Arizona Passes Bitcoin Reserve Bill, Becomes Second US State

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-05-08Terakhir diperbarui pada 2025-05-09

Abstrak

Arizona has enacted House Bill 2749, a measure that rewrites the state’s unclaimed-property code to cover cryptocurrencies and creates a...

Trusted Editorial content, reviewed by leading industry experts and seasoned editors. Ad Disclosure

Arizona has enacted House Bill 2749, a measure that rewrites the state’s unclaimed-property code to cover cryptocurrencies and creates a “Bitcoin & Digital Assets Reserve” funded entirely from abandoned digital holdings. Governor Katie Hobbs’ signature makes Arizona the second state after New Hampshire (whose House Bill 302 became law on May 6) to adopt a statutory framework for holding Bitcoin as part of public reserves, yet the Grand Canyon State is the first to require that unclaimed tokens be transferred to the state “in their native form,” rather than liquidated for cash.

Arizona Becomes Second In Bitcoin Race Among US States

HB 2749 passed both chambers with bipartisan support and was sponsored by Rep. Jeff Weninger, the Republican chair of the House Commerce Committee. In announcing the law, Weninger framed the legislation as a practical response to an economic reality that has already arrived. “Digital assets aren’t the future—they’re the present,” he said.

“This law ensures Arizona doesn’t leave value sitting on the table and puts us in a position to lead the country in how we secure, manage, and ultimately benefit from abandoned digital currency.” He added that the statute “protects property rights, respects ownership, and gives the state tools to account for a new category of value in the economy.”

Under the new statute, a digital asset is deemed abandoned if its owner fails to respond to three years of outreach. Once that threshold is met, the holder must remit the tokens—Bitcoin, Ether or any other cryptocurrency—directly to the Arizona Department of Revenue. The law authorizes qualified custodians to stake proof-of-stake assets, collect airdrops and harvest any other on-chain distributions generated by the unclaimed wallets.

All such revenue flows, together with any seized coins whose owners later emerge, are deposited into the Bitcoin and Digital Assets Reserve Fund, an account overseen by the State Treasurer and subject to ordinary legislative appropriation. Nothing in the text permits an appropriation from the state’s general fund or any other taxpayer-supported pool; in that respect, the measure is “budget-neutral,” as its backers emphasize.

The nonprofit Satoshi Action Fund, which provided technical assistance during the legislative drafting, hailed the enactment as a blueprint for other jurisdictions. “Arizona just showed the country how to turn forgotten assets into a fortress against inflation,” said Dennis Porter, the group’s chief executive. “With HB 2749, lawmakers converted dormant dollars into digital gold—without touching the taxpayer’s pocket. It’s a win for fiscal responsibility and for every Arizonan who believes in sound money.”

Not Like New Hampshire

Governor Hobbs’ approval comes four days after she vetoed Senate Bill 1025, a broader proposal that would have allowed the state to deploy existing public funds and seized property into Bitcoin investments. In her veto message, the governor expressed reservations about channeling public money into “untested assets.”

The narrower scope of HB 2749—restricted to property that the state already holds in trust for missing owners—apparently addressed those concerns. Observers now turn to Senate Bill 1373, waiting on Hobbs’ desk, which would authorize the Treasurer to allocate up to 10% of Arizona’s Budget Stabilization Fund to Bitcoin.

Arizona’s move follows New Hampshire’s entry into the Bitcoin race just one day earlier. Notably, the New Hampshire bill approved a Bitcoin Strategic Reserve allowing the state to invest up to 5% of total funds.

At press time, BTC traded at $99,348.

Bitcoin price
BTC inches closer to $100,000, 1-day chart | Source: BTCUSDT on TradingView.com
Featured image created with DALL.E, chart from TradingView.com
Editorial Process for bitcoinist is centered on delivering thoroughly researched, accurate, and unbiased content. We uphold strict sourcing standards, and each page undergoes diligent review by our team of top technology experts and seasoned editors. This process ensures the integrity, relevance, and value of our content for our readers.

Jake Simmons has been a Bitcoin enthusiast since 2016. Ever since he heard about Bitcoin, he has been studying the topic every day and trying to share his knowledge with others. His goal is to contribute to Bitcoin's financial revolution, which will replace the fiat money system. Besides BTC and crypto, Jake studied Business Informatics at a university. After graduation in 2017, he has been working in the blockchain and crypto sector. You can follow Jake on Twitter at @realJakeSimmons.

