency (FSA) is in the process of approving the nation’s first yen-backed stablecoin, a move that could potentially expand the use of digital money and impact the demand for government debt.

Furthermore, China is also exploring to launch its yuan-backed stablecoins to expand its currency’s global reach in digital finance and counter the dominance of the USD. 

Also Read: Coinbase to Launch Futures Product Mixing Tech Stocks and Crypto


Mobile Only ImageMobile Only Image

Bacaan Terkait

Model Dunia, Metaverse, Digital Twin, Fisika AI: Apakah Mereka Hal yang Sama?

Dalam beberapa tahun terakhir, konsep seperti metaverse, Web3.0, platform data simulasi, digital twin, dan Physical AI bermunculan, menciptakan kebingungan. Konsep-konsep ini bukanlah hal yang sama dengan Model Dunia (World Model), tetapi semuanya mengarah pada tren besar: kaburnya batas antara dunia digital dan fisik. Model Dunia berperan sebagai "lapisan kognitif" atau "sistem operasi dasar" yang bertanggung jawab agar AI dapat memahami dan mensimulasikan dunia. Analisis hubungannya dengan konsep lain adalah sebagai berikut: 1. **Metaverse**: Ini adalah tujuan atau "ruang pengalaman" imersif. Model Dunia berpotensi menjadi "mesin" atau alat pembuat konten otomatisnya, menghasilkan dunia 3D yang dapat diinteraksi dari teks, sehingga mengatasi hambatan pembuatan konten yang mahal. 2. **Web3.0**: Berfokus pada kepemilikan data, identitas, dan insentif ekonomi berbasis blockchain (masalah aturan/ekonomi). Ini berada di lapisan teknis yang berbeda dengan Model Dunia (masalah rekayasa pemahaman dunia). 3. **Platform Data Simulasi** (mis. untuk mobil otonom): Dapat dilihat sebagai versi 1.0 dari Model Dunia. Platform tradisional mengandalkan pembuatan skenario manual/berbasis aturan, sedangkan Model Dunia (versi 2.0) menggunakan AI untuk menghasilkan variasi skenario yang realistis secara otomatis dan masif. 4. **Digital Twin**: Adalah cermin real-time dari objek fisik (mis. pabrik, kota). Model Dunia melangkah lebih jauh dengan menambahkan kemampuan untuk **memprediksi masa depan** dan mensimulasikan hasil dari berbagai tindakan, bukan hanya mereplikasi keadaan saat ini. 5. **Physical AI** (AI fisik seperti robot, mobil otonom): Model Dunia adalah komponen intinya, khususnya untuk fungsi "memahami" hukum dunia dan memprediksi konsekuensi sebelum bertindak. Ini adalah "korteks otak" yang mensimulasikan sebelum eksekusi. Secara hierarki, Model Dunia berada di **Lapisan Kognitif**, yang mendukung lapisan aplikasi (simulasi, digital twin), lapisan aksi (Physical AI), dan lapisan pengalaman (metaverse). Ia bergantung pada infrastruktur dasar seperti komputasi dan data. Kesimpulannya, Model Dunia bukanlah konsep-konsep tersebut, tetapi ia berpotensi menjadi **sistem operasi** atau fondasi kognitif yang dibutuhkan banyak konsep itu untuk mewujudkan janji-janjinya dalam menghubungkan dan mengaburkan batas antara dunia digital dan fisik.

marsbit1j yang lalu

Model Dunia, Metaverse, Digital Twin, Fisika AI: Apakah Mereka Hal yang Sama?

marsbit1j yang lalu

Membuat CPO "Kaget dan Turun", Bagaimana Cara Kerja Glass Bridge? Penjelasan Resmi dari Corning Telah Tiba

Pada 26 Juni, saham sektor CPO di A-Shares jatuh lebih dari 6%, dipicu oleh peluncuran platform interkoneksi optik "Glass Bridge" oleh raksasa serat optik AS, Corning. Teknologi ini menggunakan pandu gelombang kaca wafer-level untuk penyelarasan pasif antara serat optik dan chip fotonik, yang berpotensi menyederhanakan arsitektur CPO tradisional yang bergantung pada unit array serat (FAU) dan perangkat penyelarasan aktif presisi. Pasar khawatir hal ini akan mengurangi permintaan jangka panjang untuk komponen FAU tradisional. Inti Glass Bridge terletak pada tiga karakteristik: manufaktur wafer-level untuk konsistensi produksi massal, antarmuka koneksi fisik TMT yang terstandarisasi untuk integrasi yang mudah, dan arsitektur konektor densitas tinggi yang dapat dilepas untuk fleksibilitas. Corning menegaskan bahwa Glass Bridge melengkapi, bukan sepenuhnya menggantikan, solusi FAU yang ada, terutama dalam skenario kepadatan sangat tinggi. Reaksi pasar mencerminkan pergeseran nilai dalam industri interkoneksi optik AI. Dana mengalir keluar dari saham CPO dan PCB menengah, beralih ke saham terkait substrat kaca seperti Kaishan Tech dan Dier Laser. Analis melihat substrat kaca sebagai material inti kemasan generasi berikutnya, menawarkan peluang diferensiasi bagi industri domestik, terutama di tengah meningkatnya permintaan komputasi AI dan tantangan paten substrat silikon.

marsbit1j yang lalu

Membuat CPO "Kaget dan Turun", Bagaimana Cara Kerja Glass Bridge? Penjelasan Resmi dari Corning Telah Tiba

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片