CoinDCX Resumes Withdrawals After $44 Million Hack: ET

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-08-04Terakhir diperbarui pada 2025-08-04

India’s largest crypto exchange, CoinDCX, has resumed user withdrawals after a ₹300 crore ($44 million) security breach on June 13, 2025. The incident stemmed not from CoinDCX’s core systems but from a compromise in the third-party wallet infrastructure provider BitGo.

Speaking to The Economic Times, CoinDCX co-founder and CEO Sumit Gupta confirmed that no user funds were impacted. “Retaining the users trust and ensuring that their funds were 100% safe was our topmost priority. We ensured that all customer withdrawal requests were honoured and there was no impact on the functioning of platform,” Gupta said. “This was our wake-up call… and we take full responsibility.”

Engineer Arrested in Internal Breach

On July 30, Bengaluru’s cybercrime unit arrested Shubham Anand, a 30-year-old CoinDCX software engineer, in connection with the attack. Police allege Anand manipulated internal systems and played a key role in diverting funds. The investigation remains ongoing.

Founded in 2018 and headquartered in Mumbai, CoinDCX controls nearly 80% of India’s centralized crypto exchange market. It holds over ₹10,000 crore ($1.14 billion) in crypto assets and reports an annualized revenue of ₹1,179 crore ($134.94 million).

Despite Breach, CoinDCX Hits Record Trading Volume

Despite the breach, In July, CoinDCX achieved all-time high monthly trading volumes despite the breach, indicating that users are very confident. Gupta also denied reports of a $900 million acquisition offer from Coinbase, calling such valuations “petty and unrealistic.” 

He said CoinDCX remains focused on becoming India’s first crypto decacorn, targeting a $10 billion valuation pending clear regulatory guidance.

Also Read: CoinDCX Denies Coinbase Buyout Rumors After $44M Hack



Bacaan Terkait

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin tidak hanya terletak pada kemungkinan "depegging" (kehilangan patokan nilai), tetapi pada tantangan untuk memasukkannya ke dalam sistem keuangan yang dapat diidentifikasi, dipantau, dipertanggungjawabkan, dan diregulasi. Laporan berjudul "Anchoring Trust in Money" menekankan bahwa uang bukan sekadar produk teknologi. Kepercayaan datang dari kerangka hukum, likuiditas, unit akun bersama, dan integritas keuangan. Dalam sistem tradisional, bank bertanggung jawab atas KYC, pemantauan transaksi, dan pelaporan. Sebaliknya, stablecoin yang beredar di blockchain tanpa izin menghadapi risiko kombinasi: anonimitas semu, dompet non-kustodial, jembatan lintas rantai, dan kurangnya kejelasan subjek hukum. Transparansi pada rantai (on-chain) tidak sama dengan transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak berarti identitas terungkap. Risiko stablecoin dapat merembes kembali ke keuangan tradisional melalui pintu masuk/keluar dana (on/off-ramp), platform perdagangan, dan akun pelanggan. Masa depan regulasi bukan melarang inovasi, tetapi "menanamkan aturan" ke dalam infrastruktur. Sistem keuangan token masa depan harus menyematkan identifikasi pelanggan, penyaringan risiko pra-transaksi, jejak data yang dapat diaudit, dan mekanisme kolaborasi lintas yurisdiksi sejak awal. Kepatuhan bukanlah penghalang, melainkan infrastruktur dasar yang memungkinkan inovasi keuangan berkelanjutan dan aman.

marsbit48m yang lalu

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

marsbit48m yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin bukan hanya ketidakstabilan nilai (de-pegging), tetapi kemampuan untuk diintegrasikan ke dalam sistem keuangan yang teridentifikasi, termonitor, dapat dipertanggungjawabkan, dan teregulasi. Dari perspektif kepatuhan, uang memerlukan kerangka institusional yang menjamin unit akun, pembayaran pasti, likuiditas, regulasi, dan integritas keuangan. Stablecoin, yang banyak beredar di blockchain tanpa izin, menghadapi tantangan dalam KYC, AML/CFT, dan kejelasan tanggung jawab karena pseudo-anonimitas, dompet non-tahanan, dan bridging antar-rantai. Transparansi data rantai-blok (on-chain) tidak secara otomatis berarti transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak sama dengan identitas yang diketahui. Risiko dari ekosistem stablecoin dapat berpindah kembali ke keuangan tradisional melalui titik on-ramp/off-ramp (pintu masuk/keluar dana). Oleh karena itu, arah masa depan yang diusulkan BIS adalah mengintegrasikan teknologi tokenisasi ke dalam sistem moneter berbasis bank sentral dan lembaga teratur, dengan menanamkan aturan sejak awal ("embedded rules"). Ini termasuk identifikasi klien, pra-skrining transaksi, penilaian risiko, jejak data yang dapat diaudit, serta mekanisme kolaborasi lintas lembaga dan yurisdiksi. Intinya, bagi profesional kepatuhan, setiap inovasi keuangan baru harus menjawab pertanyaan mendasar: Siapa yang mengidentifikasi klien, memantau transaksi, menangani anomali, dan bertanggung jawab? Kepatuhan bukanlah penghalang inovasi, melainkan infrastruktur dasar agar inovasi keuangan dapat berkelanjutan dan aman.

链捕手56m yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

链捕手56m yang lalu

Trading

Spot
活动图片