Bacaan Terkait

Lebih Dari Sekadar Kunci Pribadi: Dari Dompet, L2 hingga Rantai Pasokan, Bagaimana Melindungi Batas Keamanan Web3?

Juni lalu, dunia kripto mengalami serangkaian insiden keamanan yang melibatkan berbagai aspek ekosistem Web3. Serangan tidak hanya berfokus pada satu titik, tetapi meluas ke beberapa lapisan pertahanan. Ada tiga area utama yang terdampak: 1. **Keamanan Dompet di Luar Penyimpanan Kunci Pribadi**: Insiden pada dompet SecondFi di Cardano menunjukkan bahwa kelemahan dalam implementasi tanda tangan (signing) di tingkat perangkat lunak dompet dapat membocorkan kunci pribadi, meskipun pengguna tidak memberikan frasa pemulihan. Hal ini menekankan pentingnya komponen inti dompet yang bersumber terbuka (open-source) dan diperiksa ketat, serta kebiasaan memisahkan aset besar (di cold wallet) dari dompet untuk interaksi harian. 2. **Kompleksitas dan Risiko di Lapisan 2 (L2)**: Beberapa serangan pada L2 seperti Aztec dan Taiko menunjukkan bahwa keamanan L2 tidak hanya tentang biaya transaksi yang lebih murah. Risiko muncul dari kerumitan sistem, seperti celah dalam sirkuit bukti tanpa pengetahuan (ZK-proof) atau kompromi dalam proses verifikasi berbasis perangkat keras (SGX). Jaringan seperti Base juga mengalami gangguan ketersediaan. Pengguna disarankan untuk memahami mekanisme penyelesaian, menggunakan jembatan resmi, dan tidak menyimpan aset besar secara berlebihan pada L2 yang masih sangat baru. 3. **Serangan Rantai Pasok melalui Layanan Pihak Ketiga**: Kasus Polymarket mengungkap bahwa meskipun kontrak pintar aman, frontend atau dependensi pihak ketiga yang diretas dapat menyuntikkan skrip jahat ke situs web yang sah, mencuri aset pengguna. Ini menunjukkan bahwa "URL yang benar" tidak menjamin keamanan seluruh jalur interaksi. Pengguna harus menggunakan dompet terpisah untuk berinteraksi dengan DApp, selalu memeriksa detail transaksi sebelum menandatangani, dan waspada terhadap permintaan yang tidak biasa di situs web. Kesimpulannya, keamanan Web3 kini adalah tentang melindungi seluruh jalur interaksi, dari pembuatan kunci hingga penyelesaian di rantai. Kebiasaan keamanan terbaik melibatkan: **mengisolasi aset jangka panjang, menggunakan jumlah kecil untuk interaksi harian, memberikan izin (approval) minimum ke DApp asing, dan selalu memverifikasi operasi berisiko tinggi.** Pertahanan harus berkembang dari sekadar menjaga kunci pribadi menjadi serangkaian kebiasaan yang lengkap.

marsbit27m yang lalu

Lebih Dari Sekadar Kunci Pribadi: Dari Dompet, L2 hingga Rantai Pasokan, Bagaimana Melindungi Batas Keamanan Web3?

marsbit27m yang lalu

Apakah OpenAI Akhirnya Bisa Menguntungkan?

