ED Raids ₹260 Cr Crypto Scam; Assets Seized Across India

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-08-03Terakhir diperbarui pada 2025-08-06

The Enforcement Directorate carried out investigations across multiple cities today in India, including Delhi, Noida, Gurugram, and Dehradun, in connection with a ₹260 crore global cryptocurrency scam. The operation targeted 11 locations tied to a cyber fraud network that posed as tech support agents for major firms like Microsoft and Amazon. 

As per local reports, the investigation, launched under the Prevention of Money Laundering Act (PMLA), stems from multiple FIRs filed by the Central Bureau of Investigation (CBI) and Delhi Police. 

As per the ED, the accused deceived victims, which included both Indian and foreign nationals, by impersonating customer support executives and even law enforcement officers. Fraudsters allegedly threatened to arrest the victims to extract money from them. 

According to reports, the extracted money was allegedly converted into cryptocurrencies, initially in Bitcoins, and then they were transferred to multiple other accused individuals.

Crypto Scams On The Rise

Crypto scams have been rapidly increasing globally. Earlier last month, Indian crypto Exchange CoinDCX was hacked on July 19, 2025. Hackers stole around $44.2 million from one of its internal accounts. 

Further, Peckshield, a blockchain security firm, reported a scam surge in July 2025. The report revealed a 27.2% increase in cryptocurrency scams as compared to June 2025. According to the report, hackers stole about $142 million in 17 major cases. 

Such scams and fraudulent activities have intensified efforts by governments and institutions to develop more robust systems aimed at safeguarding the global financial ecosystem.

Also Read: Scammers Use Crypto ATMs for Drug Funds, Elder Fraud: FinCEN



Bacaan Terkait

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin tidak hanya terletak pada kemungkinan "depegging" (kehilangan patokan nilai), tetapi pada tantangan untuk memasukkannya ke dalam sistem keuangan yang dapat diidentifikasi, dipantau, dipertanggungjawabkan, dan diregulasi. Laporan berjudul "Anchoring Trust in Money" menekankan bahwa uang bukan sekadar produk teknologi. Kepercayaan datang dari kerangka hukum, likuiditas, unit akun bersama, dan integritas keuangan. Dalam sistem tradisional, bank bertanggung jawab atas KYC, pemantauan transaksi, dan pelaporan. Sebaliknya, stablecoin yang beredar di blockchain tanpa izin menghadapi risiko kombinasi: anonimitas semu, dompet non-kustodial, jembatan lintas rantai, dan kurangnya kejelasan subjek hukum. Transparansi pada rantai (on-chain) tidak sama dengan transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak berarti identitas terungkap. Risiko stablecoin dapat merembes kembali ke keuangan tradisional melalui pintu masuk/keluar dana (on/off-ramp), platform perdagangan, dan akun pelanggan. Masa depan regulasi bukan melarang inovasi, tetapi "menanamkan aturan" ke dalam infrastruktur. Sistem keuangan token masa depan harus menyematkan identifikasi pelanggan, penyaringan risiko pra-transaksi, jejak data yang dapat diaudit, dan mekanisme kolaborasi lintas yurisdiksi sejak awal. Kepatuhan bukanlah penghalang, melainkan infrastruktur dasar yang memungkinkan inovasi keuangan berkelanjutan dan aman.

marsbit2j yang lalu

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

marsbit2j yang lalu

Trading

Spot
活动图片