Play-and-Earn Is Replacing P2E—Here’s Why That Matters

ccn.comDipublikasikan tanggal 2025-05-25Terakhir diperbarui pada 2025-05-25

Key Takeaways

  • The P2E market is projected to hit $29 billion by 2028, but many games face retention challenges.
  • The industry is pivoting toward “play-and-earn” models.
  • Since 2020, blockchain gaming has secured over $10.4 billion in funding.

Gaming is no longer just about fun—it’s about ownership, income and investment.

As blockchain tech reshapes how games are played, built and monetized, a key shift is underway: The move from play-to-earn to play-and-earn.

This isn’t just a semantic tweak—it’s a response to a hard truth.

The P2E hype cycle has burned out many players, leaving behind unsustainable economies and empty virtual worlds. Now, developers are waking up to a key realization: Gameplay has to come first, not just tokenomics.

The Rise (and Stall) of Play-to-Earn

Valued at $9.3 billion in 2023 and expected to triple by 2028, the P2E sector has been a magnet for capital and innovation.

Platforms, like Axie Infinity and Decentraland, introduced millions to the idea of earning crypto through gaming.

In fact, 75% of blockchain gamers in 2023 were active on P2E titles, with adoption surging in countries, like the Philippines, Vietnam and Brazil, where players saw gaming as a viable source of income.

However, the model had a flaw. When token prices dropped, so did player interest.

According to Jared Silverio of Bentley University, many P2E games rely too heavily on speculative profits rather than long-term engagement. Once gameplay becomes repetitive or rewards shrink, retention collapses.

That’s exactly what happened to Axie Infinity. After a massive inflation spike in 2022, token prices cratered, user activity fell, and the once-booming economy stagnated.

Other platforms, like the Sandbox, suffered from underused land plots and low player activity, evidence that utility still lags behind speculation.

Play-and-Earn: A Smarter Model

To fix this, developers are evolving. The “play-and-earn” model flips the script: Fun first, rewards second.

Instead of relying on endless token emissions, these games emphasize strong gameplay loops, balanced economies and limited, meaningful rewards.

Big Time and Illuvium are leading examples of this hybrid approach, combining AAA design with blockchain mechanics.

Even Gen Z is on board: 51% support monetizing in-game assets, though fewer favor full crypto integration.

Traditional studios, like Ubisoft, have also experimented with blockchain (though not always successfully), showing that mainstream interest is real, even if execution is still catching up.

What’s Working—and What Still Needs Work

Strengths:

  •  Decentralized asset ownership.
  • New monetization paths for players.
  •  Major VC interest and funding momentum.

Weaknesses:

  • Token volatility and short game lifecycles.
  • Overused NFTs with little in-game value.
  • Retention drop-off when profits disappear.

Opportunities:

  • Digital land, VR integration, and metaverse expansion.
  • Better economic models with dual-token systems.
  • Skill-based rewards and community governance.

Threats:

  • Regulation (KYC, taxes, securities laws).
  • Player churn from market downturns.
  • Tech limitations on scalability and UX.

Market Reality Check

Even in a bear market, blockchain gaming is proving resilient.

Over $10.4 billion has flowed into the space since 2020, and in 2024, daily active wallets in Web3 games surged by 421%, hitting 7.4 million.

Still, the path forward depends on a few key changes.

First, tokenomics need to be smarter: Think limited emissions, deflationary mechanics and real in-game utility.

Second, gameplay has to come first. That means building experiences that are genuinely fun, competitive and rich in social and narrative depth.

Finally, teams must be ready for legal scrutiny, with proper KYC procedures, transparent audits and solid compliance frameworks baked in from the start.

If the industry can get these fundamentals right, “play-and-earn” won’t just replace P2E—it might finally make blockchain gaming mainstream.