OpenAI dan Anthropic, dua raksasa model AI, bernilai hampir triliun dolar, mencerminkan ekspektasi tinggi investor terhadap prospek keuntungan mereka. Namun, pertumbuhan pendapatan tidak secara otomatis menghasilkan keuntungan. Sampai saat ini, tidak ada satu pun perusahaan model AI besar yang benar-benar menghasilkan laba bersih yang independen dari bisnis inti modelnya. Penelitian menunjukkan bahwa pasar API model AI saat ini berada dalam struktur kompetisi monopolistik. Jumlah pemain sangat banyak, konsentrasi pasar rendah, dan meskipun permintaan tumbuh pesat, pasokan juga meluas dengan cepat. Hal ini mengakibatkan persaingan harga yang ketat dan membuat sulit bagi perusahaan untuk mencapai profitabilitas berkelanjutan hanya dengan menjual token. Beberapa perusahaan mungkin meraih keuntungan jangka pendek melalui diferensiasi produk, tetapi hambatan teknologi terbatas, elastisitas harga permintaan tinggi, dan loyalitas pengguna rendah membuat keuntungan tersebut sulit dipertahankan. Dalam jangka panjang, pemain yang terus merugi akan tersingkir, mendorong pasar menuju struktur oligopoli. Namun, dalam pasar oligopoli, kemampuan untuk menghasilkan laba tetap tidak pasti. Hal ini bergantung pada apakah perusahaan bersaing melalui harga atau kuantitas. Tanpa koordinasi strategi atau diferensiasi yang efektif, laba berkelanjutan mungkin tetap sulit diraih. Kesimpulannya, meskipun nilai teknologi dan pertumbuhan permintaan model AI tidak diragukan, model bisnis "menjual token" murni tidak menjamin profitabilitas jangka panjang. Investor perlu mencermati valuasi perusahaan model AI dengan hati-hati. Perusahaan perlu memilih model bisnis dan segmen pasar secara strategis. Model seperti "AI+", yang menyematkan kemampuan AI ke dalam produk atau layanan yang sudah ada untuk meningkatkan nilai dan loyalitas pelanggan, mungkin menawarkan jalur menuju keuntungan yang lebih berkelanjutan.

marsbit36m yang lalu

Apakah OpenAI Akhirnya Bisa Menguntungkan?

marsbit36m yang lalu

Ilusi Bocah Jenius

Seorang mantan wirausahawan, eks-karyawan Huawei, dan mantan kepala ilmuwan, Li Bojie, mengalami malam tanpa tidur setelah wawancara dengan DeepSeek. Insiden ini dipicu oleh kecurigaan pengawas wawancara bahwa ia menyontek kode selama tes coding jarak jauh. Namun, inti masalah bukan pada prosedur teknis, melainkan pada kenyataan bahwa seorang "Genius Youth" Huawei ternyata sangat terdampak secara emosional oleh satu sesi wawancara biasa. Dalam sebuah wawancara, Li mengungkapkan bahwa DeepSeek baginya adalah "istana puncak piramida" di dunia teknologi Tiongkok. Penantian tiga minggu dan lima kali tindak lanjut untuk wawancara ini bukan sekadar mencari pekerjaan, melainkan sebuah upaya untuk mendapatkan konfirmasi identitas dan pembuktian bahwa ia masih relevan di pusat era teknologi saat ini. Yang menyakitkannya adalah perasaan "kesenjangan" atau *disconnect* antara ekspektasinya dan kenyataan yang diterimanya. Li menilai wawancara di perusahaan lain seperti MiniMax dan Xiaomi sebagai sesi pembelajaran dengan para sejawat, sedangkan wawancara di DeepSeek dirasakannya hanya sebagai proses penyaringan mekanis. Di sini terlihat ketidaksesuaian: meski menyatakan tidak nyaman dengan label "Genius Youth", ia secara tidak sadar mengharapkan perlakuan khusus sebagai seorang ahli. Industri internet selama ini telah membentuk aturan tak tertulis di mana gelar dan latar belakang perusahaan sebelumnya menjadi jaminan kredensial. DeepSeek, bagaimanapun, menolak aturan ini dan bersikeras pada proses standar—setiap kandidat, apa pun latarnya, harus membuktikan kemampuannya secara real-time melalui coding. Perubahan ini mencerminkan pergeseran era yang lebih besar di dunia AI. Di masa lalu, keunggulan seseorang diukur dari akumulasi pengalaman, gelar, dan prestasi masa lalu. Di era AI, pengetahuan menjadi cepat usang, dan keahlian harus terus-menerus diperbarui. Keunggulan kini dihitung secara *real-time*. Hal ini menciptakan kecemasan, terutama bagi mereka yang memiliki rekam jejak gemilang, karena takut tertinggal. Li Bojie mungkin adalah salah satu yang pertama mengungkapkan kecemasan ini secara terbuka. Namun, pesan utamanya adalah bahwa di masa depan, setiap profesional—pemrogram, manajer produk, peneliti—pada dasarnya akan menghadapi "wawancara" yang sama dengan era AI itu sendiri. Pertanyaan kritis yang harus dijawab setiap hari adalah: "Kamu hebat di masa lalu. Bagaimana dengan hari ini?"

marsbit1j yang lalu

Ilusi Bocah Jenius

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片