Zora Revises Coin Policies After ZachXBT Call-Out

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-08-03Terakhir diperbarui pada 2025-08-26

Zora, the Coinbase-backed crypto platform, has introduced new rules to hide coins that break its community guidelines after facing backlash for promoting a fake Tyson Fury account and being linked to alleged serial scammer Sahil Arora. 

The company announced on X that coins flagged for issues like impersonation or offensive content will no longer appear openly. However, users can still buy, sell, or transfer them if they want.

Users holding these flagged tokens will now see them marked in their wallets with a warning that the coin has been hidden due to guideline violations.

ZachXBT Exposes Controversial Talks with Sahil Arora

The new change came after crypto sleuth ZachXBT, shared some screenshots online that suggested that executives from Zora and Coinbase were in talks with Arora about possible collaboration, as confirmed by Protos.

Arora is well known in the crypto space for orchestrating celebrity rug pulls, with names like Jason Derulo, Caitlyn Jenner, and Iggy Azalea attached to projects that quickly collapsed. 

He has claimed to have made thirty million dollars last year from such ventures and bragged that he was safe under Donald Trump’s lighter approach to crypto regulation.

Among the leaked exchanges were messages involving Jesse Pollak, the head of Coinbase’s Base App, who appeared to advise Arora to drop what he called the “bad guy positioning” and said he was looking forward to seeing Arora’s “positive impact.”

Zora Executives Promote Fake Tyson Fury Account

Other screenshots showed Zora co-founder Jacob Horne and head of partnerships Zak Krevitt in emails where Arora claimed he had onboarded heavyweight boxing champion Tyson Fury to the platform.

Horne later promoted what he thought was Fury’s account on the platform. He even shared a tokenized post that he said he had “just saw.” But the account turned out to be fake. After Zora deleted the page, users quickly complained that they could no longer trade the token connected to the fake account.

Pollak later tried to defend his contact with Arora. He said “I told [Arora] he had a bad rap, bad actors aren’t tolerated on base, and he’d need to demonstrate positive impact.” He added that he was willing to hear Arora out but insisted that “no live meeting ever happened” and that the two parties were not “working together.” 

His explanation drew mockery across X, with ZachXBT reposting the defense but swapping Arora’s name with North Korean leader Kim Jong Un and the Lazarus hacker group to show how silly it sounded.

Zora raised fifty million dollars in 2022 through Coinbase Ventures. The platform is designed like a social media site where every post becomes a tradable coin. Coinbase leaders, including Pollak and CEO Brian Armstrong, have promoted Zora before, showing how closely it is tied to the exchange.

Also Read: Newcastle United Signs Multi-Year Partnership with BYDFi



Bacaan Terkait

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin tidak hanya terletak pada kemungkinan "depegging" (kehilangan patokan nilai), tetapi pada tantangan untuk memasukkannya ke dalam sistem keuangan yang dapat diidentifikasi, dipantau, dipertanggungjawabkan, dan diregulasi. Laporan berjudul "Anchoring Trust in Money" menekankan bahwa uang bukan sekadar produk teknologi. Kepercayaan datang dari kerangka hukum, likuiditas, unit akun bersama, dan integritas keuangan. Dalam sistem tradisional, bank bertanggung jawab atas KYC, pemantauan transaksi, dan pelaporan. Sebaliknya, stablecoin yang beredar di blockchain tanpa izin menghadapi risiko kombinasi: anonimitas semu, dompet non-kustodial, jembatan lintas rantai, dan kurangnya kejelasan subjek hukum. Transparansi pada rantai (on-chain) tidak sama dengan transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak berarti identitas terungkap. Risiko stablecoin dapat merembes kembali ke keuangan tradisional melalui pintu masuk/keluar dana (on/off-ramp), platform perdagangan, dan akun pelanggan. Masa depan regulasi bukan melarang inovasi, tetapi "menanamkan aturan" ke dalam infrastruktur. Sistem keuangan token masa depan harus menyematkan identifikasi pelanggan, penyaringan risiko pra-transaksi, jejak data yang dapat diaudit, dan mekanisme kolaborasi lintas yurisdiksi sejak awal. Kepatuhan bukanlah penghalang, melainkan infrastruktur dasar yang memungkinkan inovasi keuangan berkelanjutan dan aman.

marsbit1j yang lalu

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

marsbit1j yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin bukan hanya ketidakstabilan nilai (de-pegging), tetapi kemampuan untuk diintegrasikan ke dalam sistem keuangan yang teridentifikasi, termonitor, dapat dipertanggungjawabkan, dan teregulasi. Dari perspektif kepatuhan, uang memerlukan kerangka institusional yang menjamin unit akun, pembayaran pasti, likuiditas, regulasi, dan integritas keuangan. Stablecoin, yang banyak beredar di blockchain tanpa izin, menghadapi tantangan dalam KYC, AML/CFT, dan kejelasan tanggung jawab karena pseudo-anonimitas, dompet non-tahanan, dan bridging antar-rantai. Transparansi data rantai-blok (on-chain) tidak secara otomatis berarti transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak sama dengan identitas yang diketahui. Risiko dari ekosistem stablecoin dapat berpindah kembali ke keuangan tradisional melalui titik on-ramp/off-ramp (pintu masuk/keluar dana). Oleh karena itu, arah masa depan yang diusulkan BIS adalah mengintegrasikan teknologi tokenisasi ke dalam sistem moneter berbasis bank sentral dan lembaga teratur, dengan menanamkan aturan sejak awal ("embedded rules"). Ini termasuk identifikasi klien, pra-skrining transaksi, penilaian risiko, jejak data yang dapat diaudit, serta mekanisme kolaborasi lintas lembaga dan yurisdiksi. Intinya, bagi profesional kepatuhan, setiap inovasi keuangan baru harus menjawab pertanyaan mendasar: Siapa yang mengidentifikasi klien, memantau transaksi, menangani anomali, dan bertanggung jawab? Kepatuhan bukanlah penghalang inovasi, melainkan infrastruktur dasar agar inovasi keuangan dapat berkelanjutan dan aman.

链捕手1j yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

链捕手1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片