Was this Article helpful? Yes No

Bacaan Terkait

8 DEX Teratas di Juli 2026

Menurut CoinGecko, ada sekitar 909 bursa terdesentralisasi (DEX) di dunia kripto dengan volume perdagangan total sekitar $5,47 miliar. DEX menggunakan kontrak pintar untuk memungkinkan perdagangan aset kripto tanpa perantara, menawarkan privasi dan kontrol aset yang lebih baik kepada pengguna. Berikut adalah 8 DEX teratas pada Juli 2026: 1. **Shadow Exchange**: Bursa di jaringan Sonic yang fokus pada likuiditas terkonsentrasi untuk perdagangan efisien dengan slippage rendah. 2. **Uniswap**: Protokol terdesentralisasi pionir dengan model Automated Market Maker (AMM), beroperasi di banyak blockchain termasuk Ethereum. 3. **SushiSwap**: Platform DeFi yang berkembang dari fork Uniswap, menawarkan pertukaran token, yield farming, dan beroperasi di 40+ jaringan. 4. **Orca**: AMM yang ramah pengguna di blockchain Solana, menawarkan model likuiditas terkonsentrasi "Whirlpools" untuk efisiensi modal. 5. **Meteora**: DEX di Solana yang berfokus pada infrastruktur likuiditas yang aman dan berkelanjutan melalui vault dinamis dan pool DLMM. 6. **Raydium**: Bursa hibrida di Solana yang menggabungkan pool likuiditas AMM dengan buku pesanan terpusat untuk likuiditas yang dalam. 7. **Hyperliquid**: L1 blockchain dengan bursa perpetual futures terdesentralisasi non-kustodial yang menggunakan model order book (CLOB). 8. **PancakeSwap**: Bursa AMM multi-rantai yang dimulai di BNB Chain, kini telah berekspansi ke banyak jaringan dengan likuiditas yang dalam. DEX telah berkembang melampaui sekadar pertukaran token sederhana, menawarkan derivatif, interoperabilitas lintas rantai, dan akses ke aset tradisional. Pengguna disarankan untuk selalu melakukan penelitian sendiri sebelum menggunakan platform mana pun.

ambcrypto44m yang lalu

8 DEX Teratas di Juli 2026

ambcrypto44m yang lalu

Kapitalisasi Pasar USDT Menyusul Ethereum, Apa Sinyal yang Dikirimkan?

USDT, stablecoin yang diterbitkan oleh Tether, telah mencapai kapitalisasi pasar yang hampir menyamai Ethereum. Fenomena ini tidak menandakan bahwa Ethereum memiliki kelemahan keamanan atau nilai fundamental yang menurun. Sebaliknya, hal ini menggarisbawahi bahwa kebutuhan inti pengguna di ruang crypto adalah akses ke *dolar tanpa izin* untuk transfer yang mudah dan cepat, bukan kompleksitas teknologi blockchain yang mendasarinya. USDT beroperasi pada banyak blockchain (seperti Ethereum, Tron, Arbitrum) dengan persyaratan teknis minimal. Keamanannya terutama bergantung pada cadangan dolar dan tindakan perusahaan penerbit, Tether, bukan pada nilai atau keamanan blockchain tempatnya beredar. Kenaikan kapitalisasi pasar USDT mencerminkan pertumbuhan permintaan akan aset dolar digital yang stabil dan dapat diakses secara global, terlepas dari siapa penerbitnya atau blockchain mana yang menjadi tuan rumahnya. Data menunjukkan bahwa meskipun total nilai stablecoin (dipimpin USDT) terus berkembang pesat, kapitalisasi pasar token asli dari berbagai blockchain pintar cenderung stagnan. Ini memperkuat narasi bahwa mayoritas pengguna hanya peduli pada utilitas transfer dolar yang tanpa izin. Dominasi USDT, meskipun memiliki latar belakang lepas pantai dan kontroversi transparansi, dibandingkan dengan pesaing seperti USDC atau produk dari raksasa keuangan tradisional seperti BlackRock, membuktikan bahwa penerimaan pengguna didorong oleh likuiditas dan kemudahan penggunaan, bukan oleh merek atau struktur tata kelola yang mendasarinya. Pada intinya, fenomena USDT melampaui Ethereum menyoroti pemisahan antara nilai utilitas (transfer dolar tanpa izin) dan nilai platform teknologi blockchain. Selama kebutuhan untuk aset dolar digital yang dapat diakses secara global ada, pasar stablecoin dapat terus tumbuh, terlepas dari kinerja token asli dari blockchain individual.

Foresight News1j yang lalu

Kapitalisasi Pasar USDT Menyusul Ethereum, Apa Sinyal yang Dikirimkan?

Foresight News1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片